SUMENEP, RadarMadura.id – Polemik dugaan mark-up data kemiskinan di Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Sumenep menjadi perhatian banyak pihak. Karena itu, komisi IV DPRD akan memanggil dinas terkait.
Masyarakat miskin yang terdata di DTKS Dinsos P3A Sumenep berbeda jauh jika dibandingkan dengan yang tercatat di badan pusat statistik (BPS). Buktinya, BPS mencatat warga miskin di Kota Keris sebanyak 196.420 jiwa.
Sedangkan di DTKS tercatat 647.000 jiwa. Akurasi data yang bermasalah tersebut dinilai mengancam distribusi bantuan kepada yang berhak menerima.
”Masalah ini sudah lama menjadi perhatian kami, bahkan sebelum rekan-rekan mahasiswa datang melakukan aksi ke kantor DPRD,” ujar Ketua Komisi IV DPRD Sumenep Mulyadi.
Ada beberapa problem yang berkaitan dengan masyarakat miskin. Salah satunya, masalah bantuan sosial (bansos) yang tidak tepat sasaran. Selain itu, penerima bantuan sudah tidak ada alias meninggal. ”Situasi ini harus dibenahi dan dievaluasi secara menyeluruh,” tegasnya.
Pihaknya sudah merencanakan pemanggilan terhadap koordinator kabupaten (korkab) program keluarga harapan (PKH) serta pendamping sosial. Tujuannya, memecahkan masalah data kemiskinan.
”Kesalahan bukan pada datanya, melainkan pada prosesnya yang sering kali tidak objektif. Ini menyangkut persoalan keadilan sosial,” ujarnya.
Mulyadi menambahkan, dalam berbagai forum perencanaan seperti musyawarah perencanaan pembangunan kecamatan (musrenbangcam) telah menyuarakan isu kemiskinan. Namun, akar persoalan yang sebenarnya terletak pada data.
”Data itu kan dihimpun dari level desa, diteruskan ke kabupaten, lalu dikompilasi oleh kementerian. Jadi, ini adalah problem sistemik yang harus dibenahi dari hulu ke hilir,” sambungnya.
Sekretaris Dinsos P3A Sumenep Kusmawati menilai wajar data kemiskinan DTKS tidak sama dengan BPS karena bisa dipengaruhi waktu.
”Misalnya, data yang dari dinsos P3A pada Desember, sedangkan mahasiswa menerima data di BPS misalnya Maret, otomatis ada perbedaan. Jangankan beda bulan, beda hari saja bisa berbeda datanya,” ucapnya. (tif/jup)
Editor : Ina Herdiyana