”Bacalah (iqra) dengan nama Tuhanmu yang mencipta”. (QS: Al-Alaq 1)
BACA, merupakan judul pameran seni rupa yang digagas Kelompok Perupa Sampang (KPS) sekaligus haul atas wafatnya KH Sholahur Rabbani, guru sekaligus orang tua mereka dalam berkesenian di Kota Sampang. Pada haul tahun ini KPS memperingati dengan pameran lukisan di Gedung Perpustakaan Sampang, 25 Agustus sampai 2 September 2023. Pameran ini bertempat di lobi lantai 1 dan 2 serta di koridor terbuka lantai dua. Ada 2 jenis karya yang ditampilkan berupa lukisan dua dimensi dan instalasi. Karya-karya instalasi ditaruh di koridor lantai 2 yang terbuka sehingga dapat melihat bulan sabit mengambang di hamparan langit malam. Bulan yang menjadi bagian dari karya instalasi yang terbentang di pelataran.
Pameran ini sangat berarti bagi Kelompok Perupa Sampang dan bagi keluarga almarhum KH Sholahur Rabbani. Pameran ini menegaskan bahwa seni rupa di Sampang memiliki hubungan yang sangat erat dengan almarhum, mampu memberikan inspirasi dan semangat bagi peran dan perkembangan seni rupa di Kota Sampang. Menurut Charil Alwan (ketua KPS) dalam sambutannya bahwa KH Sholahur adalah guru yang telah banyak memberikan pelajaran berharga bagi rekan-rekan perupa di Sampang. Pelajaran yang mengajaknya untuk membaca, membaca, dan membaca, meski hal itu tidak dikemukakan secara verbal.
Semasa hidup beliau memiliki peran yang sangat berarti, khususnya seni rupa di Kota Sampang. Ia terlibat juga berkarya (melukis) dan mengikuti pameran seni lukis serta membina para pelukis Sampang. Bahkan, dari keluarga beliau sejak pameran olle-ollang yang ketujuh juga ikut terlibat meramaikan dan berkarya dalam pameran seni rupa. Pada kesempatan kali ini dari keluarga KH Sholahur Rabbani juga menyertakan karya dalam pameran yang diletakkan di lantai 1 Gedung Perpustakaan Sampang.
Pameran kali ini mengambil judul: baca. baca, baca. Judul yang mengingatkan pada perintah Tuhan untuk membaca. Sangat menarik, karena tugas membaca dalam baca tulis belum juga dilaksanakan dengan baik. Karena ketika membaca dilakukan dengan baik, akan mampu untuk memahami, mengolah, dan merespons setiap bacaan yang dibaca. Sayangnya di dunia yang dibanjiri informasi dengan berbagai aplikasi teknologi yang mudah diakses telah menghilangkan kepekaan manusia sehingga mudah terhasut dan terprovokasi.
Maka tidak berlebihan jika judul pameran baca, baca, baca mengingatkan saya untuk kembali membaca ayat-ayat Tuhan yang bergerak dalam kehidupan. Membaca bukan hanya tekstual tetapi juga membaca warna dalam lukisan. Warna sebagai bahasa simbol yang mengajak untuk merenung dan memaknai sesuai dengan pengalaman batin dan pengalaman kultural yang dimiliki. Lukisan-lukisan yang dipajang cukup beragam, di antaranya lukisan kaligrafi, vignette, dekoratif, dan beberapa lukisan realis dan ekspresif.
Salah satu lukisan natural cukup menarik perhatian saya dalam pameran. Lukisan tersebut dari keluarga almarhum KH Sholahur Rabbani, lukisan pemandangan alam dan bunga. Sebuah lukisan yang sederhana tetapi bahkan sangat menarik untuk dikemukakan. Lukisan berjudul ”Segar” karya Siti Fatimah berupa gambar bunga dalam vas putih dan 3 bunga mekar berwarna merah, dan tangkai berwarna hijau. Warna latar di samping kiri dan kanan berwarna cokelat, sedangkan bagian yang lain berwarna putih dan bercak hijau. Gambar seakan belum selesai namun sudah selesai, sederhana, dan bahkan sangat sederhana dan sangat natural. Sebuah kejujuran Siti Fatimah dalam keterlibatannya di pameran ini sekaligus penegas dukungan dari pihak keluarga almarhum yang merestui dan mendukung kegiatan seni rupa di Kota Sampang.
