Kemerdekaan Belum Dirasakan Buruh Tambak

Hera Marylia Damayanti • Dipublikasikan Senin, 17 Agustus 2026 | 11:12 WIB
BERSIH: Samhaji saat menuangkan hasil garam di lahan kerjanya di Kelurahan Polagan, Kecamatan Sampang, Minggu (16/8). (AYU LATIFAH/JPRM)
BERSIH: Samhaji saat menuangkan hasil garam di lahan kerjanya di Kelurahan Polagan, Kecamatan Sampang, Minggu (16/8). (AYU LATIFAH/JPRM)

SAMPANG, RadarMadura.id – Terik matahari menjadi teman sehari-hari Samhaji.

Pria 40 tahun asal Kelurahan Polagan, Kecamatan Sampang, itu sudah dua dekade menggantungkan hidup dari garam. 

Peluh bercucuran dan kulit terbakar matahari itu menjadi bagian dari rutinitas setiap musim garam.

Bagi Samhaji, menjadi buruh tambak garam bukan pekerjaan baru. Profesi ini sudah dilakoni secara turun-temurun.

Baca Juga: Peluang Kerja bagi Lulusan SMA Tipis

Sebelum dirinya, orang tuanya juga mengais rezeki dari kristal putih di lahan tambak milik orang lain.

Sebelum saya, orang tua juga bekerja di sini. Jadi, sudah turun-temurun menggarap garam,katanya Minggu (16/8).

Samhaji bukan pemilik lahan tambak. Dia hanya menggarap lahan milik orang lain dengan sistem bagi hasil.

Setelah garam dipanen dan terjual, hasilnya dibagi sesuai kesepakatan. Dari situlah dia memenuhi kebutuhan keluarganya.

”Kalau garam terjual, saya akan dapat bagian. Kalau Rp 1 juta, maka Rp 500 ribu untuk saya,ujarnya.

Ayah dua anak itu hampir sepenuhnya mengandalkan penghasilan dari produksi garam.

Kebutuhan rumah tangga, mulai sandang, pangan, hingga biaya pendidikan anak harus dipenuhi dari hasil bekerja sebagai buruh tambak.

Karena itu, setiap kali menerima penghasilan, dia berusaha menyisihkan sebagian untuk kebutuhan pendidikan anaknya. Terlebih, anaknya juga menempuh pendidikan di pondok pesantren.

Baca Juga: Di Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, Nelayan Masih Berperang dengan Harga BBM

”Jadi, ketika sudah gajian, saya langsung sisihkan terlebih dahulu untuk biaya pendidikan anak di pondok,tuturnya.

Perjuangan Samhaji tidak hanya melawan teriknya matahari dan sulitnya proses produksi.

DEMI KELUARGA: Samhaji (baju hijau) saat menaikkan garam ke argo dibantu Bustomi (baju batik) di Kelurahan Polagan, Kecamatan Sampang, Minggu (16/8). (AYU LATIFAH/JPRM)
DEMI KELUARGA: Samhaji (baju hijau) saat menaikkan garam ke argo dibantu Bustomi (baju batik) di Kelurahan Polagan, Kecamatan Sampang, Minggu (16/8). (AYU LATIFAH/JPRM)

Persoalan lain yang dirasakan yakni harga garam yang tidak menentu. Ketika harga turun, hasil yang diterima ikut berkurang.

Hampir setiap minggu harga turun. Dari dulu selalu begitu. Sekarang harganya Rp 65 ribu per sak,ungkapnya.

Menurut Samhaji, harga garam sekarang belum sebanding dengan perjuangan yang dilakukan untuk menghasilkan garam.

Mulai dari mengolah lahan, menunggu proses kristalisasi hingga mengangkut hasil panen membutuhkan tenaga dan biaya.

Terkadang, proses produksi terganggu karena faktor cuaca.

Kondisi tersebut membuat setiap musim panen selalu menghadirkan ketidakpastian.

Ketika harga garam naik, ada sedikit ruang bagi Samhaji untuk bernapas.

Baca Juga: Guru Honorer yang Memilih Merdeka lewat Ilmu

Sebaliknya, ketika harga anjlok, penghasilan yang dibawa pulang harus dicukup-cukupkan.

”Iya, terpaksa dicukup-cukupkan untuk kebutuhan di rumah,” ucapnya.

Dua puluh tahun bergelut dengan garam membuat Samhaji memahami bahwa kemerdekaan belum sepenuhnya dirasakan buruh tambak.

Menurutnya, kemerdekaan tidak cukup hanya diperingati setiap 17 Agustus.

Kemerdekaan juga harus hadir melalui kebijakan yang benar-benar dirasakan masyarakat kecil.

”Kami hanya ingin diperhatikan lebih serius oleh pemerintah yang langsung turun ke bawah. Harga distabilkan. Harapannya, tidak ada yang dirugikan, pungkasnya. (ay/bil)

Editor : Hera Marylia Damayanti
buruh tambak Kemerdekaan Kelurahan Polagan harga garam