SUMENEP, RadarMadura.id – Berkarya adalah cara seorang seniman berkomunikasi dengan semesta. Hal itulah yang juga ingin dicapai oleh dua perupa asal Kabupaten Sumenep dalam pameran yang bertajuk Berdua Kita Utuh.
Seekor sapi betina berdiri, di bawahnya terdapat lima ember yang siap untuk mewadahi perahan susu sapi itu. Di sekelilingnya terdapat sejumah orang yang sedang nongkrong dan sebagian lainnya sedang berjalan.
Itu tergambar dalam lukisan berjudul Rekasapi karya pelukis Tamar Saraseh. Lukisan itu menyambut setiap pengunjung yang memasuki ruang pameran di Hotel Suramadu, Jalan Trunojoyo, Desa Kolor, Kecamatan Kota Sumenep.
Di sudut lain, ada tiga orang pria saling merangkul, dua di antaranya memegang keris. Lukisan ini seakan menyambut sejumlah pengunjung yang ingin menikmati pameran. Lukisan berukuran 130x140 sentimeter itu berjudul Peace and Brotherhood, juga karya dari Tamar Saraseh.
Ketika menyusuri hotel tersebut, para pengunjung seolah dibawa memasuki berbagai situasi dan kondisi yang berbeda. Sesekali pengunjung diajak untuk menemui seorang empu yang sedang memegang keris dalam lukisan karya Sumantri Hotsu yang berjudul Empu.
Lalu, pengunjung seolah dilempar pada meja perjamuan dengan pramusaji yang siap melayani seluruh pengunjung dalam lukisan Tamar Saraseh. Karya dua pelukis itu memiliki ciri khas yang jauh berbeda.
Lukisan-lukisan Sumantri Hotsu yang dipamerkan memiliki corak warna yang lebih tegas. Sementara Tamar Saraseh lebih kalem seakan ingin mengungkap sisi kelembutan manusia sebagai seorang hamba. Hal itu bisa dilihat dari banyak lukisannya yang menampilkan seseorang yang sedang menjadi pelayan.
”Pameran ini digelar untuk lebih menghidupkan ekosistem berkesenian di Kabupaten Sumenep,” kata Tamar Saraseh saat ditemui Jawa Pos Radar Madura (JPRM) di lokasi pameran, Jumat (13/6).
Tamar menuturkan, sekitar 40 lukisan yang dipamerkan. Tema Berdua Kita Utuh dipilih karena secara kebetulan yang melakukan pameran dua orang. Yakni, dirinya dengan Sumantri Hotsu. ”Kebetulan kali ini hanya kami berdua yang siap melakukan pameran,” ucapnya.
Dia menjelaskan, lukisan-lukisan yang dipamerkan lebih menekankan nilai spiritual dan kejiwaan manusia secara umum. Itu bisa dilihat dari banyaknya lukisan yang menggambarkan seorang pramusaji. Menurut dia, filosofinya adalah pribadi manusia yang lebih baik melayani daripada dilayani.
”Dalam melukis, saya membebaskan diri. Saya ingin menggambarkan manusia secara umum, tidak harus berkarakter Madura ataupun lainnya,” jelasnya.
Tamar mengaku lebih suka melukis yang rumit-rumit. Kalau dari segi visual, dia mengatakan lebih suka melukis dengan komposisi yang berdesak-desakan. Sehingga, suasana yang dibangun dalam lukisannya tampak ramai.
”Kalau Sumantri Hotsu lukisannya dari segi warna lebih ekspresif dan lebih tegas,” ungkapnya.
Tamar menilai, pameran seperti ini merupakan hal yang seharusnya dilakukan oleh seniman rupa, sebagai tindak lanjut dari proses kreatif yang telah dijalani. ”Pameran bukan hal yang istimewa. Ini memang keharusan sebagai tahap selanjutnya dari proses seorang seniman,” ujarnya.
Meski begitu, dia tidak memungkiri kedahsyatan media sosial dalam menginformasikan berbagai hal, termasuk karya seni. Karena itu, dirinya juga mem-posting berbagai karyanya di berbagai platform media sosial, seperti Facebook dan Instagram.
”Saya juga mengunggah di media sosial, karena selain jangkauannya lebih luas, para penikmat karya seni juga bisa menikmatinya tanpa harus datang ke sini,” tutupnya. (tif/bil)
Editor : Hera Marylia Damayanti