Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Jemaah Asal Sumenep dan Pamekasan Meninggal

Abdul Basri • Rabu, 14 Juni 2023 | 03:36 WIB
MULIA: Jenazah Bhunidhi dibawa dari Masjidilharam ke Pemakaman Al Sharaya, Makkah, untuk dikebumikan, Jumat (9/6). 
MULIA: Jenazah Bhunidhi dibawa dari Masjidilharam ke Pemakaman Al Sharaya, Makkah, untuk dikebumikan, Jumat (9/6). 

SUMENEP, Jawa Pos Radar Madura – Calon jemaah haji (CJH) asal Madura kembali meninggal di Tanah Suci. Kali ini jemaah asal Kecamatan Arjasa, Sumenep, dan Kecamatan Pasean, Pamekasan. Keduanya mengembuskan napas terakhir di Makkah.

Jemaah asal Sumenep itu Bhunidhi Sahumi Samit binti Sahumi, 75, asal Dusun Temor Lorong, Desa Angkatan, Kecamatan Arjasa. Bhunidhi tergabung dalam jemaah kloter 8. Dia berangkat ke Makkah bersama cucunya, Iltamiyah Silasah Rimin, 33. Juga bersama Silasa, 54, menantu Bhunidhi.

Ketua Kloter 8 Muhammad Baidowi menyampaikan, kondisi Bhunidhi memang sudah terpantau lemah saat menuju Arab Saudi. Yang bersangkutan sudah tidak mampu berjalan. ”Dari Sumenep memang sudah digotong. Bahkan, berangkat saat dari Kangean, dia sudah memakai kursi roda,” ungkapnya Senin (12/6).

Setelah tiba di Madinah pada 27 Mei, kondisi kesehatan Bhunidhi semakin buruk. Karena itu, dia dirujuk ke Kantor Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Madinah. Namun, selama empat hari menjalani perawatan di KKHI, tidak kunjung ada perkembangan. Kemudian, pada 31 Mei dia dirujuk ke Rumah Sakit (RS) King Fahad Madinah. ”Bhunidhi menjalani perawatan di RS King Fahad selama empat hari,” terangnya.

Kondisinya berangsur membaik sehingga bisa pulang ke hotel penginapan di Madinah. Esok harinya, Minggu (4/6), Bhunidhi bergeser ke Makkah dengan menaiki bus dan tiba di hotel penginapan pada hari yang sama.

Selanjutnya, pada Minggu (4/6) malam, Bhunidhi didorong memakai kursi roda oleh Iltamiyah dan bapaknya, Silasa, menuju Masjidilharam. Niat hati mereka ingin menunaikan ibadah umrah sunah. Namun setiba di Masjidilharam, kondisi Bhunidhi mulai lemas. Jadi, dia tidak diizinkan masuk oleh petugas sektor khusus (seksus).

Karena itu, Bhunidhi dirawat di kantor seksus. ”Seksus ini bertugas meneliti kondisi jemaah yang memakai kursi roda untuk memastikan bisa melanjutkan tawaf atau tidak,” jelas Baidowi.

Karena kesehatan Bhunidhi kembali tidak baik, Senin (5/6) dia dirujuk ke KKHI Makkah untuk mendapat penanganan maksimal. Hanya, kondisinya tetap tidak ada perkembangan. Dengan demikian, pada Rabu (7/6), Bhunidhi dirujuk ke RS Faisal, Kota Makkah. Dua hari dirawat medis, Bhunidhi tetap tidak membaik. Pada Jumat (9/6) sekitar pukul 15.00 Waktu Arab Saudi (WAS), perempuan asal Pulau Kangean tersebut meninggal di RS Faisal.

Petugas haji menjemput jenazah Bhunidhi ke RS, kemudian disalatkan di Madjidilharam setelah salat Isya berjemaah. Salat jenazah diikuti jemaah haji dari seluruh dunia. ”Itu yang membuat menantu dan cucu Bhunidhi terharu,” ucap Baidowi.

Jenazah Bhunidhi dimakamkan di Pemakaman Al Sharaya, Makkah. Pemakaman selesai sekitar pukul 23.00 WAS pada Jumat (9/6) malam. Penyakit yang diderita Bhunidhi, kata Baidowi, merupakan penyakit bawaan.

Dia juga mengidap penyakit pneumonia atau radang paru-paru. Sehingga, sesak napas. ”Kondisi keluarga Bhunidhi yang ada di Makkah dipastikan sehat. Mereka juga sudah mengikhlaskan kepergian Bhunidhi,” tandasnya.

Plt Kasi Penyelenggara Haji dan Umrah (PHU) Kemenag Sumenep Muh. Rifa’i Hasyim membenarkan bahwa kondisi Bhunidhi memang sudah tidak dapat berjalan. Hanya, sebelum diberangkatkan dinyatakan layak untuk menjalani penerbangan pesawat. Namun, setelah tiba di Madinah, kondisinya mengharuskan untuk dirawat.

Sementara itu, jemaah asal Pamekasan yang meninggal bernama Jumina, warga Desa Sotabar, Kecamatan Pasean. Dia tergabung dalam kloter lima yang diberangkatkan dari Pamekasan pada Rabu (24/5). ”Jumina ini bukan tergolong jemaah lanjut usia (lansia). Sebab, umurnya masih 53 tahun,” tutur Kasi Penyelenggara Haji dan Umrah Kemenag Pamekasan Abdul Halim.

Ketua Kloter 5 Pamekasan Nurul Ulum mengungkapkan, duka mendalam menyelimuti pemakaman Jumina. Dalam menunaikan ibadah haji, dia ditemani suaminya, Alimuddin. Jenazah Jumina dimakamkan di Kota Makkah. ”Saling mendoakan agar diberikan yang terbaik,” pintanya.

Tim Dokter Kloter 5 Pamekasan Achmad Furqon menuturkan, CJH tersebut memang memiliki riwayat penyakit kencing manis. Jumina juga sempat dirawat di Rumah Sakit (RS) Indonesia-Mekkah selama dua hari. Dia meninggal di Intensive Care Unit (ICU) RS An Nur Arab Saudi sekitar pukul 17.30 WAS atau 21.30 WIB. ”Almarhumah katanya juga pernah bekerja di Malaysia sebelum berhaji,” tuturnya melalui sambungan telepon.

Bhunidhi dan Jumina menambah daftar CJH asal Madura yang meninggal dunia. Sebelumnya, Langen Delem Dussalam, 91, warga Desa Bilaporah, Kecamatan Socah, Bangkalan, meninggal di Madinah Sabtu (27/5). Kemudian, Suryati Busir, 90, warga Dusun Kayu Abu, Desa Manoan, Kecamatan Kokop, Bangkalan. Dia juga meninggal di Madinah, Rabu (31/5). (bus/afg/luq)

Editor : Abdul Basri
#sumenep #pamekasan #jamaah haji asal madura #berita haji terbaru #radar madura terbaru #cjh #jamaah haji 2023 #CJH meninggal