Oleh MUHAMMAD AFFAN ADZIM*
RadarMadura.id – Perkembangan teknologi informasi membuka celah lebar wacana dan diskursus keilmuan menyebar ke berbagai penjuru dunia. Tak terkecuali dalam bidang seni dan teater. Di Indonesia, beberapa kampus telah lama mengkhususkan diri pada studi seni, peran tubuh, teater, dan pertunjukan. Begitu pula kegiatan-kegiatan kesenian berbasis komunitas dan ekstrakurikuler sekolah juga kelompok seni modern tumbuh berkembang subur.
Di pesantren, ekses itu begitu terasa, termasuk juga dalam hal perkembangan seni, teater, dan sastra. Dalam dunia seni pertunjukan dan teater, data riset memaparkan bahwa komunitas sanggar dan teater di pondok-pondok pesantren umumnya memiliki kecenderungan seragam; memainkan pola pertunjukan yang malah menjauhkannya dari spirit sosio-kulturnya sendiri. Para aktor banyak yang tak merepresentasikan citra diri pesantrennya. Bahkan kadang, tanpa sadar pertunjukan yang dipentaskan menjadi agen penyokong gerakan ”misionaris orang-orang luar”.
Apa pasal? Tak lain karena mereka umumnya belum memiliki modal pengetahuan dasar soal teater. Motivasi yang paling berbahaya adalah semangat berteater berapi-api tetapi belum sepenuhnya tahu landasan filosofinya. Kebanyakan mereka cuma hasil niru. Bahkan, ada yang sebelumnya sama sekali tidak tahu; bagaimana dan seperti apa teater bekerja, sekaligus implikasinya bagi disiplin tubuh secara personal dan konsekuensi logisnya dalam ruang-ruang sosial.
Ada juga yang memilih tampil beda dari kebanyakan tanpa perlu alasan atau dalil. Modalnya cukup sekenanya hati saja. Yang seperti ini jumlahnya tidak sedikit. Berbekal ”katanya teater itu begini, begitu” sudah cukup buat mereka menggelar pentas di panggung-panggung sekolah, di acara-acara pondok saat sesi mimbaria atau khitabah. Biasanya permainannya cenderung abstrak. Kadang dibikin ala kebarat-baratan. Mungkin sebagian berpikir biar kesannya rumit, agar tak mudah dimengerti. Biar sophisticated. Jika situasinya betul demikian, maka kondisi teater pesantren saat ini sedang dalam masalah besar.
Dalam teori sosiologi budaya, pesantren disebut sebagai subkultur sosial. Orientasi gerakan sosialnya mengarah pada perubahan di ranah sosial-agama dan kebudayaan. Di samping juga berperan dalam mengembangkan khazanah keilmuan-keislaman, sebagai penjaga nilai-nilai kearifan lokal serta bertugas melestarikan adab ketimuran.
Kilas balik cikal bakal pesantren bisa dilacak saat Belanda menguasai sebagian besar kerajaan-kerajaan Islam; Banten, Solo, Cirebon, dan luar Jawa secara umum, banyak pangeran di keraton-keraton pergi meninggalkan kerajaan kemudian mendirikan lembaga pendidikan sebagai simpul sosial pertahanan nilai-nilai agama, moral dan etika, sekaligus ekspresi perlawanan atas imperialisme barat yang tiran. Di sinilah konteks perjuangan pesantren digelorakan.
Maka, kehadiran teater pesantren dalam situasi seperti ini suatu keniscayaan. Teater dituntut cakap dalam menerjemahkan spirit dan nilai kesantrian-kepesantrenan dalam setiap aksi pertunjukannya. Teater tak boleh meng-ada dengan misi dirinya semata. Karena jika demikian, ia menjadi sekuler, seperti gerakan L’Art pour I’art (seni untuk seni) yang muncul di Barat pada abad ke-19; sebuah upaya profanisasi gerakan estetika yang substansial. Demistifikasi seni namanya! Teater pesantren harus selalu berada pada garis dan cita-cita besar itu. Inilah pembeda antara teater pesantren dan teater umum.
Melihat kembali kiprah teater di awal kebangkitan Eropa abad pertengahan, yang mana gerakan mereka pada waktu itu sudah terlibat dalam selebrasi hari-hari besar keagamaan. Ini terjadi sekitar tahun 1500 M. 200 tahun kemudian, pada era abad pencerahan yang dipelopori oleh Inggris dan Prancis, teater telah berkembang menjadi media doktrin keagamaan tertentu yang pada puncaknya memberi pengaruh pada bangsa Eropa Raya.
Hakikat dan substansi teater adalah peran. Dan, inti daripada peran adalah aktor. Aktorlah yang menggubah drama dan lakon pemeranan dalam jagat kehidupan ini. Di dalam Islam, keaktoran seseorang telah dinyatakan tegas di dalam Al Qur’an. ”Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ’Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.’ Mereka berkata, ’Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?’ Dia berfirman, ’Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui’.” (QS. Al Baqarah ayat 30).
Bahwa manusia dengan tugas keaktorannya harus mengisi kehidupan ini dengan tasbih dan tahmid, menyucikan Tuhan dan memuji-Nya. Wujud ekspresi dari tasbih dan tahmid inilah yang dimaknai para pemuka agama dengan sikap menjunjung tinggi nilai dan harkat kemanusiaan, membumikan kedamaian, menciptakan keadilan, dan memaknai hidup dengan pengabdian dan perjuangan. Landasan teologis macam ini yang harus selalu dihayati dan dipanggungkan oleh komunitas-komunitas teater di seantero pondok pesantren.
Tak heran saat Tony Broer berkunjung ke Annuqayah, saat sesi diskusi berlangsung, Broer menyampaikan berkali-kali ”kalo lu maen tetaer kaya gue, ga ada bedanya lu ma gue.” Menurut Tony Broer, pesantren adalah harta karun melimpah. Di dalamnya ditempa tradisi keilmuan dan kebijaksanaan sikap hidup sarat hikmah. Atas dasar itu, seharusnya pesantren menjadi sumber inspirasi bagi komunitas-komunitas teater santri. ”Teater lu, harus jadi ladang ibadah lu,” kata Tony Broer beberapa kali disampaikan saat diskusi di PP Annuqayah Lubangsa beberapa waktu lalu.
Komunitas-komunitas teater pesantren saat ini terus bermunculan di lingkungan pondok. Mereka harus ngerti sejarah asal-usul kelahirannya. Teater pesantren, sebagaimana ia lahir dari pondok pesantren, harus dihidupi oleh spirit dan nilai pesantren. Teater di pesantren harus dihidupi oleh spirit perlawanan, sebagaimana sejarah pesantren dulu tumbuh dan berkembang. Perlawanan atas kebodohan atas kezaliman, ketertinggalan, westernisasi, kemiskinan ide, perlawanan atas semakin banyaknya orang-orang yang mulai abai dengan identitas personalnya, baik ia sebagai santri, warga pesantren, suku Madura maupun bagian dari entitas bangsa di Nusantara.
Santri berteater harus menjadi kepanjangan tangan pesantren menyertai gerak dakwahnya. Dengan demikian, kehadiran dan eksistensi mereka selaras dengan apa yang diperjuangkan oleh pesantren dan para ulama terdahulu. Demikian, waallahu a’lam. Maju terus teater pesantren.
Salam seni dan budaya. (*)
*)Direktur musik Teater Komedi Kontemporer (TK2) UIN Malang 1997, Bengkel imajiNASI Universitas Negeri Malang (UNM) 2001, alumnus MA 1 Annuqayah, mengajar di SMA 3 Sabajarin.
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia