SUMENEP – Tidak diragukan lagi Kabupaten Sumenep berpotensi di sektor pariwisata. Salah satunya adalah Asta Tinggi sebagai destinasi wisata religi. Terbukti, dalam sehari pengunjung di areal pemakaman para raja Sumenep itu bisa mencapai seribu orang.
Hal tersebut diungkapkan Sekretaris 2 Yayasan Penjaga Asta Tinggi (Yapasti) Muhamad Raidi. Menurut dia, pengunjung wisata religi sekaligus cagar budaya ini berasal dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan mancanegara. ”Banyak, ada yang dari Jakarta, Aceh, Pasuruan, Jawa Barat, Lombok, Belanda, Swiss, Cina juga ada,” tuturnya.
Menurut Raidi, Asta Tinggi ini adalah lokasi pesarean para raja Sumenep. Di sana ada makan Pangeran Anggadipa, pendiri masjid pertama di Sumenep. Masjid yang didirikannya bernama Masjid Laju di Kelurahan Kepanjin, Kecamatan Kota Sumenep.
”Kubah yang paling sepuh di sini adalah kubah Anggadipa, tempat pesarean Raden Anggadipa beserta istrinya, Raden Ajeng Mas Ireng,” jelasnya.
Raidi menuturkan, sebagian besar pengunjung Asta Tinggi adalah para peziarah. Tetapi, banyak juga pengunjung yang datang untuk mempelajari sejarah atau sekadar menikmati peninggalan Kadipaten Sumenep.
Selain itu, para pengunjung wisata religi di Desa Kabunagung, Kecamatan Kota Sumenep, tersebut tidak dipungut biaya apa pun. Pihak pengelola hanya menyediakan kotak amal bagi para pengunjung yang ingin menyumbang seikhlasnya.
”Meskipun tidak ada tarif, banyak juga pengunjung yang bersedekah. Biasanya, hasilnya kami gunakan untuk perawatan kecil-kecilan, karena kalau yang besar harus pakai dana pemerintah,” pungkasnya.
Editor : Abdul Basri