
BANGKALAN, RadarMadura.id – Asa Moh. Lailur Rachman untuk menembus dunia kerja harus kandas di tengah jalan.
Pemuda asal Kelurahan Mlajah, Kabupaten Bangkalan, itu kesulitan mencari pekerjaan di perusahaan karena hanya tamatan sekolah menengah atas (SMA).
Meski memiliki kompetensi, pintu perusahaan di Kota Zikir dan Salawat seolah tertutup rapat bagi lulusan tingkat menengah.
Bagi Lilur, sapaan akrabnya, ijazah sarjana kini menjadi harga mati di hampir setiap bursa kerja lokal.
”Lamaran saya tidak ada yang diterima hanya karena saya lulusan SMA dan tengah kuliah,” ujarnya.
Bukan hanya soal selembar ijazah, bayang-bayang budaya orang dalam atau ordal turut memperkeruh iklim pencarian kerja di daerah.
Menurutnya, jejaring dan koneksi kerap kali mengalahkan takaran kemampuan atau skill seseorang dalam memikat hati HRD perusahaan.
”Kalau tidak punya ordal, meskipun punya skill, susah juga mendapatkan pekerjaan,” keluhnya.
Kondisi tersebut sempat memupus niatnya untuk bersandar pada pekerjaan kantoran konvensional.
Padahal, tekad pemuda yang kini tercatat sebagai mahasiswa aktif di Universitas Trunodjoyo Madura (UTM) itu sudah bulat, ingin mandiri secara finansial tanpa membebani keluarga.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




