Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Refleksi Hari Jadi Ke-754 Sumenep (3–Habis): Arya Wiraraja Seorang Ahli Geopolitik

Ina Herdiyana • Selasa, 31 Oktober 2023 | 16:59 WIB

SYARIF HIDAYAT SANTOSO
SYARIF HIDAYAT SANTOSO
 

OLEH SYARIF HIDAYAT SANTOSO

RadarMadura.id – Bagaimana Wiraraja membangun geopolitik Majapahit? Tulisan ini akan mencoba menelusuri. Majapahit memiliki kebesarannya justru bermula dari usulan Wiraraja yang mungkin bagi kita dianggap sederhana.

Kita ketahui bahwa Wiraraja mengajukan satu ide kepada Wijaya agar meminta kepada Jayakatwang Hutan Tarik di Krian sebagai desa yang akan dibangun sebuah kawasan baru, yakni Majapahit. Meski telah terjadi pergeseran ibu kota Majapahit menuju Trowulan, Hutan Tarik yang dibabat alas menjadi Majapahit memiliki nilai politik tersendiri.

Hutan Tarik pada dasarnya memiliki makna politik sekaligus makna ekonomi. Posisinya di persimpangan Kali Mas dan Kali Porong serta memiliki kohesi dengan Kali Brantas menarik untuk dikaji. Lalu, mengapa ibu kota kerajaan baru itu harus sama sekali baru? Di sini terlihat betapa luas pandangan Wiraraja.

Wiraraja tak mengusulkan kawasan baru itu dibangun di Tumapel, ibu kota Singasari, kediaman Wijaya sebelumnya. Wiraraja juga tak mengusulkan agar Wijaya berdiam selamanya di Daha, ibu kota Kediri, bersama Jayakatwang.

Bahkan, Wiraraja tak mengusulkan Wijaya untuk memilih wilayah Majapahit yang lain yang lebih dulu ada, semisal Wengker, Blambangan, Matahun, Pajang, atau bekas ibu kota Mataram Hindu di Jawa Tengah. Wiraraja juga tak mengusulkan ibu kota itu dibangun di bekas ibu kota Kahuripan yang pernah dibangun Prabu Airlangga.

Wiraraja tahu bahwa Majapahit harus berdiri dengan semangat politik baru yang bebas dari dendam lama. Karena itu, Majapahit harus merdeka dari afiliasi politik Singasari maupun Daha.

Majapahit harus dibangun atas semangat persatuan, bukan konflik. Maka, sangat bagus usulan Wiraraja agar Wijaya mau menampung baik orang-orang Daha pengikut Jayakatwang maupun sisa-sisa pengikut Kertanegara dari Singasari, selain tentunya pendukung baru dari Madura.

Pemindahan ibu kota kerajaan pada dasarnya juga merupakan hal yang biasa dalam sejarah Jawa. Pada awalnya, pusat kekuasaan Jawa ada di Jawa Barat, yaitu Tarumanegara, kemudian pindah ke Jawa Tengah pada masa Mataram Hindu.

Kemudian, pindah lagi ke Jawa Timur di masa Mpu Sindok di dekat hulu Sungai Brantas, pindah lagi ke Kediri ketika Airlangga membagi Kerajaan Kahuripan menjadi dua, Kediri, dan Panjalu. Pindah lagi ke Tumapel Singasari di masa Ken Arok, kemudian pindah ke Majapahit.

Di masa Islam, ibu kota juga berpindah-pindah sejak Demak, Pajang, Kota Gede, kemudian ke Plered, Kartasura, dan Solo. Di masa kemudian balik lagi ke Jawa bagian barat (Batavia/Jakarta).

Apa pelajaran yang bisa kita petik dari pendirian ibu kota baru ini? Hikmahnya, kita jangan terlarut dalam kebesaran masa lalu. Kita jangan selalu menjadikan masa lalu sebagai acuan.

Jawa sebelum Majapahit memang sudah flamboyan. Ada Mpu Sindok yang membangun ibu kota Medang. Ada Airlangga yang membangun ibu kota Kahuripan. Ada Ken Arok yang membangun Tumapel, ibu kota Singasari yang melahirkan raja-raja besar sejak Wisnuwardana sampai Kertanegara.

Ada Daha, ibu kota Kediri yang melahirkan Jayabaya, Kameswara, Srengga Kertajaya, dan Sarweswara. Namun, Wiraraja mengajarkan semangat baru.

Wiraraja seakan berkata, ”Masa lalu yang bagus mari kita lanjutkan dengan nilai dan prestasi baru yang lebih bagus. ”Wiraraja tak mengusulkan Kahuripan, Daha Kediri, atau Tumapel Singasari karena semua itu punya beban politik.

Kahuripan punya beban politik warisan Medang, di mana terjadi konflik Wurawari dengan Darmawangsa, Daha Kediri atau disebut juga Gelang-Gelang punya beban konflik politik dengan Panjalu, kemudian dengan Singasari, sedang Tumapel Singasari juga punya beban konflik dengan Kediri.

