Oleh DELVIS SALSABILA*
MENULIS bukanlah hal yang asing. Menulis merupakan salah satu unsur penting sebagai peranti komunikatif selain komunikasi secara verbal. Bahkan, tulis-menulis sudah ada sejak ratusan tahun lalu.
Dulu, masyarakat pra-aksara mulai mengenal budaya menulis dengan bahan seadanya dan bahasa yang seadanya, seperti lukisan-lukisan di batu atau di dinding-dinding gua, ada juga daun papyrus yang digunakan oleh orang-orang mesir kuno, dan daun kering, tulang juga pelepah kurma yang digunakan oleh orang-orang arab untuk menulis Al-Qur’an pada awal pembukuan. Sampai pada akhirnya kertas ditemukan pada 105 masehi oleh Cai Lun dan kertas menjadi media utama untuk menulis.
Dengan ditemukannya kertas, kebudayaan menulis berkembang semakin pesat. Terutama pada masa kejayaan Islam yang berhasil menjadi pelopor ilmu pengetahuan berkat terjemahan buku-buku Yunani kuno yang berpusat di Cordoba dan Baghdad. Para ilmuwan Islam saling berlomba-lomba menerjemahkan dan mencari dasar disiplin ilmu serta menulis pemikiran-pemikiran mereka tentang ilmu-ilmu pengetahuan yang mereka pelajari. Sehingga, tak perlu heran jika banyak tokoh muslim yang menguasai berbagai disiplin ilmu sekaligus dan menulis banyak buku. Kitab-kitab yang mereka tulis dianggap simbol intelektualitas mereka di masa itu.
Setelah masa kejayaan sarjana muslim, kebudayaan menulis terus berkembang mengikuti zaman melahirkan penemuan dan teori-teori baru bagi dunia pendidikan. Ada begitu banyak penulis prestisius dan sastrawan-sastrawan legendaris yang hingga kini keberadaannya tetap eksis dan menjadi referensi pokok bidang ilmu tertentu.
Sampai saat ini pun, menulis menjadi salah satu unsur yang selalu diprioritaskan dan selalu dikenalkan kepada masyarakat. Berbagai kajian dilakukan, baik dalam skala yang ringan hingga skala yang cukup berat. Bahkan untuk jenjang pendidikan tertentu, kemahiran tulis-menulis menjadi salah satu syarat kelulusan. Setiap lembaga pendidikan dan aktivis akademi gencar menyerukan pentingnya menulis di kalangan masyarakat awam.
Tak hanya lembaga pendidikan yang memberikan perhatian khusus pada masalah tulis-menulis ini. Pemerintah bahkan turut andil menyediakan fasilitas dan program penting literasi untuk mendukung kegiatan tulis-menulis tetap lestari dan semakin berkembang. Seperti penyediaan perpustakaan kota, perpustakaan daerah, taman baca, dan memberikan bantuan buku-buku gratis kepada sekolah yang kurang mampu agar anak didiknya tetap aktif membaca dan menulis.
Sayangnya, dengan ditemukannya teknologi artificial intelligence (AI), segala hal menjadi taktis dan praktis. Menulis bukan lagi menjadi simbol intelektualitas seseorang, karena AI telah memberikan bantuan percuma untuk membuat sebuah bentuk tulisan secara cepat dan mudah. Sehingga, hanya beberapa orang saja yang masih mempertahankan kualitas isi otaknya dan tulisannya.
Khususnya di perguruan tinggi. Skripsi yang merupakan program akhir kelulusan awalnya menggunakan riset mendalam dan referensi yang harus dibaca. Bahkan, banyak yang rela ke luar negeri demi mendapatkan referensi primer untuk menuntaskan penelitiannya. Sekarang, tidak perlu repot membaca. Cukup mengetik kata kunci ”skripsi tentang pendidikan”, maka AI akan menyodorkan ribuan pilihan judul yang diracik dari berbagai sumber internet. Cukup ketik kata kunci tertentu, skripsi yang seharusnya matang dalam rentang waktu berbulan-bulan akan selesai hanya dalam beberapa jam.
Ini menjadikan kebudayaan menulis adalah hal yang dianggap enteng dan hanya sebagai sesuatu yang ”sekadar dilakukan saja” tanpa prosedur yang baik. Ke depan, pikiran-pikiran yang seharusnya memberikan angin segar dengan teori-teori baru, malah terkungkung dengan teori lama yang bahkan sudah usang, bahkan terkesan copy paste dari karya-karya para pendahulu.
Untuk itulah, pengenalan literasi tidak bisa hanya dengan literasi digital. Walaupun praktis, namun sejatinya kemajuan digital hanyalah alat yang membantu mempermudah penulisan, bukan mengubah isi dan kualitas tulisan, apalagi mengubah prosedur penulisan yang sudah lazim dilakukan semenjak dahulu. Agar kelak, setelah menulis, tidak sekadar menulis dan menyetor, namun juga mendapatkan ilmu baru dan paham tentang apa yang ditulis. Tidak hanya menumpuk di gudang-gudang dan mengusang menunggu waktu dibuang. Tetapi, bisa dijadikan rujukan untuk menyelesaikan masalah pada waktu mendatang. Minimal menjadi syair penghibur hati yang diminati.
Kebudayaan menulis memanglah hal yang penting karena menunjukkan tingkat intelektualitas seseorang. Menulis seharusnya menjadi napas kehidupan yang digemari banyak orang, namun bukan dengan cara-cara yang terkesan praktis dan terkesan menyepelekan. Menulis adalah melatih otak untuk menganalisis dan menarik kesimpulan untuk menemukan teori-teori baru. Bukan sekadar control C lalu control V, sehingga generasi berikutnya menjadi generasi intelek bukan generasi peniru dan penikmat kecanggihan teknologi. (*)
*)Guru pengabdian pertama PP Al-Amien Prenduan
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti