SAMPANG, RadarMadura.id – Ironi dunia pendidikan di Kabupaten Sampang masih belum berakhir.
Di tengah tuntutan peningkatan kualitas belajar, sebanyak 658 sekolah justru tercatat dalam kondisi rusak.
Ratusan ruang belajar yang tak lagi layak pakai itu kini menunggu uluran revitalisasi dari pemerintah pusat.
Kondisi prasarana pendidikan di Kabupaten Sampang masih membutuhkan banyak pembenahan.
Dinas Pendidikan (Dispendik) Sampang mencatat masih ada ratusan sekolah yang mengalami kerusakan.
Kepala Dispendik Sampang Nor Alam menyampaikan, kerusakan infrastruktur sekolah masih cukup banyak.
Baik di jenjang sekolah dasar (SD) maupun sekolah menengah pertama (SMP), seluruhnya menjadi fokus pembenahan ke depan.
”Kami terus berupaya memperbaiki sekolah yang rusak karena mayoritas merupakan bangunan lama,” katanya Kamis (7/5).
Berdasarkan catatan dispendik, jumlah sekolah rusak di semua jenjang mencapai 658 lembaga.
Perinciannya, sebanyak 464 sekolah berada di jenjang SD dan 194 sekolah di jenjang SMP.
”Sekolah yang rusak ini telah kami usulkan melalui program revitalisasi ke pemerintah pusat,” tambahnya.
Langkah tersebut ditempuh karena keterbatasan anggaran daerah.
Meski demikian, untuk bisa lolos dalam program yang bersumber dari APBN itu juga tidak mudah.
Baca Juga: iPad Pro M5 Masih Jadi Andalan Kreator Konten 2026 Meski Tablet Android Makin Murah dan Canggih
Salah satu persyaratannya adalah status lahan sekolah harus sudah bersertifikat.
”Kendala di Sampang ada pada status lahan yang harus bersertifikat. Saat ini masih banyak sekolah yang lahannya belum bersertifikat,” jelasnya.
Nor Alam menambahkan, tahun ini pihaknya telah mengusulkan sebanyak 194 sekolah dari semua jenjang untuk program revitalisasi.
Usulan tersebut menyesuaikan kuota yang disediakan pemerintah pusat dan diprioritaskan bagi sekolah dengan kategori rusak berat.
”Tapi sementara kami masih menunggu berapa yang disetujui,” ujarnya.
Selain itu, dispendik juga tetap melakukan perbaikan sarana dan prasarana sekolah melalui anggaran yang tersedia.
Di jenjang SMP, terdapat 19 titik sekolah yang mendapatkan perbaikan dengan anggaran sebesar Rp 11,4 miliar.
Sebagian anggaran tersebut berasal dari aspirasi pokok pikiran (pokir) dewan. Sementara itu, di jenjang SD, perbaikan masih terkendala kondisi fiskal daerah.
”Mereka sudah melakukan perawatan secara maksimal di sekolah. Tapi, dana BOS tidak cukup untuk rehab,” paparnya.
Terpisah, Kepala SDN Rongtengah 5 Surati menyampaikan, terdapat tiga ruang kelas di sekolahnya yang mengalami rusak berat.
Kondisinya sudah lama tidak ditempati karena bangunannya keropos. Hingga kini pihak sekolah masih menunggu realisasi program revitalisasi.
”Informasi yang kami dapat tahun ini ada program revitalisasi. Tapi, kami belum tahu kapan pelaksanaannya. Pengajuan sudah kami lakukan terus-menerus. Semoga segera terealisasi, kasihan siswa,” tandasnya. (ay/han)
Editor : Hera Marylia Damayanti