Oleh ABD. KADIR
MINGGU, 11 Agustus 2024, saya diundang teman-teman Rumah Literasi Sumenep (Rulis) untuk menghadiri Peluncuran Buku dan Bincang Sastra Serpihan Puisi Sampai Ambang Senja yang ditulis Ibu Lilik Rosyida Irmawati. Hadir sebagai pembicara, guru saya: Bapak Hidayat Raharja dan sahabat saya Ibu Joe Mawardi. Pak Dayat (biasa saya memanggil beliau) juga penulis prolog dari buku Sampai Ambang Senja ini.
Bagi saya yang bukan penyair, menghadiri acara ini adalah sebuah kebahagiaan sekaligus kehormatan tersendiri. Bagaimana tidak, saya hadir bersama para penyair, cerpenis, novelis, dan pekerja seni yang lain. Sebut saja, Mas Anton, Mas Lukman AG, Mas Yoyok, Mas Tamar Saraseh, Mas Fendi Kachonk, Mas Sugat, Mak Nok Ir, Mas Amok (S. Herianto), Mbak Wida, Te Yayak, Mbak Tatik, Mas Taufiku, Mbak Yuli, dan yang lainnya. Begitu luar biasa. Sungguh pertemuan yang sangat jarang saya alami: berkumpul dengan para sastrawan, penulis, dan pekerja seni dalam satu forum.
Iseng, saya kirim foto banner peluncuran puisi ini ke teman saya. Satu jawaban darinya: pensiun. Ya, saya katakan ”menuju pensiun”. Ini saya korelasikan dengan salah satu judul puisi yang sempat saya baca: Peralihan Waktu. Peralihan waktu dari masa aktif sebagai guru menuju masa pensiun. Fenomena yang telah menghadirkan efek Barnum (efek Forer) kepada pembacanya (termasuk saya) yang pada akhirnya juga akan menuju pensiun.
Di akhir sesi tanya jawab, para sastrawan yang hadir didaulat untuk memberikan komentar dan membacakan puisi yang ditulis Ibu Lilik ini. Mas Tamar Saraseh, mencoba menyublimasi puisi yang ada dalam buku itu. Puisi Aku Hanya Ingin Bersandar, baginya merupakan puisi yang lebih ”langit” dibanding puisi berjudul Langit yang ditulis dalam 3 ”episode”: Langit 1982, Langit 1986, dan Langit 2024.
Ada Mas Fendi Kachonk yang membaca puisi Kuketuk Pintu Hati (2) begitu berapi-api. Begitu heroik sehingga menghadirkan bara yang menyala dalam dada. Dengan gayanya yang khas ia meletup-letup dalam heroisme sastra yang dibangunnya.
Tak mau kalah, Mas Lukman AG, yang membaca Asap Sepuntung Rokok (3), menyuguhkan erotisme puisi yang lengkap dengan lafal mantra Semar Mesem di dalamnya. Wow, betapa pemandangan yang nikmat dan mengasyikkan. Begitu juga Mas Sugat yang membaca puisi Daun-Daun Kering dengan aura melankolisnya. Sungguh menghadirkan kesyahduan yang begitu mendalam.
Saya, yang didaulat menjadi pembaca terakhir, hanya bisa membacakan dengan datar-datar saja. Maklum, karena saya memang bukan penyair. Tidak bisa membaca dengan sublimasi ala Mas Tamar, tak bisa heroik seperti Mas Fendi, atau erotis layaknya Mas Lukman, dan melankolis seperti Mas Sugat. Namun, satu catatan yang saya sampaikan sebelum saya membacakan puisi Peralihan Waktu, bahwa Ibu Lilik adalah sosok yang inspiratif dan tak kenal lelah dalam menulis. Inilah yang perlu dijadikan cermin oleh generasi sekarang (generasi milenial, generasi Z, generasi stroberi, atau, ketika meminjam istilah K. Wasid: generasi mutaakhirin). Beliau adalah inspirasi bagi kita sebagai generasi di bawahnya. Ditambah lagi momentum peluncuran bukunya bulan Agustus ini, semakin menguatkan semangatnya untuk tetap mengalir dan mengisi anugerah kemerdekaan ini dengan ghirah literasi. Ya, semangat menulis, semangat berliterasi tidak padam dalam dirinya.
Saya jadi teringat ketika dulu bersama Pak Dayat (tahun 2003) ke Jakarta mengikuti Kongres Bahasa Indonesia, bertemu dengan seorang penulis dari Bandung, Pak Maman Suryana. Beliau sudah berumur 70 tahun, tetapi semangat menulisnya masih tetap membara. Bahkan, di usia 70 tahun itu beliau menjadi salah satu pemenang lomba penulisan buku fiksi tingkat nasional yang diadakan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. Dari Bandung ke Jakarta, beliau diantar anak dan cucunya untuk menerima penghargaan sebagai sang juara. Sunguh sangat luar biasa. Saat itu, saya sempat berpikir, apakah saya–misalnya diberi umur panjang sampai berumur 70 tahun–masihkah semangat menulis itu menyala dalam hidup saya? Ah, Allaahu a’lam. Semoga! (*)
*)Dosen Pascasarjana Inkadha Sumenep
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti