Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Peluang Kerja bagi Lulusan SMA Tipis

H
PENGHASILAN TAMBAHAN: Moh. Lailur Rachman tengah meracik kopi di tempat kerjanya, Jalan RE Martadinata, Kelurahan Mlajah Bangkalan, Minggu (16/8). (VIVIN AGUSTIN HARTONO/JPRM)
PENGHASILAN TAMBAHAN: Moh. Lailur Rachman tengah meracik kopi di tempat kerjanya, Jalan RE Martadinata, Kelurahan Mlajah Bangkalan, Minggu (16/8). (VIVIN AGUSTIN HARTONO/JPRM)

Advertisement

BANGKALAN, RadarMadura.id – Asa Moh. Lailur Rachman untuk menembus dunia kerja harus kandas di tengah jalan.

Pemuda asal Kelurahan Mlajah, Kabupaten Bangkalan, itu kesulitan mencari pekerjaan di perusahaan karena hanya tamatan sekolah menengah atas (SMA).

Meski memiliki kompetensi, pintu perusahaan di Kota Zikir dan Salawat seolah tertutup rapat bagi lulusan tingkat menengah.

Advertisement

Bagi Lilur, sapaan akrabnya, ijazah sarjana kini menjadi harga mati di hampir setiap bursa kerja lokal.

”Lamaran saya tidak ada yang diterima hanya karena saya lulusan SMA dan tengah kuliah,” ujarnya.

Advertisement

Bukan hanya soal selembar ijazah, bayang-bayang budaya orang dalam atau ordal turut memperkeruh iklim pencarian kerja di daerah.

Menurutnya, jejaring dan koneksi kerap kali mengalahkan takaran kemampuan atau skill seseorang dalam memikat hati HRD perusahaan.

”Kalau tidak punya ordal, meskipun punya skill, susah juga mendapatkan pekerjaan,” keluhnya.

Kondisi tersebut sempat memupus niatnya untuk bersandar pada pekerjaan kantoran konvensional.

Padahal, tekad pemuda yang kini tercatat sebagai mahasiswa aktif di Universitas Trunodjoyo Madura (UTM) itu sudah bulat, ingin mandiri secara finansial tanpa membebani keluarga.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar MaduraIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Terobos Laut demi Pendidikan

Terobos Laut demi Pendidikan

Rukmana Vera Braninda mengatakan, laut yang menghidupi sekaligus membatasi itu justru menjadi saksi dari langkahnya menjemput pendidikan.

Guru Honorer yang Memilih Merdeka lewat Ilmu

Guru Honorer yang Memilih Merdeka lewat Ilmu

Fitriyah Agustiningrum percaya, kemerdekaan adalah ketika dia tetap punya ruang untuk memilih, mengajar, dan berbagi ilmu.

Statusnya Paro Waktu, Pengabdiannya Penuh Waktu

Statusnya Paro Waktu, Pengabdiannya Penuh Waktu

Achmad Fauzi mengatakan, seluruh petugas memiliki tanggung jawab yang sama saat menjalankan misi kemanusiaan di lapangan. Prinsip yang dipegang sederhana, yakni memberikan pelayanan terbaik untuk masyarakat.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer