Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Perjalanan Kesenian Anwari, Pernah Diusir karena Ingin Kuliah Jurusan Seni

Hera Marylia Damayanti • Senin, 15 April 2024 | 15:50 WIB
KREATIF: Salah satu pertunjukan teater yang disutradarai Anwari. (ANWARI UNTUK JPRM)
KREATIF: Salah satu pertunjukan teater yang disutradarai Anwari. (ANWARI UNTUK JPRM)

SUMENEP, Jawa Pos Radar Madura – Posisi seniman di masyarakat masih cenderung dikesampingkan. Apalagi, jika dikaitkan dengan sektor perekonomian. Nyaris tidak dipandang berarti sama sekali.

Hal itulah yang dialami seniman muda asal Kabupaten Sumenep, Anwari. Pria asal Desa Nyapar, Kecamatan Dasuk, itu memulai karier keseniannya dengan berdarah-darah. Bahkan, sempat ditentang oleh keluarganya sendiri. Terutama ayah dan ibunya.

”Saya berkesenian kali pertama itu di sekolah, ketika aliyah. Saya ikut ekstrakurikuler di Teater Diam,” tutur alumnus MAN Sumenep itu kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM) Sabtu (13/4).

Setelah itu minatnya terhadap kesenian kian tumbuh. Anwari melanjutkan studi di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) pada Fakultas Bahasa dan Seni, jurusan Seni Drama Tari dan Musik (Sendratasik). Ketika mengutarakan niatnya untuk kuliah itu, Anwar ditentang orang tuanya. Bahkan, diusir dengan menggunakan celurit. Orang tuanya menganggap kondisi perekonomiannya yang miskin tidak akan mampu membiayainya.

”Sudah miskin masih mau dibuat miskin. Bahkan, orang tua mengeluarkan bahasa yang bagi saya menyakitkan dengan tidak mau menganggap saya sebagai anaknya karena ingin kuliah,” jelasnya.

TAMPIL: Anwari (kiri) saat menjadi aktor dalam sebuah pertunjukan teaternya. (ANWARI UNTUK JPRM)
TAMPIL: Anwari (kiri) saat menjadi aktor dalam sebuah pertunjukan teaternya. (ANWARI UNTUK JPRM)

Anwari ingat betul, bahwa orang tuanya menginginkan dia melanjutkan pekerjaan bapaknya sebagai petani. Di lain sisi, keinginan untuk kuliah sangat kontradiktif dengan tradisi di kampung halamannya. ”Di kampung saya, anak muda seolah tidak boleh memiliki keinginan kuliah. Itu dulu, dan saya mengalaminya. Ya, mereka setelah lulus SMA harus menikah, berdagang, atau bertani, melanjutkan pekerjaan orang tuanya,” ujarnya.

Di momen itulah Anwari sempat mengalami kesulitan. Sebab, dirinya sudah mendaftar untuk kuliah, sedangkan di lain sisi tidak memiliki biaya kuliah. Untuk membayar herregistrasi pun dia mengaku pinjam dari para guru dan kepala sekolahnya. ”Ya, saya cari pinjaman ke guru-guru dan kepala sekolah. Kemudian dapat untuk biaya registrasi Rp 5 juta seingat saya,” kenangnya.

Masa-masa kuliah, suami Elyda K. Rara ini bahkan semakin sulit. Untuk makan sehari-hari dia kerja serampangan. Termasuk untuk tidur di sembarang tempat. ”Untuk makan, ya saya cuci mobil, kerja di kantin sebagai tukang cuci piring. Saya tidak minta bayaran, hanya meminta sepiring nasi. Kala tidur, ya di gedung teater dan musala,” ungkapnya.

Anwari memberanikan diri pulang ke kampung halamannya dua tahun kemudian. Hal itu bersamaan dengan momen ketika dia sudah benar-benar menikmati proses berkesenian dan mengikuti berbagai festival teater di berbagai kota. ”Dua tahun kuliah saya pulang, memberanikan diri,” sebutnya.

