SAMPANG, RadarMadura.id – Belasan sekolah menengah pertama (SMP) kecipratan proyek fisik pada tahun anggaran 2024. Proyek itu bersumber dari dana alokasi khusus (DAK). Sayangnya, kondisi bangunan sekolah banyak yang rusak. Hal ini sedang diusut Kejari Sampang.
Data yang dihimpun Jawa Pos Radar Madura (JPRM), ruang kelas SMPN 1 Pangarengan direhab menggunakan DAK 2024. Pagu anggarannya sebesar Rp 270.611.165. Anggaran tersebut dialokasikan untuk memperbaiki ruang kelas VII-C dan VIII-A.
Saat ini, dua ruangan tersebut mengalami kerusakan. Dinding dan kolom di ruangan kelas VII-C dan kelas VIII-A retak. Selain itu, lantai yang diperbaiki tahun lalu juga pecah. Proyek ini dikerjakan oleh CV Anagata Mulya.
Hasil rehabilitasi ruang kelas SMPN 3 Sampang juga mengalami kerusakan. Sekolah ini mendapat anggarannya Rp 629.408.165 dari DAK 2024. Anggaran tersebut digunakan untuk pembangunan gedung laboratorium dan gedung ruang kelas.
Dua bangunan tersebut juga mengalami kerusakan. Dinding retak dan gipsun dalam kelas mulai rusak. Paket kegiatan ini dikerjakan oleh CV Karya Mandiri.
Kepala SMPN 1 Pangarengan Jumadi Hadi Saputra mengatakan, pada 2024 sekolahnya memang mendapatkan proyek rehabilitasi dua ruang kelas. ”Pekerjaannya sudah tuntas tahun lalu dan sudah digunakan untuk siswa kelas VII-C dan VIII-A,” katanya.
Berkaitan dengan kerusakan ruang kelas, pihaknya tidak berkomentar banyak. Alasannya, pihaknya hanya menerima hasil rehab.
”Yang jelas, kami hanya sebagai kelompok penerima manfaat (KPM). Rehabilitasi ini memang kami yang mengajukan melalui dapodik,” ujarnya.
Jumadi mengakui jika sejumlah dinding retak dan lantai pecah. Kerusakannya tidak terlalu parah, tapi dia khawatir membahayakan siswa jika dibiarkan. Dia mengaku sudah mengetahui jika proyek tersebut sedang diusut oleh Kejari Sampang.
”Kami pasrahkan semuanya pada aparat penegak hukum (APH). Kami hanya penerima manfaat, selebihnya bergantung kepada APH. Intinya kami berharap yang terbaik untuk pendidikan di Kabupaten Sampang,” ungkapnya.
Terpisah, Plt Kepala SMPN 3 Sampang Teguh Suparyanto menyampaikan, proyek rehabilitasi ruang kelas sudah ditempati siswa. Selama proses rehab, Teguh mengaku tidak tahu rencana anggaran biaya (RAB) proyek tersebut. Karenanya, dia tidak bisa berkomentar banyak berkaitan dengan kualitas proyek rehabilitasi di sekolah tersebut.
”Sebelumnya, pagu anggarannya juga kami tidak tahu. Baru tahu saat selesai pembangunan,” ujarnya.
Menurutnya, beberapa dinding bangunan diakui mengalami keretakan. Termasuk, gipsum ruang laboratorium mulai rusak.
”Ruangan laboratorium ini memang jarang dipakai. Sementara tidak membahayakan. Kami memang tidak memperbaikinya, agar tidak disangka kami yang merusak nanti,” bebernya.
Eks Kabid SMP Dispendik Sampang Ach. Tohairuddin tidak bisa dimintai keterangan terkait beberapa kerusakan proyek SMP tersebut. Saat dihubungi melalui sambungan telepon yang biasa digunakan, dia tidak merespons. (bai/bil)
Editor : Hera Marylia Damayanti