SUMENEP – Burung kakatua jambul kuning Desa/Pulau Masakambing, Kecamatan Masalembu, berbeda dengan daerah lain. Durung di pulau yang berada di Pulau Masalembu itu merupakan spesies abbotti.
Salah satu peneliti dari Konservasi Kakaktua Indonesia (KKI) Dudi Nandika mengatakan, kakaktua jambul kuning jenis abbotti kali pertama ditemukan 1907. Nama penemunya adalah Dr WL. Abbott. Karena itu, doktor asal Amerika Serikat (AS) itu dijadikan nama jenis burung yang jumlahnya pernah ribuan ini pada 1980-an.
Pada 1990 populasi meningkat. Namun, banyak ditangkapi warga karena dianggap hama. Sebab, burung ini juga memakan tanaman jagung warga. Mereka tidak tahu jika burung ini dilindungi. ”Pada 1999 jumlahnya sempat tinggal 5 ekor. Jenis ini endemik di Pulau Masakambing. Pemerintah perlu melakukan terobosan agar tidak punah,” kata pria asal Cirebon, Jawa Barat, ini.
Berdasar data Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur, jumlah burung ini tidak pernah sampai 25 ekor setiap tahun sejak 1999. Perinciannya, tahun 1999 hanya 5 ekor, 2011 dan 2012 masing-masing 15 ekor, dan 2013 hanya 22 ekor.
Pada 2014 terdapat 23 ekor dan berkurang satu sekor setahun kemudian. Setelah itu, pada 2016 bertambah satu menjadi 23 ekor. Tahun ini burung berparuh hitam dan didominasi bulu putih itu 24 ekor.
Editor : Abdul Basri