SANTRI Ponpes Sumber Mas harus bisa mengamalkan ilmu pengetahuan yang sudah dipelajari di pesantren kepada masyarakat.
Mereka dikirim ke berbagai daerah terpencil yang membutuhkan tenaga pendidik.
Ketua Pengurus Ponpes Sumber Mas Nailur Ridha mengatakan, para santri yang telah selesai menjalani masa pendidikan di pesantren harus memenuhi kewajiban mengabdikan diri pada masyarakat selama setahun.
Mereka dikirim ke daerah terpencil yang membutuhkan tenaga pendidik. Program tersebut disebut dengan lembaga pengabdian masyarakat (LPS).
”Sebelum diterjunkan ke masyarakat, para santri telah dibekali dengan berbagai keilmuan, mulai ilmu agama dan kemasyarakatan,” katanya.
Dia mengungkapkan, berbagai ilmu pengetahuan dipelajari santri selama di pesantren.
Termasuk belajar kitab kuning seperti Fathul Qorib, Tafsir Al-Jalalain, Riyadhus Shalihin, dan yang lainnya.
”Selain belajar ilmu agama, para santri juga belajar berbagai disiplin keilmuan, seperti kepramukaan, kesenian, dan bahasa asing,” ungkapnya.
Ridha menyampaikan, setiap pagi para santri belajar di sekolah formal. Ketika sore hingga malam hari, mereka mengikuti berbagai kegiatan pesantren.
Di antaranya, sekolah diniyah dan belajar kitab kuning. Pada hari libur, kegiatan santri biasanya diisi dengan kegiatan kepramukaan dan kesenian.
”Rutinitas itu terus berkesinambungan setiap har. Sehingga, mereka sudah siap ketika diterjunkan ke masyarakat untuk mengamalkan ilmu yang sudah dipelajari,” paparnya.
Ridha menjelaskan, dalam pembelajarannya, pesantren ini tetap mempertahankan ciri khas sebagai pesantren salafi.
Metode yang digunakan ialah hafalan, sorogan, dan sebagainya. Metode tersebut disesuaikan dengan materi yang diajarkan.
”Kegiatan-kegiatan itu hanya bisa didapatkan oleh para santri yang bermukim di pesantren, baik santri putri maupun putra. Kegiatannya hampir sama,” tandasnya. (tif/bil)
Editor : Fatmasari Margaretta