Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Harga Produksi Naik, Petani Garam Waswas

Hera Marylia Damayanti • Senin, 18 Mei 2026 | 08:52 WIB
PERSIAPAN: Petani garam memperbaiki geomembran di tambaknya yang berlokasi di Kelurahan Karang Dalem, Kecamatan Sampang, Minggu (12/4). (AYU LATIFAH/JPRM)
PERSIAPAN: Petani garam memperbaiki geomembran di tambaknya yang berlokasi di Kelurahan Karang Dalem, Kecamatan Sampang, Minggu (12/4). (AYU LATIFAH/JPRM)

SAMPANG, RadarMadura.id – Petani garam di Kabupaten Sampang dihadapkan dengan situasi dilematis.

Sebab, biaya produksi yang harus dikeluarkan makin membengkak. Sedangkan harga kristal asin diprediksi makin anjlok.

Wakil Ketua Paguyuban Pelopor Petambak dan Pedagang Garam Madura (P4GM) Sampang M. Saiful memaparkan, proses produksi kristal asin mulai dilakukan oleh petani.

Antara lain, membersihkan petakan lahan tambak garam, melakukan pengerasan kontur tanah dan pemasangan geomembran.

”Bahkan, sebagian sudah ada yang siap kristalisasi, tapi itu hanya sekitar 20 persen,” ujarnya Kamis (14/5).

Sebagian besar petani memulai produksi dengan harap-harap cemas. Alasannya, harga garam kini terus merosot.

Saat ini garam yang baru diproduksi hanya dibanderol dengan harga Rp 1.500 per kilogram. Sedangkan untuk garam lama dibanderol Rp 1.850 per kg.

”Kalau kemarau tahun ini sampai September, kami memprediksi harga garam hanya sekitar Rp 1.000 per kilogram. Bahkan pernah di angka Rp 600,” tambahnya.

Fluktuasi harga garam sering terjadi pada masa produksi. Saat ketersediaan garam melimpah, maka harganya makin merosot.

Sehingga, berpengaruh terhadap pendapatan petambak garam.

Sedangkan standardisasi harga garam selama ini tak pernah ditentukan atau diatur oleh pemerintah.

”Oleh karena itu, standardisasi harga garam itu perlu. Selama ini petani hanya bisa menerima (dengan harga yang ditentukan pabrikan). Sedangkan ketika petani mau mengeluh tidak bisa,” jelasnya.

Di sisi lain, sambung Saiful, biaya produksi yang harus dikeluarkan petani garam makin membengkak.

Salah satunya, biaya pengadaan geomembran. Tahun lalu, sarana produksi itu hanya dibanderol dengan harga Rp 14 ribu per meter, kini naik menjadi Rp 24 ribu per meter.

”Biaya plastik sekarang tinggi, jadi harga geomembran juga naik,” ungkapnya.

Kabid Perikanan Budi Daya Dinas Perikanan (Diskan) Sampang Moh. Mahfud menyatakan, kenaikan harga geomembran akibat dampak geopolitik.

Karena selama ini bahan baku pembuatan plastik masih impor.

”Harga bahan baku pembuatan plastik saat ini naik,” katanya.

Mahfud membenarkan harga garam fluktuatif. Bahkan, berpotensi merosot saat musim produksi.

Penyebabnya, hingga saat ini pemerintah tidak pernah menentukan harga eceran tertinggi (HET) garam. Sebab, garam belum termasuk sebagai bahan pokok.

”Jadi harganya memang bergantung mekanisme pasar, rata-rata yang menentukan harga pembeli dan diamini oleh pemilik,” ungkapnya.

Anggota Komisi II DPRD Sampang Moh. Anwar menyatakan, nilai jual garam sesuai hukum ekonomi.

Saat ketersediaan melimpah, maka harganya cenderung murah. Sedangkan saat ketersediaannya menipis, harganya melonjak naik.

Namun, dia mengakui pentingnya penentuan harga garam. Khususnya oleh badan usaha milik negara (BUMN) yang biasa menyerap garam petani. Yakni, PT Garam.

”Nanti kami bahas lebih lanjut mengenai hulu hilir mengenai garam ini,” tandasnya. (ay/jup)

Editor : Hera Marylia Damayanti
#kenaikan harga geomembran #P4GM #biaya produksi #petani garam