Lukisan lain dari anggota keluarga karya Hasbiyah berjudul ”Keindahan Alam.” Sebuah lanskap perbukitan berwarna gelap, langit putih biru, dan pohon hitam dengan daun merah. Di balik bukit terlihat matahari bundar benderang tersembul dari balik bukit. Sebuah lanskap dan pembacaan yang sangat menarik. Bahwa bahasa gambar adalah bahasa bentuk dan warna. Sebuah ketenangan alam tanpa kegaduhan. Ketenangan yang dirindukan banyak orang. Gambar sederhana dari tangan Hasbiyah dengan pesan yang sangat sederhana, pemandangan alam yang tenang. Setenang air membentang memantulkan bayangan matahari.
Lukisan lain karya Doerahman dari Banyuates. Beberapa karya potret dan lanskap kota berukuran besar terpajang di dinding perpustakaan. Lukisan yang menyedot perhatian pengunjung dan menarik perhatian di antara yang lain. Pendatang baru dan kali pertama ikut pameran bersama KPS. Salah satu lukisannya menggambarkan seorang laki-laki tua dengan tubuh telanjang dada memakai ikat kepala. Latar belakang lukisannya berupa lanskap kota yang digambar detail secara dekoratif membutuhkan ketekunan sehingga bisa menyampaikan pesan yang bertumpuk di atas kanvas. Lukisan berbahan cat minyak di atas kanvas tersebut menggambarkan lanskap kehidupan yang sesak dengan aneka bangunan bertingkat saling berimpit dan beberapa anak kecil bertelanjang dada duduk di balkon bangunan. Sesesak inilah kota-kota yang ada di negeri ini, tua, dan tersingkir. Di antara detail lukisan tampak tangan ibu tengah meraih dengan ikatan tali terjuntai di lengan. Hidup bagi seorang ibu yang tidak mudah mengurusi anak-anak di tengah gemuruh kota yang bising dan saling merebut perhatian.
Salah satu karya instalasi yang cukup menarik karya Abdul Hamid dengan judul ”Bersama-sama”. Instalasi yang menggambarkan siluet delapan orang, satu orang berhadapan dengan tujuh orang. Siluet lelaki jangkung dengan tubuh lurus dan kepala berkopiah. Menunjukkan seorang kepala memberi petuah kepada anak buahnya. Sebuah hubungan yang menunjukkan kebersamaan dengan satu komando dari pimpinan. Sebuah kebersamaan yang tetap bersama dalam satu komando menuju satu tujuan. Sebuah relasi dalam leadership dan mengharuskan ada satu leader yang memimpin anggotanya untuk mencapai tujuan.
Pelukis lain dalam pameran ini antara lain Rony, Chairil Alwan, Hendry R. Sidik, Hardy, Agus, Abd. Rahman, dan Juned. Chairil Alwan selain menyajikan tiga lukisannya berukuran kecil juga menyajikan instalasi yang mengambil tempat di sudut koridor terbuka di bagian sebelah barat.
Pameran yang terawat dan terpelihara dengan baik. Olle-ollang menjadi salah satu pameran yang didedikasikan kepada almarhum KH Sholahur Rabbani. Semoga terus terlaksana di waktu-waktu yang akan datang. Hal ini penting sebagai tonggak hadirnya KH Sholahur Rabbani dan keluarganya dalam dunia seni rupa di Sampang menegaskan bahwa pesantren bisa menerima kegiatan teman-teman perupa. Ini adalah penanda dan penegas bahwa dukungan dari keluarga KH Sholahur Rabbani merestui perkembangan seni rupa dan kehadiran teman-teman KPS.
