SUMENEP, RadarMadura.id – Pandangan apa yang pertama muncul dalam benak pembaca saat mendengar kata ”perkumpulan janda”? Mungkin ada yang memberikan pengertian kurang baik dan berkonotasi negatif.
Komunitas janda dibentuk untuk menepis pandangan negatif. Berbagai kegiatan positif dilaksanakan. Salah satunya berupa pemberdayaan terhadap masyarakat dan santunan untuk anak yatim.
Hal itu dilakukan untuk membuktikan bahwa janda memiliki kemerdekaan yang sama dengan perempuan pada umumnya. Sangat tidak pantas jika perempuan yang berstatus sebagai janda dipandang dengan konotasi negatif.
Organisasi perkumpulan janda itu diberi nama Komunitas Perempuan Hebat Sumenep. Sebagai salah satu kegiatan positif, komunitas tersebut menggelar acara Ngobrol Penuh Inspirasi dan Khotmil Quran (Ngopi Milan) di Pendopo Agung Keraton Sumenep, Minggu (7/1).
Forum yang dihadiri puluhan janda itu mengusung tema Peran Perempuan Single Parents Bersama Komunitas Perempuan Hebat Sumenep dalam Perspektif Agama, Sosial, Budaya, Psikologi, Karier, dan Prinsip. Panitia menghadirkan tiga narasumber. Yakni, Pemimpin Redaksi Jawa Pos Radar Madura Lukman Hakim AG, aktivis perempuan Nunung Fitriana, dan Ketua Umum Komunitas Perempuan Hebat Sumenep Megawati.
Megawati menceritakan secara singkat Komunitas Perempuan Hebat Sumenep. Inisiatif untuk membentuk komunitas janda dilakukan mulai 2019. Awalnya muncul karena karyawan outsourcing pelipat surat suara pemilu di gudang KPU Sumenep sudah tidak bekerja. Mayoritas karyawan tersebut berstatus single parents alias janda dan pemuda lulusan sekolah menengah atas (SMA).
Kondisi tersebut menarik perhatian Mohammad Zairi, warga Desa Kasengan, Kecamatan Manding. Kebetulan, saat Pemilu 2019 dia dipercaya menjadi petugas yang menangani logistik. Zairi menganggap karyawan outsourcing pelipat surat suara pemilu yang mayoritas janda perlu dibimbing dan diberdayakan.
”Pak Zairi dengan dukungan istrinya, Ibu Hartatik, membentuk Komunitas Janda Muda Mulia (KJ2M),” ungkapnya. Zairi mengumpulkan anggota komunitas dalam satu grup WhatsApp pada 16 Agustus 2021. Keinginan baiknya tidak berjalan mulus. Banyak cibiran yang dilemparkan kepada Zairi.
”Bahkan ada sindiran halus, jika ingin cari janda, hubungi Zairi. Bahkan, Pak Zairi disebut sebagai Abu Janda atau bapaknya para janda,” tutur Megawati.
Meski begitu, tekad baiknya untuk membimbing dan memberdayakan janda terus dilanjutkan. Pada akhir Desember 2021, KJ2M berubah nama menjadi Great Widow Community (GWC) atau Komunitas Janda Hebat.
Saat itu, Megawati sebagai ketua umum, I Gusti Ayu sebagai sekretaris, dan Ratnawati sebagai bendahara. Tidak lama kemudian, Ayu dan Ratna menikah sehingga memutuskan untuk keluar.
GWC kembali berubah nama menjadi Komunitas Perempuan Hebat Sumenep pada 4 April 2022. Komunitas tersebut resmi berbadan hukum dan memiliki sertifikat dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkum HAM). Megawati tetap sebagai ketua, Faizah sebagai wakil ketua, Nurwaida sebagai sekretaris, dan Rini Eka Fitriyah sebagai bendahara.
”Kami konsisten melaksanakan Ngopi Milan tiap akhir bulan. Sekaligus memberikan santunan kepada anak yatim dan membagikan beasiswa untuk anak-anak anggota GWC,” tegas Megawati. (bus/luq)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Ina Herdiyana