Oleh HIDAYAT RAHARJA*
JAUH sebelum mengenalnya, seorang kepala SMA dari Bangkalan menjadi kepala SMAN 1 Sumenep tempat saya mengajar. Ia bercerita kalau punya seorang teman seniman, unik, tinggal di tepian sungai, dan sekitarnya terdapat hamparan sawah yang luas. Kepala sekolah tersebut menggambarkan sang seniman sebagai penyair dan juga memiliki keahlian merawat keris dan hal-hal mistik. Saya tertarik dengan ceritanya karena Sang Seniman seorang yang tengah menghikmati hidupnya dengan alam raya. Beberapa waktu kemudian, saya mengenalnya, beliau Bapak Syarifuddin Dea (Babe).
Saya mengenal Babe di tahun 1990-an. Perkenalan di saat mulai berkecimpung dalam dunia kepenulisan. Dari Kota Sumenep saya ke Bangkalan bertemu R. Timur Budi Raja dengan teman-teman di Bangkalan, di antaranya, Ribut Rahmat Jaya dalam penerbitan antologi bersama.
Suatu ketika saya dipertemukan dengan Babe. Perjumpaan yang amat berkesan; Ramah. Bertemu dan berbincang dengan Babe, merokok bersama seperti berhadapan dengan ”rama” saya. Perawakannya, gestur tubuh, dan yang tak bisa dimungkiri mirip benar dengan ”rama”. Babe pendengar yang baik. Ia selalu mendengarkan cerita orang yang ada di hadapannya.
Prinsip yang dipegang Babe merupakan cermin orang Madura. Ia menghargai tamu, orang yang ada di hadapannya. Siapa pun itu. Perkenalan pertama kemudian membuat saya selalu ingin mampir jika lewat di Jalan Pemuda Kaffa, Bangkalan. Saya merasa bersalah ketika tidak menemuinya. Sebab, ada saja yang dikisahkannya, pengalaman-pengalaman dan pergaulannya. Satu hal yang saya rasakan, Babe orang yang tegas dan rendah hati.
…/aku pengelana datang dari daerah gersang/ bersama hatiku yang paling karib mengulur salam/ (Sebuah Desa, hlm. 3).
Babe dalam lirik menyampaikan sebagai seorang pengelana, bebas ke mana-mana. Perumpamaan yang cukup menarik ketika melihat Babe sebagai sosok yang bebas bergaul dengan siapa saja. Namun dalam pergaulan yang egaliter, Babe menggunakan hati sebagai penyambung persaudaraan, hati yang paling karib.
Pergaulan Babe dengan seniman sangat menarik karena Babe di usianya yang tidak lagi muda menjadi magnet bagi anak muda. Ia sering datang ke Sumenep dan berbagai tempat diundang teman-teman untuk mengisi diskusi dan panggung pembacaan puisi. Di berbagai forum di Surabaya dan di daerah lain. Hampir dipastikan seniman di Madura pernah mampir dan menginap di rumah Babe.
Dalam percaturan perpuisian di Madura, sosok Babe sangat menarik karena di zamannya ada D. Zawawi Imron dan Abdul Hadi WM. Dua penyair yang posisinya sangat kuat di kancah pepuisian nasional. Namun ada satu hal yang saya lihat dari Babe sebagai penyair, karya-karyanya berbeda dengan D. Zawawi Imron karena Babe ada di Bangkalan. Secara geografis, Bangkalan merupakan kota transit di ujung Madura dan dekat dengan Surabaya. Arus pergerakan sosialnya lebih terbuka ke arah selatan (Surabaya). Saya rasakan perbedaannya pada pilihan diksi.
Puisi-puisi Babe yang terserak dikumpulkan dalam buku kumpulan puisi dan catatan berjudul Catatan Penyair Sudra (Penerbit Delima, Surabaya, 2024). Dalam buku tersebut terdapat 68 puisi dan 7 catatan. Aslan Abidin memberikan prolog dan Didik Wahyudi menyajikan epilog.
Babe memiliki ciri yang berbeda dengan penyair seusianya D. Zawawi Imron dan Abdul Hadi WM. Puisi-puisi Babe lebih banyak bersifat terbuka bukan merupakan puisi kamar yang enak dibaca menyendiri. Puisi-puisi Babe merupakan yang terbuka dan terasa pas jika dibacakan di atas panggung. Pilihan katanya terbuka amat berbeda dengan D. Zawawi Imron banyak mengangkat diksi-diksi alam sekitar dan suasana pastoral. Sedangkan Abdul Hadi lebih banyak mengungkapkan perjalanan batin dengan simbol-simbol sufistik yang mengajak menyelam pada kedalaman batin.