Penanda bahwa Sampang membuka diri dalam jagat perkembangan seni rupa, terus tumbuh dan bergerak. Jika pada 1980-an ada Ali Daud Bey, Abd. Kariem MD, saat ini generasi baru telah tumbuh dan terus memasuki dan menjelajahi ruang-ruang kreativitas. Beberapa di antaranya menempuh pendidikan seni rupa dan sebagian lagi belajar secara otodidak. Ini sebuah kekuatan dan potensi yang harus dirawat bersama. Kebersamaan dan kolaborasi di antara mereka yang terus tumbuh dan kuat.
Pada pameran Olle-Ollang ke-8 ini banyak hal yang bisa dirasakan dan menjadi perhatian bersama, karena: Pertama, selama ini para perupa di Sampang masih ragu-ragu apakah kegiatan seni rupa diterima di lingkungan pesantren. Sampai pada episode Olle Ollang ke-8 keluarga dari almarhum KH Sholahur Rabbani turut serta dalam pameran bahkan KH Itqon Bushiri membuka pameran seni rupa kali ini. Menguatkan keyakinan teman-teman seni rupa untuk terus berkarya dan bertambah semangat dan apa yang telah dinasihatkan almarhum sampai saat ini masih terus terjaga dan terpelihara.
Kedua, baca dalam tafsir Al-Azhar dalam waktu pertama saja, yaitu ”bacalah”, telah terbuka kepentingan pertama di dalam perkembangan agama ini selanjutnya. Nabi s.a.w. disuruh membaca wahyu akan diturunkan kepada beliau itu di atas nama Allah, Tuhan yang telah mencipta.
Betapa pentingnya membaca, baik pembacaan terhadap teks dan bukan teks adalah tugas dan kewajiban selama hayat dari liang ibu sampai liang lahat. Membaca gambar atau lukisan merupakan pembacaan terhadap bukan teks, tetapi simbol gambar yang memiliki makna beragam. Dalam pameran ”Baca, baca, baca,” kita diajak membaca kembali lukisan yang ada sebagai pengetahuan, kabar yang dapat dibawa pulang oleh penonton. Baca untuk menyadarkan diri terhadap sesuatu yang ada di sekitar, dan memberikan pesan kepada diri kita. Baca atau pembacaan bisa berbeda bagi setiap orang karena pengalaman dan referensi yang berbeda.
Ketiga, perpustakaan dengan fungsi semakin kompleks dan luas memberikan ruang bagi perupa untuk membentangkan karya yang bisa dibaca oleh pengunjung. Bahwa gambar merupakan salah satu sumber informasi yang memiliki pesan mengenai perkembangan perdaban kekinian dan di masa lalu. Perpustakaan telah mengambil peran vital dalam menjalankan fungsi yang lebih luas, sehingga mencerdaskan terhadap masyarakat penggunanya.
Literasi visual berupa gambar dan instalasi telah mengajak masyarakat penonton untuk menyaksikan, merekam, dan mengolah data sehingga bisa memberikan inferensi dari gambar yang dilihat, bahkan belajar kritis terhadap apa yang dilihatnya.
Keempat, dalam konteks lukisan sebagai bahasa warna dan bentuk tidak lagi penting mengenai konsep kita tentang lukisan yang bagus atau tidak bagus, tetapi sejauh ini pesan apa yang disampaikan di dalamnya dan bagaimana kita memaknainya. Sebuah proses belajar dan membaca yang mengakibatkan setiap orang belajar untuk memahami dan mengapresiasi karya yang ada.
Terutama karya-karya dari keluarga almarhum KH Sholahur Rabbani telah memberikan dukungan kepada seni rupa di Sampang sekaligus meyakinkan bahwa seni rupa merupakan salah satu cara menyampaikan pesan keindahan dari subjek gambar ke subjek penonton atau pengunjung yang bisa saling berdialog dan berargumen dalam pemaknaan dan pembacaan terhadap bahasa warna dan bentuk yang dibacanya.
Membaca karya-karya perupa Sampang laksana membaca pesan yang disampaikan oleh KH Sholahur Rabbani; Baca, baca. Baca. (*)
Oleh HIDAYAT RAHARJA
Pelukis sketsa, tinggal di Sampang
Editor : Hera Marylia Damayanti