SAMPANG, RadarMadura.id - Perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan (Jamsostek) bagi nelayan di Kabupaten Sampang sangat rendah. Padahal, resiko kecelekaan rentan dialami nelayan. Sampai sekarang, belasan ribu nelayan belum tercover Jamsostek.
Plt Kepala Dinas Perikanan (Diskan) Sampang Fajar Sodiq menyampaikan, perlindungan jaminan sosial bagi nelayan telah difasilitasi.
Namun, perlindungan bagi tersebut hanya bersifat stimulan. Bantuan tersebut juga bergantung pada ketersediaan anggaran.
”Program ini biasanya kami diketahui setelah rapat koordinasi dengan disnaker. Pelaksananya ada di dinas lain, bukan dinas perikanan,” katanya Selasa (26/6).
Jika mengacu tahun lalu, nelayan yang tercover jamsostek hanya 1.241 orang. Iuran mereka dibiayai melalui dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT).
Artinya, terdampat 14.356 nelayan tidak tercover perlindungan. Sebab, jumlah nelayan di Kota Bahari mencapai 15.597 orang
”Ada juga yang ikut mandiri di bawah 50 orang. Tapi tidak mereka lanjutkan,” ungkapnya.
Fajar menjelaskan, puluhan nelayan yang tidak melanjutkan perlindungan karena kesadaran untuk mengikuti program jamsostek rendah. Padahal, pekerjaan nelayan beresiko tinggi.
”BPJS Ketenagakerjaan gencar melakukan sosialisasi. Dibantu kami yang juga memberikan pemahaman, tapi kesadaran masyarakat masih rendah,” terangnya.
Terpisah, Koordinator Penyuluh Perikanan KPP Wilayah Sampang Wahyu Eko Wijaya memyampaikan, dirinya telah mengajukan tambahan kuota program perlindungan nelayan.
Sebab, kesadaran nelayan untuk mendaftar secara mandiri sangat rendah. Pihaknya mengaku sudah melakukan sosialisasi terkait manfaat program tersebut.
”Setiap pendampingan kami sampaikan, tapi memang mind set nelayan yang kurang perduli pada program tersebut,” tandasnya. (ay/bil)
Editor : Amin Basiri