Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Membajak Servomechanism Ciptakan Generasi Positif

Hera Marylia Damayanti • Kamis, 11 Januari 2024 | 18:20 WIB
Denok Setyowati
Denok Setyowati

Oleh DENOK SETYOWATI

MUNCULNYA berita tentang bunuh diri yang dilakukan oleh pelajar dan mahasiswa di beberapa kota menimbulkan banyak pertanyaan. Mengapa hal tersebut terjadi? Seberat apa permasalahan yang mereka hadapi? Atau, seberapa rapuh mental mereka menghadapi tantangan kehidupan ini? Dari beberapa berita bunuh diri yang beredar, belum jelas penyebabnya, banyak faktor yang menjadi motif mereka melakukan hal tersebut. Hal ini menunjukkan masyarakat kita sedang terjadi darurat mental, khususnya pada remaja.

Bagaimana upaya yang seharusnya dilakukan agar generasi muda di masyarakat kita tidak mudah berputus asa menghadapi segala persoalan yang datang dalam kehidupan mereka. Ini menjadi tanggung jawab semua elemen masyarakat. Terutama keluarga dan lingkungan mereka menempuh pendidikan, baik itu sekolah maupun perguruan tinggi, dan bagaimana menciptakan pola pikir yang positif? Keluarga dan para pendidik tentu saja harus memiliki pemahaman terhadap bentuk-bentuk pendidikan karakter tersebut, karena pola pengasuhan, baik di keluarga maupun di sekolah memegang 90 persen pembentukan pola pikir pada remaja.

Dr Maxwell Maltz dalam bukunya Psycho-Cybernetics (1960) menyatakan bagaimana otak dan sistem saraf kita (atau alam bawah sadar) bekerja sama sebagai mekanisme dalam menciptakan realitas kehidupan. Hal ini menunjukkan bahwa otak bawah sadar manusia mengendalikan apa pun realitas yang tercipta dari manusia itu sendiri. Hal ini yang kemudian oleh beliau diberikan istilah servomechanism diri manusia.

Baca Juga: Jalan Panjang Chairil Alwan: Jalan Berliku ke Kampung Halaman

RSJ Grhasia menuliskan dalam artikelnya (2013), pikiran bawah sadar adalah pilot pikiran yang bekerja secara otomatis. Ia tidak mempertanyakan sesuatu yang dimasukkan atau disampaikan kepadanya. Ia menerima segala hal sebagai suatu kebenaran, kenyataan, dan kepastian yang harus dijalankan. Peran pikiran sadarlah yang menyaring dan mempertanyakan sesuatu sebelum diterima pikiran bawah sadar. Apa pun yang Anda alami dalam hidup keseharian Anda, akan tertanam atau menjadi suatu kesan dalam pikiran bawah sadar Anda.

Setiap pkiran atau gagasan, keyakinan, pendapat, teori-teori dan kejadian-kejadian dalam hidup Anda akan masuk dalam pikiran bawah sadar Anda sebagai kebenaran yang mutlak. Apa yang Anda tuliskan di dalam, akan Anda alami di luar. Ketika pikiran sadar atau pikiran objektif Anda benar-benar menerima suatu gagasan, hal itu ditransmisikan kepada bagian-bagian otak, dan oleh karena itu mewujud dalam pengalaman Anda. Pikiran bawah sadar Anda tidak bisa membantah. Ia hanya menerima kesimpulan dari pikiran sadar Anda sebagai suatu kebenaran yang bersifat final. Ia tidak memerlukan alasan untuk membuat sesuatu terjadi.

Pentingnya memiliki kesadaran bahwa otak bawah sadar kita memiliki kendali yang kuat terhadap terciptanya realitas kehidupan, maka kita sebagai orang tua dan pendidik harus memberikan program-program positif di dalam servomechanism otak bawah sadar remaja. Pertanyaannya, bagaimanakah servomechanism ini terbentuk? Servomechanism ini terbentuk melalui kebiasaan-kebiasaan dan keyakinan-keyakinan yang diberikan kepada mereka terhadap segala sesuatu yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari, maka pola didikan orang tua, pendidikan di sekolah, dan budaya lingkungan di masyarakat menjadi penanggung jawab atas terbentuknya servomechanism ini. Jika remaja kita selalu mendapatkan keyakinan-keyakinan dan kebiasaan yang negatif pada dirinya, maka realitas yang selalu dihadapi adalah realitas negatif (kelemahan dan ketidakpercayaan diri).

Lalu bagaimana caranya agar kita sebagai bagian dari penanggung jawab terbentuknya servomechanism ini men-setting agar mereka memiliki keyakinan diri yang positif, tentunya kesadaran akan hal itu harus dimiliki para orang tua dan pendidik terlebih dahulu. Ketika kita menyadari bahwa ada kesalahan dalam servomechanism mereka, kita harus sesegera mungkin sedapatnya membajak (memprogram ulang) servomechanism anak-anak kita menjadi servomechanism yang positif.

Menurut Anjas Permata (2020) dalam sebuah artikelnya menyatakan bahwa untuk memprogram ulang servomechanism menjadi positif bisa dilakukan dengan tiga cara. Yang pertama, dengan melakukan pembiasaan-pembiasaan yang positif dalam keseharian mereka. Pembiasaan positif ini adalah dengan membiasakan diri dalam pemilihan informasi yang positif dari luar, hanya mengizinkan informasi positif yang mereka terima, baik dari lingkungan sekitar maupun media sosial. Kalaupun mereka menerima informasi negatif, kita sebagai pendamping harus pandai memberikan pemaknaan yang positif terhadap informasi tersebut.

Yang kedua, yaitu dengan mem-framing ulang setiap kejadian yang bernilai negatif dengan keyakinan positif, semisal mereka mendapat kesialan dalam menjalankan aktivitas keseharian mereka, maka kita lagi-lagi harus pandai menjelaskan/memaknai bentuk kesialan tersebut bisa jadi justru menjadi anugerah bagi orang lain untuk menyelamatkan keluarganya. Dan yang ketiga, adalah dengan menstimulasi mereka agar mau memiliki cita-cita atau tujuan hidup dan meyakinkan mereka bahwa untuk mewujudkan cita-cita tersebut mereka dapat melakukan afirmasi dan visualisasi positif, dan meyakini bahwa cita-cita tersebut pasti dapat terwujud.

Jika kita sebagai orang tua dan pendidik bagi remaja mampu mengidentifikasi gejala pola pikir negatif kepada remaja kita dan dapat dengan sadar melakukan reinstall servomechanism negative mereka menjadi lebih positif, maka generasi-generasi muda yang tercipta di masyarakat juga akan menjadi generasi positif yang tangguh dan lebih percaya diri, sehingga kejadian-kejadian bunuh diri yang dilakukan oleh remaja tidak akan terdengar lagi. (*)

*)Guru SMPN 4 Torjun, Sampang

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#bunuh diri #pelajar #mahasiswa #servomechanism #pikiran #pola pikir negatif #pendidik #memaknai bentuk kesialan #orang tua