BANGKALAN, RadarMadura.id – Pada era sekarang, tidak banyak orang yang memutuskan untuk konsen di bidang kesenian. Sebagian besar generasi muda memilih untuk bekerja setelah lulus sekolah atau kuliah. Namun tidak bagi Ma’rifatul Latifah, yang sampai saat ini memilih menekuni kesenian teater monolog.
Perempuan yang akrab disapa Mia itu mengatakan, melakoni monolog baginya adalah panggilan jiwa. Sebab melalui seni peran tersebut, dia bisa mengungkapkan berbagai keresahan diri. Baik persoalan pribadi, lingkungan, ataupun masalah gender. Juga tema lain yang kerap menjadi isu-isu trending.
”Melalui monolog ini, saya bisa menyampaikan pesan kepada penonton,” katanya.
Warga Desa Patengteng, Kecamatan Modung, Bangkalan, itu menambahkan, lewat monolog, akhirnya dia bisa belajar cara menyampaikan pesan agar mudah dipahami audiens. ”Monolog ini menjadi ruang bagi saya untuk menyampaikan aspirasi kepada penonton,” imbuh Mia.
Dia menjelaskan, naskah monolog yang dibawakan selama ini biasanya bertema gender, sosial, dan perempuan. Terutama perempuan Madura. Salah satu alasan mengusung tema Perempuan Madura karena dia ingin mengangkat martabat kaum hawa yang kerap dipandang sebelah mata. Dia ingin perempuan setara dengan laki-laki.
”Meskipun laki-laki di Madura terkesan lebih berkuasa dibanding perempuan. Padahal di sisi lain, banyak perempuan yang menjadi pelopor di Madura,” tandas Mia. (za/yan)
Editor : Berta SL Danafia