Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Melanggar Larangan Merokok hingga Kehilangan Tokoh

Abdul Basri • Senin, 24 Juli 2023 | 02:18 WIB

 

 

SUKSES: Peserta pelatihan guru master revitalisasi bahasa daerah Madura wilayah Pamekasan foto bersama Kepala BBJT Umi Kulsum, maestro cerpen Mudhar CH, dan maestro puisi Lukman Hakim AG serta panitia
SUKSES: Peserta pelatihan guru master revitalisasi bahasa daerah Madura wilayah Pamekasan foto bersama Kepala BBJT Umi Kulsum, maestro cerpen Mudhar CH, dan maestro puisi Lukman Hakim AG serta panitia

Habib cadel profesional. Yunianto menekankan arti penting Pancasila. Miskan peserta terjauh. Namun, Bunda Okta ada di hati semua peserta.

DENGAN ekspresi serius, Ahmad Yunianto Fauzan Amrullah menjelaskan arti penting memperingati Hari Lahir Pancasila. Satu per satu sila dijabarkan dengan jelas. Mulai sila pertama hingga sila kelima.

Bangsa Indonesia, katanya, harus menjaga toleransi antar umat beragama. Meski berbeda agama, kita tetap berada di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pancasila harus menjadi pegangan semua warga negara.

Guru dari Kecamatan Tanah Merah, Bangkalan, itu menambahkan, berbeda keyakinan harus dirajut dalam bingkai kebersamaan. ”Bahkan, saya tidak tanya apakah teman sekamar sudah salat atau belum demi menghargai perbedaan,” katanya, langsung disambut sorak dan tepuk tangan hadirin.

Malam itu, Kamis (1/6), Yunianto sedang menampilkan lawakan tunggal pada penutupan pelatihan guru master program revitalisasi bahasa daerah Madura wilayah Bangkalan. Dia berhasil mengimplementasikan ilmu yang diberikan Habibur Rohman selaku maestro lawakan tunggal. Yunianto berhasil mengocok perut penonton. Termasuk Kepala Balai Bahasa Jawa Timur (BBJT) Umi Kulsum.

Sampai pada penjelasan sila keempat, dia menekankan arti penting musyawarah. Setiap keputusan hendaknya dimusyawarahkan untuk mufakat. ”Namun sayang, Bu Okta tidak pernah mau mufakat dengan saya,” lagi-lagi aula salah satu hotel di Surabaya saat itu dipenuhi tawa dan tepuk tangan.

Bu Okta yang Yunianto maksud adalah M. Oktavia Vidiyanti selaku penanggung jawab RBD di Jawa Timur tahun ini. Malam itu Yunianto memang ”mengorbankan” beberapa rekan sesama guru master untuk dijadikan bahan lawak. Masih banyak materi guru SD itu yang berhasil membuka mulut dan mengocok perut. Termasuk cerita seorang kawan yang senang bertemu pramugari di lift, yang katanya orang maskapai.

Teman Yunianto pun mencari muka dengan membantu memencetkan tombol lift. Namun sayang, pramugari yang hendak ke lantai 6 justru tombol G yang dipencet oleh teman Yunianto. Tawa kembali pecah.

Beda lagi cerita peserta dari Pamekasan. Saat itu Bunda Okta selaku penanggung jawab kegiatan dipanggil pihak manajemen hotel. Katanya, ada penghuni kamar yang terdeteksi merokok, padahal tidak boleh merokok.

Setelah ditelusuri, penghuni kamar itu adalah guru master. Segeralah ”diinterogasi” dan diberi pemahaman bahwa tidak boleh merokok di dalam kamar. Pada saat yang sama juga dijelaskan konsekuensi yang harus diterima bagi pelanggar. Termasuk tentang denda.

Meski sudah terdeteksi oleh petugas hotel, si penghuni masih bisa berkilah. Dia tidak mengaku telah merokok di kamar. ”Katanya tidak merokok di kamar, melainkan di toilet,” ungkap Bunda Okta disambut tawa. ”Bukan hanya satu, tapi dua kamar yang begitu,” tambahnya.

Bunda tidak sedang melawak. Cerita nyata itu disampaikan pada penutupan pelatihan guru master RBD Madura wilayah Pamekasan, Kamis (8/6).

Beda lagi dengan cerita Abdullah, guru master dari Sampang. Kamis (15/6) malam dia membalas lawakan Habibur Rohman yang membawakan materi sebagai cadel profesional. Abdullah mengangkat materi lawak tentang tunawicara sedang jatuh cinta. Untuk menyampaikan rasa cintanya itu harus diajari bicara mulai dari pelafalan nomor 1 sampai 10.

Sementara maestro cerpen Mudhar CH mendapati guru master menulis cerita tidak tuntas. Guru itu menulis cerita orang Madura yang merantau ke Malaysia. Nah, karena masih merantau, maka cerpen yang ditulis itu dihentikan sambil menunggu si tokoh datang. ”Ada-ada saja,” ujar Mudhar sambil tersenyum.

Selain Yunianto, Bunda Okta juga jadi objek praktik guru master lain. Buhari, guru dari Sumenep, menulis pantun kasmaran yang isinya memuji perempuan berkerudung itu. Itu semua karena saking dekatnya hubungan peserta dengan panitia. Bunda Okta mengawal peserta sejak sebelum berangkat.

Yang tak kalah berkesan, pertemuan saya dengan Pak Miskan. Guru master dari Masalembu. Saya mengapresiasi keterlibatan guru SD ini untuk ikut pelatihan. Jarak yang jauh dan menyeberangi lautan bukan penghalang baginya untuk menambah wawasan.

Dari pelatihan guru master ini pula, guru master punya teman Panda Balok dan Dinda Naila. (*)

 

LUKMAN HAKIM AG.

Wartawan Jawa Pos Radar Madura

 

Editor : Abdul Basri
#revitalisasi bahasa daerah #bahasa madura #pelatihan guru #catatan #balai bahasa jawa timur