Dia benar-benar diterima oleh keluarganya setelah lulus. Dia membawa kesenian teater ke kampung halamannya. Dengan berbagai keterbatasan, Anwari merasa kebingungan untuk aktif dan menjalankan aktivitas berteaternya. Bahkan, ketika akan menggelar pentas teater, Anwari harus menggunakan lokasi seadanya. Mulai dari sawah, kandang sapi, halaman rumah, dan lain sebagainya. Termasuk aktor-aktor di dalamnya.

”Awal-awal saya ajak teman-teman dari luar kota ke rumah. Lama-lama saya bisa diterima, dan bahkan orang-orang di kampung saya pada akhirnya juga mau berkesenian, mereka juga turut ambil bagian. Ya termasuk bapak, ibu, dan nenek yang semula menentang keinginan saya,” lanjutnya.

Anwari mengenalkan teater kepada masyarakat di kampung halamannya dengan cara kultural. Pertama adalah mengubah sebutan teater menggunakan bahasa Madura, yakni tatenggun, yang berarti pertunjukan.

”Saya tidak menyebut teater, melainkan menggunakan bahasa Madura, tatenggun yang artinya pertunjukan, dan masyarakat di kampung saya bisa lebih menerima,” ungkapnya.

SENIMAN MUDA: Anwari saat mempresentasikan karyanya kepada penonton. (ANWARI UNTUK JPRM)
SENIMAN MUDA: Anwari saat mempresentasikan karyanya kepada penonton. (ANWARI UNTUK JPRM)

Kesenian Itu Memproduksi dan Mendistribusikan Pengetahuan

Berkesenian adalah sebuah pilihan. Demikian kata Anwari. Pilihan yang dianggap tidak sama dengan masyarakat. Tetapi, Anwari dengan sabar dan khusyuk menjalankan hobi dan pilihannya itu.

Meski demikian, Anwari memandang bahwa kesenian harus bisa bergerak seiring dengan kehidupan. Kesenian harus bisa meluas di masyarakat. ”Tidak ubahnya kehidupan yang juga dinamis, berubah, dan bergerak. Kalau stagnan, dia sudah mengingkari harfiah kehidupan itu sendiri,” ujarnya.

Anwari melihat kesenian di Indonesia belum mendapat tempat yang istimewa. Berbeda dengan di negara-negara maju, mulai dari Jepang, Jerman, dan lain sebagainya. Kesenian di Indonesia, kata Anwari, masih sebatas dijadikan sebagai objek pariwisata.

”Kalau di Indonesia, kesenian itu kan masih diposisikan nomor kesekian, bahkan hanya cenderung dijadikan sebagai objek pariwisata,” ungkapnya.

Dia menegaskan, kesenian harus bisa memproduksi dan mendistribusikan pengetahuan dengan menempatkan estetika dan etika. Sedangkan basis pengetahuannya bersumber dari tradisi, sejarah, dan nilai-nilai kultural di masyarakat. Artinya, seniman itu harus bisa hidup berdampingan dengan masyarakat, tidak ada jarak. Apalagi sampai muncul anggapan atau pandangan yang diskriminatif.

”Misalnya kita menganggap bahwa masyarakat tidak memiliki pemahaman yang utuh tentang satu pengetahuan tertentu, ya, teater misalnya. Itu tidak boleh terjadi,” tegasnya.

Tidak hanya itu, seniman juga harus mampu meletakkan kesenian di masyarakat, baik di kota maupun di desa. Dengan tidak mengklasifikasikan pengetahuan mereka, dia yakin kesenian khususnya teater bisa menjadi rasa bagi mereka.

”Kita kan nggak ngerti lagu-lagu India misalnya, tapi karena ada rasa yang mereka terima, masyarakat kita menyukainya meskipun tidak memahami maknanya,” pungkasnya. (di/luq)

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#seniman #berkesenian #teater #Anwari #Kehidupan #pengetahuan #tatenggun #kesenian