SAMPANG, RadarMadura.id – Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) memiliki program pelatihan bagi penyandang disabilitas. Namun, masyarakat Kabupaten Sampang yang minat mengikuti program tersebut sangat minim. Buktinya, hanya ada dua penyandang disabilitas yang mendaftar.
Kabid Rehabilitasi Sosial (Rehsos) Dinsos PPPA Sampang Zainal Muttaqin mengaku kesulitan menggaet penyandang disabilitas untuk ikut program Pemprov Jatim tersebut. Sampai sekarang baru ada dua orang yang mendaftar untuk mengikuti pelatihan. ”Setelah itu tidak ada yang daftar lagi,” katanya Senin (24/8).
Untuk menjangkau peserta pelatihan, petugas tenaga kesejahteraan sosial kecamatan (TKSK) yang turun ke bawah. Namun, belakangan petugas tidak maksimal mencari peserta baru. ”Karena mereka sekarang bergeser ke SR (Sekolah Rakyat). Di sana harus mendampingi (siswa),” ujarnya.
Menurut Zainal, kegiatan pelatihan ditujukan untuk mengasah kemampuan penyandang disabilitas. Yakni mendorong agar mereka mampu membuka lapangan pekerjaan. Namun, sampai saat ini belum banyak yang tertarik.
”Kami juga menginformasikan ke PPDI (Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia), tapi masih belum,” ungkapnya.
Pelatihan yang bisa diikuti peserta cukup beragam, yakni pelatihan menjahit, bordir, servis HP, hingga sablon. Selain itu, mereka juga mendapatkan uang saku dan fasilitas penginapan. ”Tapi kadang mereka mau ikut pelatihan sesuai keinginan mereka, misalnya mau ikut pelatihan montir,” paparnya.
Zainal menambahkan, sebelumnya, ada peserta yang dijemput keluarga sebelum pelatihan selesai tanpa keterangan. Karena itu, pelatihan tersebut membutuhkan dukungan dan dorongan keluarga. ”Kami hanya bisa mengajak dan tidak bisa memaksa. Tapi kadang keluarganya tidak mendukung,” tandasnya. (ay/bil)
Editor : Amin Bashiri