Oleh AGUS WIDIEY
ADA banyak keganjilan di pikiran saya mengenai lagu-lagu bahasa Madura yang sudah bertebaran di kanal YouTube, TikTok, dan media lainnya. Beberapa hari yang lalu, seorang teman mengirim sebuah tautan YouTube kepada saya. Kebetulan waktu itu saya lagi rebahan. Lalu, saya membuka link yang dikirim teman saya, dan saya putar video dari lagu itu. Maka terdengarlah sebuah lagu berjudul Notop Ateh yang tidak perlu saya sebut nama penulisnya. Karena ketika kalian yang sudah kecanduan lagu bahasa Madura, pasti mengetahuinya.
Jujur saja, saya tersenyum ketika membaca tulisan dari judul lagu tersebut. Padahal terkait penulisan bahasa Madura, sudah sering disinggung oleh Lukman Hakim AG. Meski orientasi dari teks itu pasti dimengerti, tapi bukankah dalam penulisan bahasa Madura sebagai bahasa ibu tentu ada aturannya juga, sebagaimana bahasa Indonesia dan bahasa lainnya? Tetapi dalam tulisan ini, saya tidak ingin membahas tentang ejaan bahasa Madura yang seharusnya diperhatikan dengan baik. Saya juga tidak akan membahas tentang originalitas karya, karena hal itu sudah dibahas tuntas dalam tulisan Umar Fauzi Ballah yang dimuat di kolom Seni Jawa Pos Radar Madura pada 27 November 2022 dengan judul Lagu Bahasa Madura dalam Kenistaan. Di sini, saya ingin merefleksikan isi dari lagu tersebut. Lagu ini cukup enak didengar, tetapi setelah beberapa menit kemudian, tiba-tiba ditolak oleh pikiran. Mengapa demikian? Baiklah, mari kita refleksikan bersama lagu yang seharusnya ditulis dengan judul Notop Ateh tersebut yang dimulai;
/Mon lakar badha oreng se laen
Ngoca’ pajujur bula tetep se ondur/
Saya kira dalam bait ini masih aman, karena ada kata ”tetep” yang dalam bahasa Madura berarti ”paggun” atau dalam bahasa Indonesia ”tetap”, tapi karena sudah terbiasa, maka kata ”tetep” bagi pendengar dianggap lazim. Barangkali, aku lirik hendak menyatakan, jika ada orang lain, dalam hal ini orang ketiga, maka aku lirik di sini mencoba meminta jujur saja, karena mungkin lebih baik pergi daripada diduakan.
Kemudian dilanjutkan dengan lirik berikutnya;
/Bungka se la ondhung
Ja’ panggu’ tako’ potong
Ate la kare kadhung
Ban bakto se ekakerrong/
Mulai dari lirik ini, saya kurang mengerti, dari sintaksis antar kalimat yang dibangun dalam mulai analogi ”bungka” yang barangkali semacam pohon merunduk, diminta agar tidak dipatahkan, dilanjutkan dengan kalimat penjelas dari analogi tersebut, bahwa hati yang telanjur sayang, dan waktu yang dirindukan.
Kemudian, dilanjutkan dengan lirik;
/Tadha’ ojan ban angen
Ro-moro pas aoba
Dika se ekasennengngen
Pon ta’ enga’ lamba’/
Pada lirik ini saya kira cukup aman, khususnya dalam bentuk analogi, yakni pada kata, tak ada hujan dan angin merupakan sebuah gambaran–aku lirik semacam lama tidak berkabar, kemudian tiba-tiba berubah, dan aku lirik dalam lagu–sebagai kekasih hendak mengatakan akan perubahan sikap kekasihnya yang tidak lagi seperti dahulu kala.
/Mon lakar badha oreng se laen
Ngoca’ pajujur bula tetep se ondur/
Reff:
Setelah reff, dilanjutkan dengan kalimat berikut ini:
/Taresna bula dha’ dika padhana mergem tana
Jan raja cintana jan sake’ ate rassana
Bula neka pon la ta’ kowat nahan sake’ ate
Ta’ langkong bula saporana nyo’on pamare/
Baca Juga: Panduan Singkat Negeri 1001 Malam
Dari kalimat ini saya kira, diksi maupun analogi yang dipakai nyaris tidak pas. Coba kita cermati dari kata ”taresna” yang dalam bahasa Indonesia memiliki arti ”cinta” diibaratkan seperti menggenggam tanah, sementara aku lirik dalam lagu tersebut–ingin menyatakan bahwa ketika cinta makin besar, rasa sakit hati makin besar pula. Padahal di awal menyebut kata ”taresna” tapi mengapa dalam kalimat berikutnya menyebutkan kata ”cinta”? Bukankah ini termasuk mencampuradukkan bahasa Madura yang asli (sokkla) dengan bahasa Indonesia? Selain itu, ada juga kata ”nahan”, dalam bahasa Madura ”ngampet”.
Kemudian, yang paling saya soroti dari lagu ini adalah penggunaan analogi-metaforanya yang tidak cocok. Coba kita pikirkan atau bayangkan, aku lirik dalam lagu tersebut menyatakan cintanya yang seperti menggenggam tanah? Bagaimana rasanya ketika seseorang menggenggam tanah, apakah sakit? Saya kira tidak, baru seandainya menggenggam arang, yang dalam bahasa Madura ”mardha” saya kira lebih cocok, dan sebab sakit hati, aku lirik kemudian menyatakan permintaan maaf sekaligus mengakhirinya saja.
Jika penulis memiliki alasan tersendiri, dan ingin mempertanggungjawabkannya, maka dengan sangat senang hati saya persilakan, ataupun dari teman-teman jika memiliki pendapat yang berbeda silakan, agar terjadi proses dialektika yang terbuka, dan tentunya demi masa depan lagu-lagu bahasa Madura, selanjutnya. (*)
*)Belajar di daerah Jogjakarta
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti