SUMENEP, RadarMadura.id – Pembangunan tugu keris di perbatasan Sumenep–Pamekasan, tepatnya di Desa Sendang, Kecamatan Pragaan, sedang dikerjakan.
Anggaran proyek senilai Rp 2,5 miliar itu melekat di dinas pekerjaan umum dan tata ruang (DPUTR).
Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo mengatakan, pihaknya membangun tugu keris untuk menegaskan identitas Sumenep sebagai Kota Keris.
Julukan itu diberikan secara resmi oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO).
”Kami memiliki empu terbanyak sedunia. Itu secara resmi diakui UNESCO,” kata Fauzi kepada JPRM Minggu (7/7).
Dia menyatakan, tugu keris tersebut akan menjadi ciri khas Kabupaten Sumenep.
Termasuk, sebagai bentuk apresiasi dan dorongan bagi para empu keris agar tetap berupaya menjaga kekayaan budaya lokal.
”Branding itu penting agar masyarakat di luar tahu apa keunikan-keunikan yang dimiliki Sumenep. Termasuk dari kekayaan lokalnya,” paparnya.
Budayawan Sumenep Ibnu Hajar memberi respek tinggi atas ide yang dicetuskan Bupati Fauzi untuk membuat tugu keris.
Apalagi lembaga dunia mengakui bahwa Sumenep memiliki empu keris terbanyak. Desa Aeng Tongtong, Kecamatan Saronggi, menjadi sentra produksi keris.
”Ini bagian dari penghargaan atas karya dan produk kebudayaan masyarakat Sumenep,” kata dia.
Baca Juga: Bisa Atasi Risiko Kanker, Ternyata Buah Leci Punya Kandungan Nutrisi Ini
Menurutnya, upaya yang dilakukan Pemkab Sumenep dalam meneguhkan identitas kebudayaan Kabupaten Sumenep perlu diapresiasi.
Pembangunan tugu keris yang tingginya mencapai 17 meter itu menyerupai bentuk aslinya.
”Saya pikir (tugu keris) sangat luar biasa. Pantas jika Muri merespons tugu keris tersebut,” tukasnya. (di/bil)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti