SAMPANG, RadarMadura.id – Ada yang berbeda dari suasana ngabuburit di Desa Daleman, Kecamatan Kedungdung, Kabupaten Sampang.
Di antara hiruk-pikuk pemburu menu buka puasa, tampak anak-anak duduk tenang membuka lembar demi lembar buku.
Tawa mereka sesekali pecah. Bukan karena permainan gawai, melainkan dari cerita yang mereka baca. Sementara orang tua mereka memilih jajanan untuk menu berbuka bersama keluarga.
Ramadan di Desa Daleman sore itu terasa lebih hidup. Bukan hanya oleh transaksi, tetapi juga oleh pengetahuan.
Semua bermula dari inisiatif Ikatan Solidaritas Pemuda untuk Rakyat (ISPUR) Sampang.
Mereka menghadirkan konsep sederhana namun bermakna; baca buku sambil nikmati takjil. Sebuah ruang di mana literasi dan ekonomi desa berjalan berdampingan.
”Sejak sore warga mulai berdatangan. Anak-anak bisa membaca buku gratis, sementara orang tua berbelanja takjil,” tutur Herman, panitia kegiatan.
Bekerja sama dengan Perpustakaan Desa Parjhugha, kegiatan ini tidak sekadar menghadirkan buku.
Ada warna, ada permainan, dan ada interaksi yang menghidupkan budaya literasi di tengah masyarakat desa.
Dari tikar sederhana yang digelar di depan stan, anak-anak larut dalam dunia mereka sendiri.
Sebagian mengeja, sebagian lainnya sudah lancar membaca. Tikar warna-warni menjadi saksi kreativitas kecil yang sedang tumbuh.
Bagi warga, bazar ini bukan hanya tempat membeli takjil. Dia menjelma ruang pertemuan: antara orang tua dan anak. Antara ekonomi dan edukasi. Antara kebiasaan lama dan harapan baru.
”Yang datang bukan hanya untuk membeli makanan, tapi juga mendampingi anak-anak belajar,” ujar Herman.
Di sisi lain, geliat ekonomi desa ikut terasa. Stan-stan UMKM dipadati pembeli. Pedagang tersenyum, dagangan laris, dan roda ekonomi berputar lebih cepat menjelang waktu berbuka.
Namun yang paling berharga bukan hanya angka penjualan, melainkan perubahan kecil yang mulai tampak.
Yakni, anak-anak yang antusias membaca, orang tua yang ikut terlibat, dan suasana desa yang terasa lebih hangat.
Sekitar 30 anak tercatat ikut serta dalam kegiatan literasi ini. Jumlah yang mungkin terlihat kecil. Akan tetapi, menjadi langkah awal bagi tumbuhnya budaya membaca di desa.
ISPUR Sampang berharap, kegiatan yang berlangsung hingga pertengahan Maret itu tidak berhenti sebagai agenda musiman.
Lebih dari itu, mereka ingin menjadikannya sebagai gerakan kecil yang menyalakan cahaya literasi dari desa.
Di Desa Daleman, ngabuburit kini tak lagi sekadar menunggu azan Magrib. Tapi, berubah menjadi sarana menyusuri halaman buku, menumbuhkan mimpi, dan menguatkan kebersamaan. (ay/han)
Editor : Hera Marylia Damayanti