Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Setelah M. Tabrani Jadi Pahlawan, Kita Mau Apa?

Hera Marylia Damayanti • Minggu, 12 November 2023 | 17:34 WIB
Lukman Hakim AG.
Lukman Hakim AG.

Oleh LUKMAN HAKIM AG.*

HARI itu, Selasa (7/11) saya tak bisa berkata-kata selain sangat senang dan bersyukur setelah mendapat informasi penetapan M. Tabrani sebagai pahlawan nasional yang akan dianugerahkan pada Hari Pahlawan, Jumat (10/11). Perasaan yang sama juga dirasakan oleh beberapa orang yang berharap dan terlibat dalam proses pengusulan gelar itu. Seperti Pak Muh. Abdul Khak, Pak Asrif, dan Bu Umi Kulsum serta banyak pihak yang lain. Bahkan, nama terakhir itu sampai menangis hari itu.

Pak Khak dan Pak Asrif terlibat langsung dalam tahapan ini. Sebab, mereka sebelumnya menjabat sebagai kepala Balai Bahasa Jawa Timur. Kini, jabatan itu diemban oleh Bu Umi. Wajar jika dia sampai menangis haru mendengar tokoh penggagas bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan itu sebagai pahlawan nasional.

Senang dan syukur juga dirasakan Ibu Amie Primarni, putri M. Tabrani. Namun, hari itu dia sempat mempertanyakan kebenaran informasi penetapan sang ayah sebagai pahlawan nasional. Sebab, dia belum menerima surat resmi, selain hanya surat Sekretariat Militer Presiden ke Mensos untuk menghadirkan ahli waris pada upacara penganugerahan pahlawan nasional di Istana Negara. Namun, pada hari yang sama dia mendapat kepastian tentang itu.

Keluarga besar Jawa Pos Radar Madura (JPRM) tak kalah senang dan bersyukur. Sebab, media ini secara konsisten turut mengawal tahapan pengusulan itu sejak 2019. Saat itu, publik Madura banyak belum tahu sosok Anak Nakal Banyak Akal kelahiran Pamekasan itu. Jangankan warga biasa, nama M. Tabrani masih asing di telinga para pejabat saat itu. Selain lewat pemberitaan, melalui Madura Awards, JPRM menganugerahkan penghargaan seumur hidup pada 2021.

Sejak 2019 itu, berbagai cara dan upaya dilakukan. Mulai penelusuran jejak M. Tabrani, sosialisasi, seminar, diskusi kelompok terpumpun, serta pembentukan tim peneliti dan pengkaji gelar daerah (TP2GD). Kemudian, disusul dengan penamaan beberapa tempat dengan nama M. Tabrani. Sebab, meski Tabrani lahir di Pamekasan dan menjadi tokoh penting di republik ini, belum ada nama tempat dengan namanya di Pamekasan.

Merujuk pada berita JPRM edisi Sabtu (11/11), sebagai wujud penghargaan M. Tabrani, Pemkab Pamekasan mengabadikan nama ketua Kongres Pemuda Indonesia Pertama itu menjadi nama gedung, taman, dan jalan. Pada 3 Oktober 2023, Pj Bupati Pamekasan Masrukin meneken Keputusan Bupati Nomor 188/513/423.013/2023. Keputusan itu berisi tentang penetapan perubahan nama jalan, gedung, dan taman.

Dalam lampiran keputusan tersebut disebutkan nama Jalan Swatantra menjadi Jalan M. Tabrani, perpustakaan umum menjadi Perpustakaan M. Tabrani, gedung olahraga di Jalan Teja menjadi Gedung Olahraga M. Tabrani, dan Taman Gladak Anyar menjadi Taman M. Tabrani.

Sebelumnya, Dispendikbud Pamekasan menetapkan Gedung A dengan nama Gedung HM. Tabrani. Nama ini kemudian diralat menjadi Gedung M. Tabrani. Akhmad Zaini mengakui nama pertama itu salah. Lalu, aula Dinsos Pamekasan juga diberi nama Aula M. Tabrani.

Selain itu, salah satu gedung di kompleks Balai Bahasa Jawa Timur juga diberi nama Gedung M. Tabrani. Jauh sebelum itu, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbudristek mengganti nama Gedung Samudera menjadi Gedung M. Tabrani.

Sebenarnya saya juga pernah mengusulkan agar nama Gedung Pemuda di Jalan Kabupaten itu juga diganti menjadi Gedung Pemuda M. Tabrani. Sebab, M. Tabrani merupakan tokoh pemuda dalam sejarah bangsa ini. Cita-cita persatuan bangsa menuju Indonesia merdeka muncul saat dia masih usia remaja. Gagasan tentang bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dia cetuskan sebelum Kongres Pemuda 1926.

Perjuangan Belum Berakhir

Tiga kata itu menjadi kode khusus penyemangat saya dan Pak Asrif setiap bertemu dan berkomunikasi. Maksudnya, perjuangan menuju M. Tabrani pahlawan nasional harus terus diperjuangkan. Sebab, sebagai bangsa, kita berutang budi kepada M. Tabrani.

Kini, M. Tabrani benar-benar menjadi pahlawan nasional. Apakah perjuangan sudah berakhir? Tentu saja tidak. Utang budi itu belum terbayar. Penghargaan tertinggi dari negara itu memang sudah dianugerahkan. Namun, kita harus menanamkan spirit M. Tabrani dalam hati.

”Memopulerkan semangat dan peran M. Tabrani merupakan pekerjaan berikutnya,” ujar Pak Asrif. Ya, sosialisasi semangat dan peran M. Tabrani itu harus lebih masif. Tabrani itu muslim yang taat, aktivis, organisatoris, orator, wartawan, politikus, pelatih tinju, pengusaha. Kita bisa mengupas dan meneladani M. Tabrani dari berbagai sisi. Semua pihak, lebih-lebih pemuda, harus tahu siapa M. Tabrani.

Tabrani itu pembelajar dan pembaca buku. Juga penulis buku. Setidaknya, dia mewariskan buku Anak Nakal Banyak Akal dan Ons Wapen. Gagasan-gagasan M. Tabrani masih relevan hingga saat ini. Saya menyambut baik jika dua buku itu diterbitkan ulang secara masal. Juga perlu perbanyak buku-buku lain untuk melengkapi karya Harimurti Kridalaksana, Holy Adib, dan lain-lain.

Saya menyambut baik penamaan beberapa tempat di Pamekasan menggunakan nama M. Tabrani. Namun, saya tidak ingin nama-nama itu mati tanpa roh M. Tabrani. Karena itu, pemerintah jangan hanya pandai menjadikan nama pahlawan sebagai monumen. Lalu, merasa paling berjasa telah menghargai jasa pahlawan. Padahal kita tahu pemerintah memang suka membangun sekaligus kadang abai dalam perawatan. Memang tidak semua begitu. Tapi, bukan itu yang kita inginkan.

Terima kasih, M. Tabrani. Anom Tab telah mengajari kami mengamalkan basa nantowagi bangsa. Merdeka! (*)

*)Wartawan Jawa Pos Radar Madura

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#dispendikbud #pamekasan #Tabrani #jprm #dinsos #jawa pos radar madura #gelar #gedung #balai bahasa jawa timur #pahlawan nasional