Majapahit harus bebas beban konflik politik. Dipilihnya Tarik memiliki keunggulan geopolitik lain selain nilai bebas konflik. Ada nilai keseimbangan, di mana wilayah ini dapat dikategorikan daerah pedalaman, tetapi tidak terlalu ke selatan, juga dekat dengan wilayah pesisir, tetapi tidak terlalu ke utara sampai dekat pantai.

Wilayah dengan tipologi ini menunjukkan semangat gabungan antara agrarisme dan maritimisme. Harus ada keseimbangan antara pembangunan pertanian dan kelautan. Inilah fondasi politik Majapahit.

Berkat ibu kota baru yang awalnya di Tarik kemudian bergeser ke Trowulan, Majapahit memancing lahirnya daerah-daerah baru. Majapahit memancing Churabaya (Surabaya) dan pelabuhan lainnya berkembang.

Majapahit juga memancing lahirnya peradaban sungai. Menurut catatan Negarakertagama, terdapat 74 desa tepi sungai yang hidup sepanjang Kali Brantas dan Bengawan Solo di masa Hayam Wuruk.

Bisa dibayangkan, seandainya Majapahit dibangun di Tumapel, maka takkan merangsang lahirnya desa-desa tepi sungai dan melemahkan pembangunan maritim. Pun seandainya Majapahit dibangun di Sidayu atau Churabaya, maka akan lemah terhadap pembangunan agraris.

Majapahit awal di masa Wiraraja masih hidup juga mengenal konsep geopolitik seperti Angasraya. Ini konsep politiknya Kertanegara ketika ingin menguasai Nusantara. Pada dasarnya, konsep ini ditentang Wiraraja.

Namun, penentangannya bukan pada ide Kertanegara untuk menyatukan Nusantara. Wiraraja menentang Kertanegara karena Kertanegara berlebih-lebihan dalam mengerahkan tentara Singasari pada ekspedisi Pamalayu ke Sumatra yang melemahkan kekuatan militer dalam negeri.

Justru, Wiraraja dan Wijaya memperkuat kesatuan Jawa-Madura yang di masa kemudian disebut Dwipantara. Pada awalnya, Dwipantara dimaknai sebatas Jawa-Madura saja, tetapi kemudian berubah menjadi Jawa-Madura-Sunda. Lalu, berubah menjadi Nusantara-India-Cina.

Inilah konsep internasional yang dilahirkan Majapahit. Tak hanya itu, Majapahit juga melahirkan konsep geopolitik baru yang lebih kecil seperti Nuswantara yang bermakna wilayah Indonesia sekarang dan konsep Deswantara yang bermakna Asia Tenggara sekarang.

Posisi ibu kota Majapahit ini memudahkan konsolidasi internasional. Jauh sebelum Majapahit, Jawa sudah mengadakan hubungan internasional dengan Cina, India, dan Arab.

Di masa Dyah Balitung zaman Mataram Hindu, Jawa sudah mengadakan hubungan dengan Cina. Di masa Ratu Shima, Jawa pun sudah berhubungan dengan Kekhalifahan Ummayah di Arab.

Di masa Majapahit hubungan internasionalnya menyebar ke seluruh dunia. Letak Majapahit yang ditunjuk Wiraraja juga mengandung unsur pertahanan laut yang kuat. Majapahit dilindungi kota-kota pantai yang kokoh sehingga invasi asing sukar untuk masuk.

Wiraraja dalam tataran ini sepertinya sudah matang memikirkan bahwa Majapahit akan berhadapan dengan Mongol yang baru saja diusir. Karena itu, Majapahit tetap menang ketika berhadapan dengan Mongol dalam ekspedisi Pamongol.

Majapahit yang baru juga menumbuhkan pelabuhan dagang sejak Cirebon di Jawa Barat sampai Katapang di Banyuwangi. Kini terlihat bahwa konsep geopolitik Nuswantara, Deswantara, kemudian Dwipantara terpakai di zaman modern ini.

Lihatlah baik-baik bahwa dengan konsep Nuswantara, Indonesia meneguhkan NKRI-nya. Dengan konsep Deswantara, Indonesia memperkuat politik luar negerinya melalui ASEAN. Konsep Dwipantara meneguhkan posisi Indonesia terhadap Cina dan India.

Berkaitan dengan Cina dan India, kita teringat mendiang Gus Dur yang menyebut kelebihan dua bangsa ini. Cina maju dalam hardware, sedangkan India maju dalam software.

Konsep Dwipantara yang menjabarkan hubungan Nusantara dengan Cina dan India terlihat dalam politik BRICS akhir-akhir ini, di mana Cina dan India bersama Rusia, Brasil, dan South Africa membentuk forum ini. Itu menunjukkan betapa hebatnya Wiraraja.

Meski hanya mengusulkan sebuah Hutan Tarik untuk dibabat menjadi kawasan baru, tetapi memiliki fungsi jauh ke depan yang dilanjutkan para penguasa Majapahit, terutama Hayam Wuruk dan Gajah Mada. Bahkan, fungsi ini terlihat di masa modern ini. (*)

*) Pemerhati sejarah, alumnus Fisip Unej

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Ina Herdiyana
#Keraton #jayakatwang #wiraraja #raja sumenep #Deswantara #singasari #sejarah #hari jadi #kota keris #Nuswantara #Wijaya #kota tua kalianget #radar madura #Majapahit