SAMPANG, RadarMadura.id – Seleksi sistem penerimaan murid baru (SPMB) jenjang SMA di Kabupaten Sampang telah berakhir.
Namun, daya tampung yang disediakan sekolah negeri tahun ini belum seluruhnya terpenuhi. Dari 10 SMA negeri, hanya satu sekolah yang berhasil memenuhi kuota.
Kasi SMA dan PK-PLK Cabang Dinas Pendidikan (Cabdindik) Jawa Timur Wilayah Sampang Febrianto Bestari mengatakan, proses SPMB jenjang SMA telah selesai.
Sementara itu, pendaftaran jenjang SMK masih berlangsung hingga hari ini (1/7) melalui jalur nilai prestasi akademik.
Baca Juga: Pemuda Jrengik Terancam Penjara 12 Tahun, Diduga Setubuhi Mantan Pacar di Bawah Umur
”Untuk hasil SPMB jenjang SMA sudah keluar, sedangkan SMK masih berproses,” ujarnya Selasa (30/6).
Menurut Febri, dari total daya tampung 1.836 kursi di sepuluh SMA negeri, hanya terisi 1.400 siswa. Dengan demikian, masih terdapat 436 kursi yang belum terisi.
”Dari sepuluh SMA negeri, hanya satu sekolah yang memenuhi pagu daya tampung,” katanya.
Berdasarkan data yang dihimpun Jawa Pos Radar Madura (JPRM), satu satunya sekolah yang berhasil memenuhi kuota hanya SMAN 1 Sampang.
Sembilan SMA negeri lainnya masih berada di bawah target. Dia menduga kondisi tersebut dipengaruhi tingginya minat masyarakat terhadap SMAN 1 Sampang.
Selain itu, sebagian lulusan SMP memilih melanjutkan pendidikan ke sekolah swasta maupun pondok pesantren.
”Sepertinya karena minat siswa dan orang tua masih memfavoritkan SMAN 1 Sampang. Mungkin juga ada yang memilih sekolah swasta, pesantren, atau tidak melanjutkan sekolah,” ungkapnya.
Febri menambahkan, terdapat tiga jalur yang hingga kini belum terserap maksimal, yakni jalur mutasi orang tua, anak buruh, dan penyandang disabilitas.
Bahkan, pendaftar pada jalur tersebut sangat minim dan sebagian tidak memenuhi persyaratan.
”Kuota yang tidak terisi kami alihkan ke jalur lain pada tahap yang sama,” jelasnya.
Kondisi tersebut akan menjadi bahan evaluasi pada pelaksanaan SPMB tahun depan.
Cabdindik mendorong sekolah untuk meningkatkan kualitas promosi dan inovasi agar lebih diminati masyarakat.
Selain itu, usulan jumlah rombongan belajar (rombel) juga akan disesuaikan dengan kondisi riil di lapangan.
”Sekolah yang daya tampungnya jauh dari tingkat keterisian akan kami evaluasi. Penambahan maupun pengurangan rombel akan dikaji,” paparnya.
Baca Juga: BRI Peduli Latih 60 Purna PMI di Cirebon, Perkuat Kewirausahaan dan Ketahanan Ekonomi
Sementara itu, Kepala SMAN 2 Sampang Dimas Bayu Perdana menilai belum terpenuhinya kuota dipengaruhi faktor letak geografis.
Yakni, sekolah berdekatan dengan sekolah lain. Akibatnya, dari tiga rombel yang diusulkan, hanya dua rombel yang berhasil terisi.
Meski demikian, pihaknya berharap masih ada kebijakan yang membuka kesempatan penerimaan peserta didik tambahan.
Masih ada sekitar 10 calon siswa yang berminat masuk ke SMAN 2 Sampang. Dia berharap ada kebijakan lanjutan, tetapi tetap menunggu petunjuk teknis.
”Untuk evaluasi tentu akan terus kami lakukan,” tandasnya. (ay/han)
Editor : Hera Marylia Damayanti