TAMAN Bunga (TB) di Jalan Trunojoyo, Kota Sumenep, tepatnya di seberang jalan Masjid Jamik Sumenep bersolek. Ikon Kota Sumekar itu menjadi hadiah bagi masyarakat yang tengah merayakan Hari Jadi (Harjad) Sumenep Ke-749.
Kepala Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman (DPRKP), dan Cipta Karya Sumenep Bambang Irianto mengatakan, pembangunan TB merupakan implementasi visi dan misi bupati. Yakni, Bangun Desa dan Nata Kota.
Proyek itu didanai Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Tahun ini dana yang digelontorkan Rp 5 miliar. Pengerjaan proyek itu dijadwalkan tuntas pada 18 November.
Pembangunan TB, jelas Bambang, tidak serta merta dilakukan. Tapi, membutuhkan proses panjang. Langkah pertama menyiapkan regulasi. Yakni, Peraturan Daerah (Perda) Nomor 3 Tahun 2014 tentang Rencana Detail Tata Ruang (RDTR).
Gagasan itu mendapat respons positif dari pemerintah pusat. Kementerian PUPR memberikan bantuan dalam bentuk perencanaan. Yakni, rencana tata bangungan lingkungan (RTBL). Kemudian, diperbupkan dengan nomor 39 tahun 2014.
”Kami buat perencanaan sejak 2015 dengan mengajukan proposal ke kementerian senilai Rp 13,5 miliar. Alhamdulillah dengan dukungan dan bantuan bupati, kami dapat bantuan tahun ini,” katanya.
Bambang mengakui terjadi perubahan signifikan pada desain Taman Bunga. Perubahan itu berdasarkan aspirasi masyarakat. Para sesepuh Sumenep meminta dari pendapa ada jalan tembus ke Masjid Jamik.
”Kalau dulu ada area air mancur yang menghalangi pandangan ke masjid, kami ubah formatnya. Tapi, esensinya mempercantik dalam rangka memperindah kota. Sebab, Taman Bunga ini adalah paru-paru kota,” tutur pria pencinta fotografi tersebut.
Dengan perubahan itu, ada nuansa berbeda di TB. Di area air mancur dilengkapi lampu. Kemudian ada amfiteter untuk pertunjukan dan gazebo. ”Sisanya tahun depan, kami usulkan lagi mudah-mudahan tahun depan dapat lagi,” harapnya.
Secara umum, konsep pembangunan TB itu ada dua. Yakni, hablumminallah dan hablumminannas. Hal itu yang berupaya dikembalikan oleh pemerintah daerah. ”Jalan tembus dari pendapa ke Manjid Jamik adalah konsep hablumminnas-nya,” tambahnya.
Pintu gerbang TB akan menjadi bagian dari Masjid Jamik. Beberapa ornamen masjid akan dimasukkan dalam pintu gerbang. Salah satunya adalah separo miniatur bunga teratai.
Jumlahnya 11 buah. Enam yang berukuran besar berarti rukun iman. Kemudian, lima yang berukuran kecil adalah rukun Islam. ”Jadi, taman itu sebenarnya adalah pelataran bersama dari masjid. Konsepnya begitu,” terangnya.
Proyek tersebut dikerjakan PT Permata Lanskap Nusantara dengan kontrak Rp 4,5 miliar lebih. ”Kalau pembangunan ini disebut hadiah untuk Hari Jadi Kabupaten Sumenep, wajar. Sebab, ini untuk kepentingan masyarakat, terutama menyangkut keindahan kota,” jelasnya. (c2)
Editor : Abdul Basri