Oleh BAHRIATUS SA’ADAH*
RadarMadura.id – Pondok pesantren merupakan pendidikan yang melaksanakan beragam kegiatan pembelajaran agama Islam. Menetap tinggal di dalam satu asrama di bawah bimbingan kiai dan beberapa komponen pondok yang juga berperan sebagai mesin penggerak revitalisasi pendidikan. Selain pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan paling tua di Indonesia, pesantren juga merupakan budaya khas bagi Indonesia. Maka, tak salah jika pesantren dianggap sebagai benteng pertahanan bagi ajaran agama Islam yang ada di Indonesia.
Lembaga pesantren dibagi menjadi tiga kategori, seperti salaf, modern, dan semi salaf-modern. Pesantren salaf memiliki beberapa karakteristik pengajiannya hanya terbatas pada kitab kuning, sedangkan pesantren modern memiliki karakteristik, di antaranya penguasaan bahasa asing Arab dan Inggris, kurikulumnya mengadopsi kurikulum modern. Sementara pesantren semi salaf-modern adalah pesantren yang berusaha untuk mengolaborasikan antara sistem yang ada dalam pondok pesantren salaf dan modern.
Pesantren memiliki tradisi pendidikan yang berbeda dengan tradisi yang diterapkan dalam pendidikan yang tidak berbaur pesantren. Dalam pesantren, dari bangun tidur, sampai tidur kembali segala kegiatannya telah tersusun. Maka dari hal itulah, pesantren dianggap sebagai jalan pendidikan yang sangat berperan penting dalam pengembangan karakter terhadap anak didik dengan konsep pendidikannya yang on time ”24 jam”.
Pendidikan yang dijalankan dalam pesantren tidak ada yang terbuang sia-sia. Segala waktu pasti telah tersusun dengan baik. Nah, pendidikan yang diberikan dalam pondok pesantren dapat membekali pribadi-pribadi pada anak didiknya (santri) dengan menanamkan karakter yang baik. Yaitu, sikap rajin, jujur, kreatif, inovatif, bekerja keras, bertanggung jawab serta nilai-nilai terpuji lainnya. Dengan adanya karakter dan kepribadian yang baik, anak didik untuk mampu menjadi insan yang memiliki kepribadian muslim yang tangguh, mampu mengatur kehidupan peribadinya, mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya, serta dapat mengendalikan hidupnya dan mengarahkan masa depannya.
Membentuk karakter pada anak didik tidak bisa hanya dilakukan di sekolah. Penanaman nilai-nilai karakter juga bisa dilakukan dalam aktivitas sosial. Maka, dalam hal ini pesantren telah menerapkan hal tersebut dalam kehidupan sosial karena mereka yang belajar dalam lingkungan pesantren akan mendapatkan bimbingan langsung dari para kiai dan beberapa tenaga pengajar yang lainnya, seperti para ustadah dan mu’allimah. Mereka juga ikut memberi nilai-nilai terhadap karakter anak didik.
Tradisi yang dilakukan dalam pesantren untuk menumbuhkan karakter terhadap anak didik dimulai dari sistem program yang sudah terstruktur. Tingkat kedisiplinan yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dalam asrama akan banyak membentuk karakter, karena apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan dalam kehidupan pondok pesantren, maka itulah yang akan membentuk karakter. Seperti membina mental maupun sikap belajar berorganisasi, hidup bersama dengan banyak perbedaan karakter orang lain, hidup sederhana, dan lain-lain usaha ini yang patut untuk diterapkan dalam kehidupan pada generasi muda sekarang agar mereka mengerti dan paham akan pentingnya bertingkah laku baik di masyarakat.
Dalam pendidikan pesantren mereka berpegang teguh pada lima panca jiwa pondok, jiwa keikhlasan, jiwa kesederhanaan, jiwa berdikari, jiwa ukhuwah diniyah, dan jiwa bebas. Dari panca jiwa inilah para santri diharapkan dapat menerapkannya dalam berbudaya dan berperadaban, serta selalu siap dibutuhkan kapan pun dan di mana pun untuk terjun ke tengah masyarakat luas.
Saking pentingnya pembinaan karakter yang baik, maka dapat digambarkan bahwasanya karakter yang baik akan tampak dalam diri seseorang. Akhlak yang baik juga gambaran dari keilmuan seseorang. Maka, tidak salah jika kita juga merujuk pada pepatah batang padi. Jika padi berisi sangat padat, dipastikan padi tersebut akan merunduk. Begitu pun sebaliknya, jika bulir padi masih kosong, maka ia akan berdiri tegak dan hanya akan mengikuti angin ke mana akan membawanya. Untuk melahirkan akhlak yang baik diperlukan sebuah pendidikan. Melalui pendidikan inilah akan dilatih pembiasaan-pembiasaan yang baik, hingga pembiasaan tersebut dapat teraplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari. Dan, hal tersebut dilakukan pondok pesantren dengan cara penyampaian materi dan langsung diaplikasikan (praktik) dalam kehidupan sehari-hari di asrama, di kelas, dan di semua dimensi kegiatan peserta didik yang dilakukan di dalam pesantren.
Salah satu guru besar dari universitas pendidikan Indonesia menyatakan bahwa ”pendidikan karakter di pesantren lebih baik dibandingkan dengan pendidikan karakter yang ada di sekolah umum”. Pandangannya didasari dengan kenyataan bahwa pendidikan karakter yang diterapkan dalam pesantren benar-benar mampu dilaksanakan dengan baik.
Pondok pesantren berperan sangat penting dalam pembentukan karakter baik terhadap anak didik. Pengembangan nilai-nilai pembentukan karakter tersebut diimplementasikan baik dalam proses pembelajaran, pembentukan budaya pesantren, kegiatan kurikuler, dan kegiatan ekstrakurikuler. Pesantren merupakan institusi pendidikan keagamaan yang menerapkan pendidikan karakter secara terpadu dalam keseluruhan proses pendidikannya. Mulai dari proses pembelajaran, manajemen pesantren, dan kegiatan sehari-hari yang lainnya. (*)
*)Mahasiswi IDIA Prenduan
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia