SUMENEP, RadarMadura.id– Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumenep telah memetakan daerah-daerah yang rawan kekeringan.
Namun, hingga saat ini belum ada permintaan air bersih dari masyarakat.
Kepala BPBD Sumenep Ach. Laily Maulidy menyampaikan, kalau berkaca dari tahun-tahun sebelumnya, Juli sudah banyak permintaan air bersih dari desa-desa, tetapi tahun ini situasinya berbeda.
Kondisi ini menunjukkan bahwa wilayah Kota Keris sampai saat ini masih aman dari bercana kekeringan.
”Sumenep saat ini masuk kategori kemarau basah, jadi kondisi kekeringannya belum terlihat secara nyata, jadi masih belum ada desa yang mengajukan permintaan air bersih,” katanya Kamis (14/8).
Meski begitu, Laily menuturkan, sebagai antisipasi instansinya tetap memetakan titik-titik rawan kekeringan di Sumenep.
Sebab, berdasarkan data tahun sebelumnya, 64 desa telah mengajukan permintaan air bersih akibat masuk dalam ketegori kering langka dan kering kritis.
”Kami memiliki dua kategori utama untuk menentukan desa yang berhak mendapat bantuan air.
Yakni, kering langka dan kritis, tahun lalu ada 64 desa yang kami layani, dan tahun ini potensi itu bisa meningkat,” tambahnya.
Sebab itu, dia meminta pada semua pemerintah desa untuk tetap melakukan pemantauan terhadap sumber-sumber air bersih di wilayahnya.
Sehingga, apabila terjadi penurunan signifikan terhadap debit air dapat segera dilaporkan, dan bantuan dapat segera disalurkan.
”Sebagai antisipasi, saat ini kami mulai mempersiapkan distribusi bantuan ke desa-desa terdampak kekurangan air bersama perusahaan air minum daerah (PDAM) Sumenep,” tutupnya. (tif/luq)
Editor : Amin Basiri