Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Perkembangan Komunitas Sastra di Sampang (2–Habis): Mimbar Puisi, Pengarang, dan Komunitas Sastra

Ina Herdiyana • Minggu, 3 November 2024 | 13:50 WIB
APRESIASI: Hidayat Raharja menunjukkan piagam penghargaan Anugerah Sutasoma 2024 di Pendopo Taman Budaya Cak Durasim, Kamis (17/10). (LUKMAN HAKIM AG./JPRM)
APRESIASI: Hidayat Raharja menunjukkan piagam penghargaan Anugerah Sutasoma 2024 di Pendopo Taman Budaya Cak Durasim, Kamis (17/10). (LUKMAN HAKIM AG./JPRM)

Oleh: HIDAYAT RAHARJA*

PENGARANG pertama yang saya kenal dari Sampang Ahmad Wahib (9 November 1942–31 Maret 1973) dikenal sebagai pemikir dan pembaru Islam. Awal 1980-an saya baca bukunya, Pemikiran Pergolakan Islam. Buku yang menyadarkan saya bahwa di Sampang ada seorang penulis yang bukunya jadi bacaan mahasiswa pergerakan di Indonesia.

Awal 1990-an mulai muncul pengarang dari daerah Sampang. Kemunculan yang dimulai dari luar daerahnya. Suatu realitas yang memastikan bahwa mereka berkembang setelah diam di luar Sampang. Sepulang dari luar daerah mereka mulai menumbuhkan sastra di kampung halaman.

Di sebuah panggung peringatan Istighotsah Kubra satu tahun peristiwa penembakan Nipah  (September 1994) suatu pesantren di Pramian, Sreseh, mendatangkan Emha Ainun Najib dalam sebuah panggung budaya. Dalam sambutan ketua panitia seorang putra kiai di Sreseh menyampaikan bahwa baginya pembacaan puisi bukan yang pertama dilakukan, tetapi sebelumnya banyak mengenal pembacaan puisi karena saat mondok di Jombang sering kali didatangkan penyair untuk baca puisi seperti WS Rendra dan Taufiq Ismail.

Di sini saya melihat panggung puisi yang dihadiri ribuan orang dan sangat bangga bahwa ada panggung besar dan Emha Ainun Najib membacakan puisi serta melakukan orasi kebudayaan. Protopanggung (mimbar puisi) yang menjadi cikal bakal puisi di waktu-waktu berikutnya. Pembacaan dan pementasan karya sastra tumbuh di mimbar panggung imtihan pesantren dan panggung agustusan di kampung. Di dua pertunjukan tersebut sastra (puisi dan teater) dipanggungkan sebagai sajian yang  membawa tuntunan dan tontonan.

Dalam pemetaan bersadasarkan letak geografisnya, beberapa pengarang Sampang berasal dari daerah Pesisir  Sreseh: Alek Subairi, Tajullail Dasuki, dan Rosi Praditya. Pesisir Banyuwates: Harkoni, Faris Isnain Haikal, dan Suryadi Arfa. Dari Pesisir Camplong: Yan Zavin Aundjand, dan Nuris Shalihin Damiri (Bin). Pusat Kota Sampang: Umar Fauzi Ballah, Dwi Ratih Ramadhany, Mudhar CH, Rulin Dwi Wahyuningsih, dan Nur Aida Maulidia. Dari Tambelangan: Zamzamul Adzim, Abdurrohim, dan Nora NH. Dari Pangarengan Muhammad Aufa Marom. Torjun (Fadzil Sufina). Kedundung (M. Ghufron Cholid). Pulau Mandangin (Umar Faruk Mandangin).

Bila disederhanakan, peta ini menjadi: Pesisir Utara (Banyuwates, Ketapang), Pesisir Selatan (Sreseh, Pangarengan, Camplong), Sampang Daratan ( Sampang, Torjun, Kedungdung, Tambelangan, Omben, Robatal), dan Pulau Mandangin. Pemetaan ini sangat subjektif dan sangat rapuh. Namun, dari data yang saya kumpulkan di kantong-kantong tumbuh sebaran ini terus bertumbuh.

