SUMENEP, RadarMadura.id — Orang Madura tidak akan asing dengan ketupat atau topa'. Sebab, selain menjadi makanan, ketupat bagi orang Madura punya nilai tradisi yang sangat kental. Tidak jarang ditemukan masyarakat Madura tidak bisa lepas dari ketupat.
Pemerhati budaya Sukri Tusyi mengatakan, ketupat dalam bahasa Madura topa' yang memiliki arti sangat dalam. Sebab, bahasa Madura kaya dengan kereta basa.
”Kalau topa' itu, artinya mamonto tabu' se kepa'. Sama seperti nase', maperna tabu se mosse'. Jadi tidak hanya ada sebagai kosakata, tapi ada maksud tertentu,” tutur Sukri kepada JPRM, Minggu (7/4).
Sukri menuturkan, jenis ketupat di Madura beragam. Bahkan, setiap jenis itu memiliki filosofi yang berbeda-beda. Penyebutan nama atau jenisnya diikutkan pada bentuk. Misal, topa' jaran yang berbentuk mirip kuda.
Baca Juga: Kaldu Khas Bangkalan Dimasak tanpa Minyak, Perpaduan Kokot dan Kacang Merah Bikin Tambah Nikmat
Menurut Sukri, ketupat itu memang kental dengan tradisi Nusantara. Terutama masyarakat Islam. Konon, ketupat itu merupakan warisan Sunan Kalijaga.
”Ini warisan para auliya, jadi ada makna-makna spiritual dan filosofinya tersendiri. Saya mungkin hanya bisa membatasi pada ketupat yang dikenal orang Madura, kalau di Jawa saya kurang paham,” jelasnya.
Pertama, yakni topa' toju'. Topa' toju' ini berbentuk segi empat. Disebut topa' toju' karena ketika diletakkan seolah-olah terlihat seperti orang yang sedang duduk.
Sedangkan filosofinya adalah transendensi ketika manusia sedang bermunajat kepada Sang Khalik.
Baca Juga: Nalektegi Tellasan Topa’
Kedua, yakni topa' babang. Jenis yang satu ini memiliki tiga sisi dan ujungnya menjuntai ke atas. Tiga sisi itu memiliki makna yang sangat sufistik. Yakni, Islam, iman, dan ihsan. Sedangkan ujung yang menjuntai ke atas itu dimaknai sebagai jalan manusia kepada Tuhannya.
Ketiga adalah topa' masjid. Topa yang satu ini memiliki bingkai di atasnya berbentuk seperti kerucut. Topa' masjid oleh orang Madura sering disajikan terutama pada saat peringatan hari-hari besar Islam. Terutama di malam ke-21 ketika bulan Ramadan atau yang dikenal dengan sebutan malem salekoran.
Topa masjid disajikan biasanya dengan apem atau apen dalam kosakata bahasa Madura. Keduanya bermakna dalam kalimat petotor se sepa' dan ator-mator pajeppen.
Yang keempat adalah topa' jaran. Jaran berasal dari bahasa Madura yang berarti kuda. Pembuatan topa' jaran diniatkan agar anak-anak atau orang yang melihatnya mengenal aspek yang lain, yakni hewan dan tetumbuhan.
Topa' yang bahannya terbuat dari daun siwalan atau daun kelapa muda disimbolkan sebagai tetumbuhan. Sedangkan jaran disimbolkan sebagai hewan.
Hal itu berarti, bahwa manusia hidup juga berdampingan dengan alam. Hewan serta tetumbuhan itu bagian dari semesta yang harus sama-sama dirawat dan dijaga kelestariannya. Hablum min al-alam.
Yang kelima adalah topa' lobar. Lobar bermakna selesai atau tidak ada. Jenis topa' yang satu ini memiliki simbol keharmonisan calon pengantin. Topa' lobar kerap dipakai seorang laki-laki ketika meminang perempuan.
Dari pihak keluarga laki-laki membawa topa' dan lainnya untuk dihaturkan kepada keluarga si perempuan. Kemudian topa tersebut dibiarkan selama proses pertunangan sedang berjalan.
Baca Juga: Seorang Pria Di Sampang Dibacok OTK, Polisi Lakukan Olah TKP dan Visum
Akan tetapi, jika di tengah-tengah perjalanan mereka gagal, pihak perempuan akan membelah topa tersebut sebagai simbol kegagalan dan ketidakharmonisan.
Pria asal Kecamatan Gapura, Sumenep, itu menambahkan, pada fisik ketupat pun juga ada makna tersendiri. Misalnya, daun kelapa muda atau daun siwalan yang akan dirajut menjadi ketupat itu disebut sebagai orong. Orang Madura mengartikan orong sebagai dimensi fisik atau raga.
Ketika direbus, maka orong itu akan layu, berubah warna kekuning-kuningan, dan menjadi tidak menarik. Tetapi, itu mengajarkan kepada manusia agar melihat sesuatu tidak dari sisi tampilannya. Sebab, di dalam orong itu ada isi yang bisa dinikmati dan menjadi kebahagiaan bersama, yang disebut sebagai isi atau esse.
Baca Juga: D. Zawawi Imron: Bagi Masyarakat Madura Lebaran Itu Hari Paling Bergairah
Di mana-mana ketupat pasti diisi dengan beras atau berras yang sudah melalui proses pencucian. Berras dalam kereta basa berarti somberra oreng baras.
”Kira-kira seperti itu. Jadi ketupat itu memiliki makna yang dalam kalau bisa kita kaji. Tapi, apakah masih ada yang tahu, itu menjadi tantangan generasi hari ini,” pungkas guru di Yayasan Mambaul Ulum Gapura itu. (di/luq)
Editor : Hendriyanto