KOMUNITAS atau sanggar sastra di lingkungan Pondok Pesantren Annuqayah konsisten menjalankan proses dan melahirkan karya. Sanggar Andalas dan Saksi merupakan dua dari beberapa komunitas/sanggar literasi di Annuqayah yang pernah mendapat penghargaan sastra.
Sanggar Andalas mendapat penghargaan sastra dari Balai Bahasa Jawa Timur pada 2011 bersama Pusat Studi Budaya Banyuwangi (PSBB). Sedangkan Sanggar Kreasi Seni Islami (Saksi) dari Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Latee mendapat penghargaan Anugerah Sutasoma 2019 dari lembaga yang sama.
Dalam buku Anugerah Sutasoma Balai Bahasa Jawa Timur 2019 disebutkan, penghargaan ini diberikan atas pertimbangan kesejarahan, legalitas, kepengurusan, aktivitas, serta karya yang dihasilkan minimal dalam kurun sepuluh tahun. Panitia yakin anggota sanggar sastra di lingkungan Annuqayah tidak lahir secara kebetulan. Mereka merupaksn regenerasi para pendahulu yang memang mencintai sastra. ”Para Kiai dan pengasuh telah memberi ruang dan dorongan yang baik dalam dunia literasi,” tulis buku itu.
Merujuk pada buku yang sama, Saksi berdiri pada 1991/1992 untuk mengembangkan kreativitas santri, khususnya di bidang kesenian di bawah koordinasi Pengembangan Organisasi dan Kesenian (Porseni) Pondok Pesantren Annuqayah Latee. Saksi digagas oleh KM Zamiel El-Muttaqien, Hefni Sanbas, dan kawan-kawan. Saat itu komunitas ini masih bernama Nafiri. Baru 1994/1995 berganti nama menjadi Saksi.
Sebelum Saksi berdiri, pada 1980-an sedang marak kegiatan literasi, khususnya di bidang sastra di lingkungan Annuqayah. Saat-saat itulah lahir beberapa komunitas. Seperti Sanggar Shofa, Kolompok Baca Puisi Annuqayah, mading Kapas, dan Bengkel Mayang di daerah Lubangsa. Kemudian muncul komunitas atau sanggar di daerah lain.
Kepemimpinan KM Zamiel El-Muttaqien sejak periode awal berlangsung hingga 1997. Kemudian dilanjutkan Mursyid Arief (1997–2001), Taufiqurrahman A-fie (2001–2005), R Andi Bachtiar (2005–2007), A. Wardi Rizal (2007–2008), M. Febri Shaleh (2008–2009), Ahmad Isyraqi (2009), Nashirussilah (2009), Moh. Ali Makki (2009–2011), Moh. Junaidi (2011–2013), Mohammad Rafiuddien (2013–2016), Badruz Zaman (2016–2019), dan Muzammil sejak 2019, serta para ketua berikutnya hingga periode sekarang.
Selain KM Zamiel El-Muttaqien (alm) yang mengasuh Bengkel Puisi Annuqayah dan penggerak literasi pesantren, Saksi telah melahirkan nama-nama santri yang tetap konsisten di jalur kesenian. Seperti A. Subki, Raedu Basha, Iftitah, Zaka Khairiz Zaman, Maniri AF, Syarifullah, Amir Faqih, A. Farouk Azka, M. Mahfud AF, A. Shalihin, AF Raziqi, Tijanul Ulum, Barrud Darovi, dan masih banyak nama yang lain.
Saksi menerbitkan antologi puisi Saksi Mata Saksi 1 (1999), Buletin Lintas, dan beberapa karya lain. Selain itu, Saksi menghadirkan produk pertunjukan: Berhala (2002), Syekh Sitti Jenar (2004), Mayat (2005), RSJ (2010), Togel (2011), Anak-Anak Kita (2011), Aku Terpaksa Mengencingi Rahim Ibuku (2012), Penjara Matahari (2012), Sangkuriang (2013), Dimensi Kotak-Kotak (2013), Perform mudik: Dalam Malam (2013), Monolog Tong Bolong (2013), Mati (2014), perform musik: Surat Kecil Manohara (2014), Rampok (2014), Ompangan (2014-kolaborasi), perform musik: Suatu Indonesia (2015), perform musik: Belulang (2015), Monolog Ide (2015), Pigura di Jendela (2016), Ngobrol (2016), perform musik: Gema Maulid (2016), Aku Membunuh Munis (2017), Èngsèr (2017), perform musik: Faaluu (2018), perform musik: Dalam Malam [rearansemen]), A.Y.O (2019) dan lain-lain. Penampilan musikalisasi puisi oleh Saksi dalam acara Anugerah Sutasoma 2019 memukau penonton.
Panitia Anugerah Sutasoma mengharuskan karya dan aktivitas itu disertai dokumen karena penting bagi keberadaan komunitas. Sebab, tanpa dokumen kasatmata, komunitas tak ubahnya sastra lisan. Balai Bahasa Jawa Timur memilih Saksi berdasarkan dokumen dan informasi lapangan. (luq)
Editor : Ina Herdiyana