Beberapa penulis telah membuat buku (puisi dan cerpen) sebagai penanda keberadaan mereka dalam dunia sastra. Alek Subairi dengan buku puisi Kembang Pitutur ( Amper Media, 2011), Bisikan (Delima, 2017). Moh. Aufa Marom Ceracau Alam dari Tuhan (Pelangi Sastra Books, 2017), Rosi Praditya – Buku Puisi Bunga Rosie, Tidur Sayang Malam Telah Larut (Delima, 2018), Umar Fauzi Ballah Jalan Kepiting ( Amper Media, 2012), Harkoni Karapan Sapi di Atap-Atap Rumah (Ganding Pustaka, 2021), Faris Isnain Haikal Nafsu Tersunyi (CV Media Semesta Raya, 2022), Fadzil Sufina Debu Trotoar (Spasi, 2017), Nora NH  Tirani (Alqolam Media Lestari, 2017), Garis Haluan, puisi dan cerpen (Alqolam Media Lestari, 2018), Yan Zavin Aundjand Pelacurku yang Terhormat (Halaman Indonesia, 2017 ), Tarian di Ranjang Kyai (Azhar Risalah, 2011), Nuris Shalihin Damiri Lanceng Talpos (Diva Press, 2020) diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia Bujang Badung (Balai Bahasa Jawa Timur, 2021) dan Salbut (Diva Press, 2021). Dwi Ratih Ramadhany Pemilin Kematian (2017) dan Silisilah Duka (Basabasi, 2019).

Bahkan di antara mereka karyanya terpilih dalam nominasi buku puisi pilihan yang dilakukan Yayasan Hari Puisi Indonesia dan Khatulistiwa Literary Awards. Kembang Pitutur karya Alek Subairi terpilih sebagai 10 Nominasi Buku Puisi yang diadakan Khatulistiwa Literary Awards 2011. Buku puisi Kangean karya Hidayat Raharja terpilih 15 Nominasi Buku Puisi oleh Yayasan Hari Puisi Indonesia 2016. Puisi Umar Fauzi Ballah, Rumah Sumpah Sie Kong Liong, memenangkan lomba cipta puisi Sumpah Pemuda 2008. Dwi Ratih Ramadhany salah satunya, juara 3 Lomba Cerpen Peksiminas 2014. Juga meraih juara 2 lomba menulis cerita rakyat Kemendikbud 2015. Diundang Ubud Writers Reading Festival (UWRF) 2015. Penerima beasiswa peliputan program Perempuan Berdaya di Media dari Project Multatuli dan We Lead 2022. Ratih juga pernah aktif di Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) 2016. 

Tumbuhnya komunitas sastra di Sampang merupakan suatu yang sangat menarik. Keberadaan komunitas sastra menjadi wadah bagi kaum muda untuk mengembangkan diri. Ruang bagi para pegiat sastra untuk bertukar pikiran ataupun berkegiatan. Komunitas Sastra Stingghil, di dalamnya ada Yan Zavin Aundjand, Alek Subairi, dan Umar Fauzi Ballah sebagai direktur. Bagi saya sangat menarik dan karenanya mulai intens berkomunikasi dengan Fauzi Ballah pada 2011 membangun Komunitas Stingghil. Dari komunitas ini lahir buku antologi Tikar Pandan di Stingghil. Dalam Komunitas Stingghil, bagi saya sangat menarik bertemu dengan generasi progresif di Sampang. Lewat komunitas ini, terjadi jalinan silutarahmi, terbangun jejaring dengan komunitas yang ada di luarnya, diskusi buku dan pertunjukan merupakan salah satu mata acara Komunitas Stingghil yang rutin dilakukan. Komunitas Stingghil memulai di Sampang menjadikan kafe sebagai ruang diskusi buku dan musik atau persolan kebudayaan lainnya. Komunitas Stingghil sempat mengadakan Festival Stingghil; pemanggungan teater dan puisi pada 2017.

Para sastrawan (pengarang) yang berasal dari Sampang sebagian besar tumbuh dan berkembang ketika berada di luar Sampang. Sekembalinya ke kampung halaman, mereka menggerakkan sastra di kampung dengan berbagai bentuk variannya. Memperingati perayaan maulid nabi dipadukan dengan dikusi sastra, sebagaimana dilakukan kawan-kawan di Sreseh. Komunitas sastra Stingghil memanfaatkan kafe sebagai ruang diskusi sastra dan kesenian lainnya.

Baca Juga: Perkembangan Komunitas Sastra di Sampang (1): Dari Langghâr ke Mimbar Puisi 

Sebuah keniscayaan perkembangan sastra di Sampang di waktu yang akan datang. Beberapa komunitas membangun komunikasi dengan komunitas di luarnya sehingga interaksi tersebut akan memberikan energi bagi pertumbuhan dan perkembangan sastra di daerah Sampang. Sejatinya, mimbar itu telah ada dimulai dari peringatan maulid di langgar dan di rumah-rumah penduduk. Saat ini mulai terlihat pertumbuhan dan perkembangan varian-variannya, baik di pesisir maupun di daratan Sampang. (*)

*) Guru dan berdiam di Komunitas Sastra Stingghil

 

Editor : Ina Herdiyana
#pengarang #sampang #puisi #komunitas sastra #perkembangan