SUMENEP, RadarMadura.id – Terdapat 65 puskesmas pembantu (pustu) di bawah naungan Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Sumenep. Namun, sepuluh pustu di antaranya rusak berat dan tidak aktif.
Kepala Dinkes P2KB Sumenep Ellya Fardasyah menyatakan, layanan kesehatan di pustu hanya pemeriksaan dasar.
Misalnya, poliklinik umum dan pemeriksaan kesehatan ibu dan anak. Dengan demikian, masyarakat lebih banyak datang ke puskesmas ketika ingin mendapat layanan kesehatan.
”Sarana dan prasarana di beberapa pustu sudah rusak. Selain itu, SDM-nya terbatas. Jadi, perawat dan bidang pustu kami fokuskan di puskesmas,” ujarnya Rabu (31/7).
Minimnya angka kunjungan ke layanan jejaring puskesmas itu membuat beberapa pustu di Kota Keris tidak terurus sehingga rusak parah dan tidak beroperasi.
Sedangkan lembaganya tidak dapat melakukan rehabilitasi 10 pustu rusak karena terkendala anggaran.
”Untuk saat ini, kami belum bisa memperbaiki karena terkendala anggaran,” sambungnya.
Ellya memaparkan, sepuluh layanan jejaring puskesmas yang rusak yaitu Pustu Beluk Kenek, Kecamatan Ambunten; Pustu Juruan Laok, Kecamatan Batuputih; dan Pustu Beraji, Kecamatan Gapura.
Kemudian, Pustu Nyabakan Timur, Kecamatan Batang-Batang; Pustu Gadu Timur, Kecamatan Ganding; Pustu Kombang, Kecamatan Talango; dan Pustu Mading Daya, Kecamatan Manding. Lalu, Pustu Tanjung dan Talang, Kecamatan Saronggi, serta Pustu Larangan Pereng, Kecamatan Pragaan.
Ketua Komisi IV DPRD Sumenep Akis Jasuli meminta memaksimalkan pustu yang saat ini beroperasi. Pihaknya mendesak pemkab merevitalisasi pustu yang rusak berat dan tidak terurus.
Juga harus dilengkapi sarana dan prasarana (sarpras) yang memadai. ”Ke depan harus diperbaiki. Dengan demikian, pustu itu tidak sekadar ada, tetapi lengkap dengan fasilitasnya,” terangnya. (c1/jup)
Editor : Ina Herdiyana