SUMENEP, RadarMadura.id – Di saat puluhan desa menyandang status miskin ekstrem, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Sumenep justru mengalokasikan anggaran belanja makanan dan minuman (mamin) cukup fantastis. Buktinya, mencapai Rp 1,1 miliar lebih dalam setahun.
Untuk biaya mamin rapat saja, uang yang harus dikucurkan mencapai puluhan juta. Contohnya, saat fasilitasi bulan bakti gotong royong yang menghabiskan anggaran sebesar Rp 74,5 juta dan peningkatan kapasitas GOW sebesar Rp 38.000.000.
Juga, anggaran mamin peserta pembinaan desa dan operator senilai Rp 26.400.000. Kemudian, mamin panitia dan narasumber pembinaan desa sebesar Rp 6.240.000. Anggaran mamin tersebut dialokasikan untuk belanja kue/snack, nasi kotak, dan jamuan tamu berupa nasi dan kue prasmanan.
Kepala DPMD Sumenep Anwar Yusuf Syahroni, mengaku tidak tahu pasti berapa anggaran mamin yang dimiliki institusinya. Saat dikonfirmasi mengenai nominalnya, dia menyatakan perlu melihat data. ”Mengenai nominal, saya perlu ngecek lagi di kantor,” katanya.
Anwar menyatakan belum bisa menjelaskan realisasi dan peruntukan belanja mamin sebelum melihat data. Namun yang jelas, apa yang telah direncanakan dalam RKA tentunya sudah sesuai kebutuhan. ”Saya akan coba lihat lagi rekapannya, supaya jelas di mana pos-pos anggaran yang Sampeyan maksud,” pungkasnya.
Anggota Komisi I DPRD Sumenep Suroyo menyesalkan anggaran mamin di DPMD mencapai Rp 1 miliar lebih. Dia menyarankan DPMD melakukan rasionalisasi anggaran. Apalagi, saat ini sedang dilakukan pembahasan PAK APBD perubahan. Pos anggaran yang tidak penting sebaiknya dialihkan untuk hal yang lebih urgen.
”Kalau lebih dari Rp 1 Miliar, sebaiknya dirasionalisasi lagi. Dialihkan pada program yang lebih penting. Misalnya seperti program pengentasan kemiskinan ekstrem,” tandasnya. (via/yan)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Berta SL Danafia