SUMENEP, RadarMadura.id – Butuh perjuangan keras untuk mendapatkan kemenangan dan penghargaan. Hal itu dibuktikan oleh Shafiah Mudmainnatul Wasilah. Dia berhasil membawa pulang medali perak dari ajang Porprov VIII Jatim.
Rumah sederhana dengan lantai semen dan halaman tanah menjadi pemandangan selama perbincangan Jawa Pos Radar Madura (JPRM) dengan Shafiah Mudmainnatul Wasilah. Kami bertemu di rumahnya yang terletak di Desa Jambu, Kecamatan Lenteng, Sumenep, Rabu (6/9).
Perjuangan Shafiah Mudmainnatul Wasilah untuk membanggakan nama Kabupaten Sumenep tidak semudah yang dibayangkan. Butuh proses dan kerja keras sebelum berhasil membawa pulang medali perak Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur VIII (Jatim) pada Jumat (25/8).
Alumnus SDI Mathlabul Ulum Lenteng itu memang memiliki darah juang tinggi. Hal itu tampak saat menceritakan bagaimana proses dirinya mengikuti porprov tahun ini. Tubuhnya yang tinggi dan berkulit sawo matang menampakkan jika memang pantas menjadi atlet kebanggaan Sumenep.
Lulusan SMPN 1 Lenteng 2020 itu rupanya bukan hanya mendapatkan medali perak di porprov. Sebelumnya juga pernah mendapatkan banyak penghargaan di berbagai pertandingan silat yang diikuti. Baik di tingkat daerah sampai provinsi.
Di antaranya, pada 2019 mendapatkan medali perak pada event Apple Cup di Malang se-Jawa-Bali. Kemudian, di Kejurwil Sampang 2020 juga mendapatkan medali perak. Lalu, pada Kejurprov 2022 di Jember mendapatkan medali perunggu.
Namun, meski bangga karena juara, alumnus MA Al-Amien Jambu itu ternyata menyimpan rasa kecewa. Sebab, dari kejuaraan yang diikutinya belum mendapatkan bonus. Selama ini hanya dapat janji. Karena itu, mahasiswa baru STKIP PGRI Sumenep itu sempat tidak semangat saat akan ditunjuk mewakili Sumenep di porprov. Sehingga, tidak langsung menyetujui tawaran itu.
”Saat kelas 3 SMA saya dapat perunggu. Dijanjikan bonus, tapi sampai sekarang tidak ada apa-apa. Jadi malas yang mau ikut lomba-lomba lagi,” kata perempuan kelahiran 3 April 2005 itu.
Putri pasangan suami istri Mahmudi dan Arifah itu juga mengaku, saat ditawari mengikuti porprov, dirinya sedang bekerja menjadi penjual pentol di Pasar Lenteng. Namun, saat itu terus dimotivasi oleh pelatihnya agar mengambil kesempatan bertanding di porprov ini karena berpotensi dan memiliki peluang besar.
Atas bujukan pelatih, dia memutuskan untuk berhenti bekerja dan mengambil peluang tersebut. Setelah itu, langsung full latihan selama seminggu. Karena lama tidak terjun di dunia silat tersebut, akhirnya dirinya jatuh sakit. Mungkin karena kelelahan latihan.
”Saya diberi tahu pada 24 Juli, kemudian tanggal 26 langsung latihan,” tutur Shafiah. Selama satu minggu istirahat, setelah itu latihan lagi pada 4 Agustus. ”Jadi latihan tidak sampai sebulan penuh,” ucapnya.
Mahasiswi jurusan PJKR itu sempat ingin berhenti latihan dan tidak melanjutkan bertanding di porprov. Bahkan, sempat terpikir untuk kembali bekerja. Sebab, merasa lelah karena digempur latihan keras. ”Kan lama tidak latihan, ya capek sampai nangis dan mau berhenti. Bahkan sempat curhat ke teman, enakan kerja dapat uang,” imbuhnya.
Shafiah awalnya akan mengikuti kelas E dengan berat badan 65–70. Namun, memilih naik kelas ke F dengan berat badan 70–75, karena peserta hanya 7 orang. Sehingga, memiliki peluang besar untuk menang. Kala itu dia pasrah menang atau tidak.
Saat tiba pada pelaksanaan pertandingan porprov di Jombang, dirinya menyesal tidak latihan dengan maksimal. Waktu itu lawan pertamanya atlet dari Kabupaten Sidoarjo. Saat turun di gelanggang pertandingan, mentalnya langsung down. Beruntung terus dimotivasi oleh pelatih.
Anak kedua dari empat bersaudara tersebut menuturkan, pada pertandingan pertama itu berhasil menang dan lolos ke semifinal. Saat itu bertanding lagi melawan tim dari Blitar dan menang lagi hingga masuk final. ”Di final bertemu atlet pelatda, teman lama saya. Tapi kalah, sehingga dapat perak,” tutur Shafiah.
Shafiah menekuni dunia silat sejak duduk di bangku SMP. Kemudian, masuk Perguruan Silat Selat Walet Hitam pada 2018. Awalnya coba-coba ikut latihan silat, akhirnya suka. Meski sempat kecewa, dia tetap bangga bisa mewakili IPSI Sumenep untuk bertanding di porprov. ”Kalau bisa, saya akan balas kekalahan di final porprov ini agar bisa dapat emas,” tegasnya penuh semangat. (iqb/luq)
Editor : Berta SL Danafia