SAMPANG, RadarMadura.id — Petani garam di Kabupaten Sampang mengeluh. Sebab, proses produksi untuk mendapatkan garam berkualitas terganggu oleh limbah air.
Samhaji, salah satu buruh tambak garam asal Kelurahan Polagan, Sampang, mengatakan, untuk menghasilkan garam kualitas utama (KW) 1 rasanya cukup sulit. Selain proses yang memakan waktu lebih lama, hal itu membutuhkan air laut yang jernih.
"Untuk garam KW 1 harus steril, tapi sementara yang dihasilkan KW 3," katanya.
Dijelaskan, untuk menghasilkan garam berkualitas terkendala kualitas air. Sebab, air limbah perkotaan masuk ke lahan garam, terutama saat air laut pasang. "Saya sulit memproduksi garam KW 1," tambahnya.
Pria berusia 40 tahun itu menyampaikan, air laut yang tercampur dengan lumpur memengaruhi kualitas garam. Berbeda dengan daerah yang cukup jauh dari permukiman perkotaan, kristalisasi garam yang dihasilkan lebih sempurna.
"Kalau seperti Pangarengan dan Aeng Sareh itu bisa menghasilkan KW 1," paparnya.
Dia meminta pemerintah membuat aliran baru agar air dari perkotaan yang tercemar tidak masuk ke area pergaraman rakyat. "Makanya saya berharap ada pengalihan aliran agar tidak masuk lagi ke area pegaraman," pungkasnya. (ay/yan)
Editor : Amin Basiri