Di awal karyanya, di antaranya, ia menulis puisi berjudul Selamat Tinggal dengan titi mangsa Bangkalan, 1965. Perhatikan larik berikut:
…/ di perutmu aku berlari, mencari dan bercerita/ di perutmu aku temukan dari dalam bui atau penjara/ di perutmu akrabnya sahabat aku tinggalkan/ di perutmu pahitnya cinta tanpa penjelasan// selamat tinggal kotaku, kota berdebu/ ke tanah pedusunanmu, aku pergi karena ibu/ di mana duka bagai juga pulang dan tiba/ hidup dan kehidupan berlari mengejar kematian//.
Dalam puisi tersebut, Babe meninggalkan ”kota tua” dan ia selalu berada dalam yang lain. Ia berlari dan mencari meninggalkan teman akrab, cinta yang pahit. Pergi karena duka selalu pulang dan tiba dalam kehidupan yang saling berkejaran menuju kematian.
Kegelisahan yang parah di tahun penuh gejolak. Tahun 1965 terjadi pergolakan politik di tanah air yang membuat keadaan menjadi tidak menentu. Ia umpamakan kota yang telah berdebu sehingga harus meninggalkannya. Karena ibu pertiwi yang kacau. Kehidupan tidak lain hanya kejar-mengejar kematian. Rasa tidak percaya dan saling curiga menimbulkan keresahan berkepanjangan.
Titik awal kerasahan Babe ternyata terbawa sepanjang kreativitasnya dan pada sajak yang lain Babe berucap: /tanggal tak membendung/ melelehkan bukit-bukit murung/rasa sakit ditekuri waktu usai menyelinap/ sebaris sesalku segaris sesalmu/ dalam duka tanpa bingkai/ wahai/ wahai/ wajah lelah menggapai/ pasrah dulu betapa gegabah/ malam ngilu/renyai ditepis selalu// (Wahai, Wahai, tahun 1976 halaman 6).
Murung, sakit, sesal, ngilu, diksi yang muram menguatkan keadaan yang dialami aku lirik dan menjadi napas puisinya. Di antara rasa sesal bergelayut aku irik enggan untuk menyerah pasrah karena terlalu gegabah. Ia tidak takluk dan terus beursaha untuk menepisnya.
Babe tidak bisa diam menghadapi keadaan. Ia jatuh pada pilihan bersikap untuk melawan dengan ketidakadilan, kekuasaan yang rakus, dan otoriter. Sikap ini sangat jelas dalam puisi-puisi selanjutnya. Babe tidak ingin bermanis-manis dengan keadaan, tetapi mengambil sikap untuk terlibat sehingga pada puisi-puisinya memendam suara lantang yang memekakkan mata batin. Perhatikan pada potongan sajak bertiti mangsa Bangkalan, 1998 berikut:
…/kawan,/ tak kuundurkan tatapku tegak/ di sajak: berontak!// (Nyungsep Celurit di Cerpu Sajak, halaman 71).
Baginya, sajak adalah pilihan untuk melakukan perlawanan, bukan untuk memuja-muja dan terpisah dari persoalan masyarakatnya.
Masih di tahun 1998 dalam sajak Tragisnya Engkau, ia mempertanyakan /di mana sajak mesti berbaring/ Babe mempertanyakan di mana sajak akan berpihak ketika berbagai kesemrawutan dan kekacauan kehidupan ada di hadapan. /dalam dekap sebuah peti mati?/ ia kembali mempertanyakan.
Pada salah satu bait sajaknya, Babe menyampaikan kondisi hari-hari setelah reformasi, sebagai berikut:
…/melintasi hari-hari buas di kampungku/ mengais kental stamina, tatkala engkau/ bergesekan dengan pelacur-pelacur/ intelektual, broker-broker politik/ blantik kursi yang mulia para tiran/ dan raja. Juga siapa-siapa melirik/ negeri sebagai pewaris/ dari kakek moyangnya/ .. Bangkalan, 2001. (Pengantar, halaman 84–85).
