RAAS, RadarMadura.id – Pelaksanaan program layanan kesehatan (Yankes) Bergerak Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur (Dinkes Jatim) berjalan sukses. Kegiatan itu berlangsung di Pulau/Kecamatan Raas, Sumenep mulai Rabu-Jumat (13-15/9).
Tim yankes baru meninggalkan Pulau Raas pada Sabtu (16/9). Selama pelaksanaan pengobatan, program ini mendapat banyak respons positif. Mulai dari pihak puskesmas, pemerintah kecamatan, Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumenep dan khususny masyarakat Raas.
Program ini dianggap sangat membantu masyarakat. Terutama bagi yang memiliki keterbatasan ekonomi. Selain itu, akses masyarakat untuk mendapatkan pengobatan yankes bergerak juga lebih mudah.
Respons positif disampaikan pasangan suami istri (pasutri) Basri Ahmad, 35, dan Fitriatul Faizah, 29. Mereka merupakan warga Dusun/Desa Kropoh, Kecamatan Raas. Pasutri tersebut merasa sangat terbantu dengan adanya layanan kesehatan itu.
Basri dan Fitri, memiliki putra bernama Ahmad Dayyan Ibrahim yang masih berusia 2,5 bulan. Buah hatinya mengalami bibir sumbing. Melalui program Yankes Berkerak, Dayyan dapat dilakukan penanganan operasi secara gratis.
"Kami sangat terbantu dan berterima kasih dengan pelayanan ini," ungkap Basri.
Menurutnya, program Yankes Bergerak sangat dibutuhkan. Karena, kondisi ekonomi masyarakat Pulau Raas rata-rata menengah ke bawah. Di samping itu, akses menuju daratan sangat jauh. Sehingga, hal tersebut menjadi kendala untuk berobat dengan maksimal.
"Mudah-mudahan, program ini terus berlanjut," ucapnya.
Respons positif juga disampaikan Ainun, 26, warga Desa Alasmalang, Kecamatan Raas. Saat ditemui Jawa Pos Radar Madura (JPRM), dia sedang mengantarkan ibunya, Subadia, 52, yang mengalami keluhan mata katarak.
Operasi mata katarak yang dialami Subadia berlangsung Kamis malam (14/9). Sedangkan Jumat (15/9), datang kembali ke Puskesmas Raas untuk melakukan pemeriksaan kesehatan lebih lanjut.
"Saya sangat berterima kasih kepada Ibu Gubernur yang sudah mengadakan program ini. Masyarakat sangat terbantu dengan pengobatan seperti ini," katanya.
Ainun menyampaikan, ibunya sidah lama mengalami keluhan mata katarak. Penyakitnya semakin parah mulai tahun 2020. Sebelumnya, sudah sempat berusaha berobat. Hanya tidak maksimal karena keterbatasan biaya.
"Saya sangat bersyukur dengan adanya program ini. Karena ibu bisa operasi gratis," tandasnya.
Sementara itu, Kepala Puskesmas (Kapus) Raas Hermanto berharap program Yankes Bergerak bisa terlaksana kembali ke depan. Bahkan, dia meminta agar durasi pelaksanaan program digelar lebih lama. Sebab, masih banyak masyarakat yang belum mendapat kesempatan berobat.
"Saya harap, program seperti ini bisa dilaksanakan selama satu minggu. Supaya lebih banyak masyarakat yang bisa berobat," pintanya.
Mewakili Tim Yankes Bergera Dinkes Jatim, dr. Radias Dwi Padmani mengatakan, program bakti sosial kesehatan ini sangat penting. Karena, di Indonesia sangat banyak wilayah yang sulit dijangkau dengan layanan kesehatan yang maksimal.
"Melalui Yankes Bergerak ini, menjadi terobosan untuk membantu pemerintah dalam mendorong pemerataan layanan kesehatan," ujarnya.
Berdasar kondisi masyarakat kepulauan yang ditemukan selama ini, banyak keterbatasan yang tidak bisa diselesaikan dengan mudah. Berbeda dengan pelayanan kesehatan di wilayah daratan. Menurutnya, kegiatan Yankes Bergerak sangat layak untuk terus dilanjutkan.
"Program ini harus terus dilanjutkan serta ditingkatkan menjadi lebih maksimal," pungkasnya.
Program Yankes Bergerak mampu menangani 475 sasaran. Capaian tersebut jauh melebihi target. Awalnya hanya ditarget 275 layanan spesialistik serta 75 ibu hamil kurang energi kronis (KEK) dan anak stunting.
Dari 475 sasaran tersebut terdiri atas layanan spesialis bedah 68 orang. Selanjutnya, layanan spesialis obgyn sejumlah 74 orang, layanan spesialis anak 44 pasien, spesialis THT 50 kasus, spesialis mata 115 orang, dan layanan penyakit dalam 7 kasus.
Kemudian layanan kesehatan tradisional berupa akupuntur, akupresur dan herbal dengan sasaran 78 orang. Terakhir, kegiatan upaya kesehatan masyarakat (UKM) dengan sasaran ibu hamil kurang energi kronis (KEK) 17 orang dan balita dengan masalah gizi 22 orang. (bus/dry/par)
Editor : Hendriyanto