Bermodal Cinta, Lestarikan Aksara Madura
Menjaga warisan budaya dan kesenian adalah suatu keharusan. Begitu juga dengan bahasa ibu, harus dijaga keasliannya. Isya Sayunani, seorang istri sekaligus ibu tiga anak, menjadi salah satu perempuan yang bertekad mempertahankan aksara bahasa Madura dari kepunahan.
LAILIYATUN NURIYAH, Pamekasan, Jawa Pos Radar Madura
HALAMAN SMPN 8 Pamekasan terlihat ramai. Siswa-siswi berhamburan dari kelas seiring bel berbunyi. Satu per satu guru keluar dari ruangan tempat mengajar. Satu di antaranya, perempuan berparas anggun dengan dibalut kerudung di kepalanya.
Senyum renyah mengawali perjumpaan kami. Meski kali pertama bersua, perempuan itu langsung bisa menebak jurnalis koran ini. Maklum, sebelum bertamu, terlebih dahulu sudah mengatur janji.
Perempuan itu bernama Isya Sayunani. Akrab disapa Yuyun. Dia maestro aksara dalam revitalisasi Bahasa Madura 2023. Dia aktif mengikuti kegiatan revitalisasi bahasa daerah di seluruh wilayah Indonesia melalui media sosial.
Yuyun memiliki kekhawatiran tinggi terhadap kelestarian bahasa Madura. Utamanya aksara atau yang biasa dikenal dengan sebutan carakan. Sebab, anak-anak muda saat sekarang banyak meninggalkan bahasa ibu.
Bahkan, dalam aktivitas sehari-hari, anak-anak muda mayoritas menggunakan bahasa Indonesia. Akibatnya, banyak ditemukan yang tidak bisa menggunakan bahasa Madura. ”Bhasa sè palèng ghâmpang na’-kana’ ta’ bisa,” katanya.
Kondisi itulah yang membuat Yuyun khawatir. Sebab, dengan tidak bisanya anak muda menggunakan bahasa Madura, menandakan bahasa ibu itu di ambang kepunahan.
Yuyun bertekad melestarikan bahasa Madura. Salah satu jalan yang ditempuh yakni dengan bergabung dengan Yayasan Pakem Maddhu. Sebuah organisasi yang bergerak di bidang pelestarian bahasa.
Tidak mudah menjadi bagian dari Yayasan Pakem Maddhu. Setiap anggotanya harus memiliki keahlian, utamanya harus menguasai ejaan bahasa Madura.
”Tidak pernah terlintas di benak saya bisa menjadi anggota di Pakem Maddhu, karena sulit bergabung di sana. Alhamdulilah, setelah dilihat dari kinerja saya, langsunglah saya dipinang agar bisa bergabung di Pakem Maddhu,” ucapnya.
Melalui perkumpulan itu, istri dari M. Yusuf Wibiseno ini terus mengasah keilmuannya. Dia tertarik di bidang aksara Madura sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD). Atas kesukaan itulah, Yuyun tidak sulit belajar carakan. ”Tanyanya dulu ke embah kalau ada PR,” katanya.
Secara keilmuan, Yuyun tidak diragukan. Dia lulusan jurusan Bahasa Indonesia. Bahkan, saat melanjutkan ke jenjang magister, perempuan berparas anggun itu menyusun tugas menggunakan bahasa Madura.
”Namanya saja orang cinta, jadi tidak tahu atas dasar apa saya mencintai bahasa Madura ini,” tuturnya sembari tertawa.
Perempuan yang berprofesi sebagai guru di SMPN 8 Pamekasan itu menyampaikan, bahasa Madura juga menjadi jembatan mendapatkan pintu rezekinya. Dia mengantongi surat keputusan (SK) profesi selaku guru bahasa Madura dari Jurusan Bahasa Indonesia.
”Waktu itu yang diterima empat orang dan kebetulan ibu-ibu semua, jadi kami mendapatkan wejangan dari sesepuh Pakem Maddhu untuk terus melestarikan dan mengembangkan bahasa Madura,” terangnya.
Yuyun menjadi salah satu maestro pada revitalisasi bahasa Madura 2023. Karyanya yang berupa tembang dengan tulisan carakan mengantarkan dia dipilih menjadi narasumber. Melalui kegiatan itu, dia menyempatkan sharing dengan pengajar yang ikut kegiatan tersebut dengan mencari metode belajar yang lebih baik.
Beberapa daerah memiliki cara tersendiri dalam mengajarkan aksara bahasa Madura kepada muridnya. Seperti di Sumenep, yang menggunakan metode bernyanyi. Kemudian, di Bangkalan dengan cara dilagukan sekaligus dihafalkan.
”Mon carakan ’a’ èbhâlik dhâdddhi ’la’, ’na’ ètambâi soko dhâddhi ’ka’, dan seterusnya,” jelas perempuan kelahiran 1971 itu.
Sementara Yuyun sendiri menggunakan potongan karton. Kemudian, dia mempraktikkan. ”Mon carakan rèya èberri’ ghântongan rèya dhâddhi apa?” terangnya sembari mempraktikkan.
Menurutnya, tenaga pendidik harus kreatif dan menyenangkan agar kelas tersebut bisa hidup, dan para siswa lebih semangat. Dengan demikian, ilmu yang diberikan kepada siswa mudah dimengerti.
Melihat kemajuan teknologi di zaman ini, Yuyun bermimpi menciptakan aplikasi pembelajaran carakan Madura. Tujuannya, untuk memudahkan para siswa dan masyarakat dalam mengakses dan belajar carakan Madura.
Yuyun menjelaskan, ada 20 nyerrat carakan Madhurâ serta pasanganna carakan Madhurâ. Ada juga aksara sowara, aksara raja, aksara reka’an kemudian angka carakan Madhurâ.
”Semuanya mudah, jadi jangan pernah merasa sulit. Tentu kami berharap bahasa daerah Madura, khususnya carakan, tidak punah. Jaga bersama-sama, kalau bukan kita, siapa lagi?” tukas perempuan kelahiran Sumenep itu. (*/pen)
Editor : Abdul Basri