Kondisi yang tidak menentu saat pelacur intelektual, broker politik, blantik kursi jabatan, dan para tiran merasa sebagai pewaris sah negeri ini. Kondisi semacam ini yang membuat Babe berucap pada bait yang lain : …/ hidup bagiku adalah keyakinan/musti diperjuangkan/ bagi nilai-nilai keadilan, kemerdekaan/ juga kesederajatan / terakhir barulah pada hukum/ hukum estetik normatif!//
Sebuah sikap hidup, melihat puisi bukan sekadar berindah-indah, namun menjadikannya sebagai jalan hidup untuk berjuang menegakkan nilai keadilan, kemerdekaan, kesederajatan. Maka tidak mengherankan jika puisi-puisi Babe berbeda dengan penyair seangkatannya di Madura.
Dalam gerakannya, Babe juga membangun komunitas sastra Lingkar Satra Junok (LSJ) yang melahirkan beberapa antologi bersama, antara lain; Istana Loncatan (Antologi Puisi Penyair Jawa-Bali, 1998). Anak-Beranak (Antologi Puisi Syarifuddin Dea dan R. Timur Budi Raja).
Dekonstruksi Panggung
Magnet Babe sangat terasa ketika di tahun 1998 mengundang penyair se-Jawa-Bali untuk membaca puisi di rumah Babe dan pada saat itu diluncurkan antologi puisi bersama dalam acara Temu Sastra Junok I (1998). Masa-masa krisis sosial ekonomi dan politik, saat larangan mengumpulkan massa oleh rezim Orde Baru.
Rumah berubah menjadi panggung. Babe menyediakan rumahnya sebagai panggung bagi seniman dan penyair selama dua hari. Kami membaca puisi dan pentas di teras rumah, saat kondisi sosial politik sangat mencekam. Pergolakan politik diramaikan dengan isu pembunuhan tukang santet. Semua orang saling curiga dan hilang kepercayaan. Babe mengumpulkannya dalam sebuah panggung di teras rumah.
Kebetulan dari keluarga Babe ada yang berdinas sebagai TNI. Saat itu datang dan menyaksikan acara baca puisi. Di luar rumah muncul seloroh, ada acara baca puisi dijaga tentara. Di tengah ketakutan acara dibubarkan aparat keamanan karena situasi yang tidak menentu, kami merasa tenang karena ada tentara berjaga di teras rumah.
Sebuah panggung puisi dan teater yang didanai secara swadaya. Butuh dana besar untuk menanggung tamu yang datang ke acara Temu Sastra Junok I. Keriuhan di dapur tidak pernah henti, karena Mamak dengan senyumnya tidak pernah mematikan kompor untuk menanak dan adang kopi. Ini salah satu panggung yang tidak lagi direpotkan dengan lighting dan tata suara. Kami membaca keras di teras rumah, diskusi, dan ngobrol situasi politik terkini dan paginya panen jeruk di kebun sebelah rumah.
Panggung pertunjukan terbesar diciptakan Babe. Rumah sebagai ruang pertunjukan. Kehidupan sebagai pertunjukan teater dan peran kita sebagai aktor memainkan peran sebagaimana mestinya. Orang-orang datang dan pergi berbincang, baca puisi, nonton pertunjukan teater, dan makan. Makan bukan karena lapar, tetapi hidangan yang harus dinikmati sebagai penghormatan tuan rumah kepada tamu dan penghargaan tamu terhadap tuan rumah yang telah menyediakannya.
Sebuah representasi pertunjukan yang lebur antara batas penggung dengan kehidupan. Semua lebur, tak ada sekat antara pertunjukan dengan realitas kehidupan yang berjalan. Seperti hidup Babe yang akrab dengan siapa saja menempatkan diri sebagai bagian dari sesama dengan peran yang berbeda.
Betapa merdekanya Babe menciptakan panggung. Semerdeka langkah diayunkan untuk menjalankan aktivitasnya. Seniman yang berpegang pada prinsip yang diyakininya. Ia tidak pernah khawatir karena segala tindakannya telah diperhitungkan. Satu hal selalu ia jaga, konsistensi kesesuaian langkah, ucapan, dan tindakannya.
Karya Babe jadi penting ketika apa yang Babe abadikan dalam tulisan tidak lain adalah sikap dan keberpihakannya terhadap berbagai persoalan kehidupan. Maka ketika memilih sikap, itu yang akan dijalaninya. Puisi baginya jalan hidup sehingga puisi yang dikumandangkan tidak pernah bisa diam. Seperti saat ini, Babe telah kembali ke pangkuan Tuhan, tetapi puisi Babe kembali ke hadapan kita semua. (*)
*) Guru dan penyair, tinggal di Sampang
Editor : Ina Herdiyana