SUMENEP, Jawa Pos Radar Madura – Pelaku pembongkaran kuburan bayi di Dusun Galis Barat, Desa Galis, Kecamatan Gili Genting, Sumenep, masih misterius. Namun, warga menduga, aksi di luar syariat itu dilakukan orang tidak dikenal dan luar daerah.
Aparat desa setempat beserta jajaran Forum Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Gili Genting mengecek lokasi pemakaman pada Kamis (29/6) malam. Kemudian, keluarga duka mengubur kembali kepala bayi yang ditemukan di tempat terpisah itu.
Jasad bayi itu adalah anak dari pasangan suami istri (pasutri) Moh. Adi Syahid dan Yulia Agus Priani, warga dusun setempat. Kepala Desa (Kades) Galis Akh. Safri Wiarda mengatakan, semua barang bukti yang ditemukan diamankan anggota Polsek Gili Genting. Di antaranya, tikar pembungkus jenazah, ember wadah ditemukannya kepala bayi, dan dinding ari kuburan bayi.
”Semua bukti itu diperlukan untuk proses penyelidikan lebih lanjut,” ungkapnya kemarin (1/6).
Di samping itu, pada Jumat (30/6) pukul 06.00, Suhaili, kakek bayi, mengajak Kadus Galis Barat Sahimun untuk kembali mendatangi lokasi pemakaman. Tujuannya, mencari sisa potongan tubuh bayi yang hilang.
Proses pencarian sisa potongan tubuh bayi itu dilakukan bersama sejumlah warga. Kurang lebih berjumlah tujuh orang yang ikut mencari. Awalnya, warga menduga tubuh bayi tersebut dimakan binatang buas.
”Makanya, warga dan keluarga duka ingin mencari sisa tubuh yang mungkin ada di sekitar pemakaman,” ucapnya.
Namun, usaha tersebut tidak membuahkan hasil. Tidak lama dari itu, warga menemukan kain kafan yang diduga menjadi pembungkus jenazah bayi itu. Kain kafan tersebut ditemukan di bawah pohon asam.
Yakni, di area pemakaman Dusun Galis Barat, Desa Galis, tempat kuburan bayi yang dibongkar orang tidak dikenal (OTK) itu. Selain kain kafan, warga juga menemukan sejumlah kapas yang diduga dipakai untuk menutup lubang anggota tubuh jenazah. ”Tepat di kain kafan itu terdapat bercak darah,” tutur Safri.
Diduga kuat, kepala jenazah bayi itu dipotong di bawah pohon asam tersebut. Sehingga, menyisakan bercak darah di kain kafan yang ditemukan warga. Dugaan tersebut, kata Safri, sama persis dengan dugaan anggota polsek dan petugas medis Puskesmas Gili Genting. ”Kebetulan, bayi itu meninggal saat masih di dalam kandungan,” ujarnya.
Saat dilahirkan, kondisinya tidak mengeluarkan darah sama sekali. Darah tersebut diduga keluar dari dalam tubuh mayat bayi saat pemotongan kepala dilakukan. ”Jadi, darah di kain kafan itu menjadi dasar kuat bahwa pemotongan kepala bayi memang dilakukan di bawah pohon asam itu,” ucapnya.
Kepala bayi itu diduga dipotong menggunakan pisau yang sangat tajam. Sebab, berdasar bukti kepala bayi yang ditemukan, bekas pemotongannya sangat rapi. ”Terlihat jelas bekasnya sangat rapi. Meski, kondisi kepala bayi sudah berubah warna menjadi hitam pekat saat ditemukan,” paparnya.
Dia menuturkan, pemotongan kepala bayi dilakukan tepat di pangkal leher bagian atas. Yakni, di area bagian bawah rahang memutar hingga belakang. Menurutnya, teknik tersebut sengaja dilakukan untuk mempermudah dan mempercepat proses pemotongan.
”Bagian itu merupakan area paling lembut sehingga tidak butuh waktu lama untuk memutus kepala,” tuturnya.
Jika dipotong pada bagian tengah leher, akan lebih keras. Sebab, bagian tersebut terdapat tulang. Bersamaan dengan ditemukannya kain kafan pembungkus jenazah bayi itu, warga juga menemukan pembongkaran kuburan bayi lain. Lokasinya masih di pemakaman setempat. Hanya, kuburan itu sudah berusia lama.
Posisi nisan tersebut terguling di samping lubang kuburan. Awalnya, warga mengira tulang-belulang jenazah di kuburan tersebut sudah hilang. Namun, setelah diperiksa lebih lanjut, ternyata dinding ari kuburan masih rapi dan tidak terbongkar. ”Sehingga, warga menyatakan jasad bayi masih utuh di balik dinding ari itu,” paparnya.
Polisi kemudian meminta warga segera menutup dan merapikan kembali kuburan tersebut. Pembongkaran kuburan lama ini juga diduga kuat dilakukan oleh OTK yang sama dengan pelaku pembongkaran kuburan bayi baru itu.
Sebab, terdapat bekas kaki berukuran sama dengan jejak kaki yang terdapat di kuburan bayi yang hilang jasadnya. Bahkan, di kuburan lama tersebut, juga terdapat jejak bekas ember. Posisinya tepat di samping makam. ”Kami terus berkoordinasi dengan polsek untuk menyelidiki kasus ini,” pungkasnya.
Kapolsek Gili Genting Iptu Mawardi belum bisa memberikan keterangan jelas kepada koran ini. Namun, dia berjanji akan mengusut tuntas kasus pembongkaran dan pemotongan kepala jenazah bayi tersebut. ”Dalam peristiwa ini, diduga kuat mengandung unsur pidana,” pungkasnya. (bus/pen)
Editor : Abdul Basri