SAMPANG, RadarMadura.id – Kegiatan belajar mengajar (KBM) di SDN Madulang 2 di Kecamatan Omben, Sampang, tidak efektif. Sebab, KBM tidak digelar ruang kelas. Tetapi, di teras rumah warga. Penyebabnya, ruang kelas di lembaga itu rusak parah.
Penyelenggaraan KBM di teras rumah warga tersebut berlangsung hampir sebulan. Ironisnya, hingga saat ini belum ada tanda-tanda perbaikan terhadap sarana pendidikan SDN Madulang 2.
Siswa SDN Madulang 2 Nabila menyatakan, pelaksanaan KBM di teras rumah warga berlangsung sejak tiga pekan lalu. Keterbatasan fasilitas tersebut membuatnya tidak nyaman saat belajar.
”Karena saat mau menulis susah, harus membungkuk karena tidak ada mejanya,” ujar siswa kelas III tersebut.
Plh Kepala SDN Madulang 2 Ahmad Susanto menjelaskan, terdapat beberapa ruang kelas yang tidak difungsikan karena rusak parah. Sebab, dikhawatirkan roboh dan menimpa siswa. Tingkat kerusakan ruang kelas yang tidak difungsikan mencapai 85 persen.
”Semua bangunan di sekolah kami ini sudah tidak layak digunakan untuk KBM, karena mayoritas rusak,” ujarnya.
Jumlah siswa di SDN Madulang 2 mencapai 149 murid. Awalnya, KBM dilaksanakan di ruang kelas yang berada di sisi selatan dan timur. Siswa kelas I–III menempati ruang kelas yang berada di sisi selatan. Sementara untuk siswa kelas IV–VI menempati ruang kelas di sebelah timur.
”Bangunan sebelah timur juga dimanfaatkan untuk ruang guru sebelum adanya kantor,” imbuhnya.
Seiring berjalannya waktu, bangunan yang biasanya ditempati KBM kelas I–III tidak difungsikan. Sebab, status lahannya bermasalah. Sehingga, bangunan tersebut tidak dirawat, hingga akhirnya rusak berat.
Sedangkan KBM siswa kelas I–III dipindah di gedung sebelah selatan. Caranya, dengan menyekat ruangan agar tidak mengganggu KBM kelas IV–VI. Sehingga, satu ruang difungsikan menjadi dua kelas.
Namun, atap bangunan yang berada sisi sebelah timur ambruk Kamis (23/10). Beruntung, peristiwa itu tidak menimbulkan korban. Sebab, bangunan di sisi sebelah timur tersebut tidak digunakan sejak lima bulan lalu.
Sedangkan siswanya menyelenggarakan KBM di gedung perpustakaan dengan sistem sif. Siswa kelas I–III masuk pukul 07.00–09.00. Sedangkan siswa kelas IV–IV masuk mulai pukul 09.00 hingga selesai. Tetapi, penerapan sistem sif tersebut tidak berlangsung lama.
Sebab, tidak efektif karena banyak siswa tidak masuk sekolah. ”Setelah kami mencarikan solusi, akhirnya KBM menumpang di rumah warga yang jaraknya sekitar 75 meter dari sekolah,” ujarnya.
Santo mengaku sudah melaporkan keterbatasan sarpras yang dialami lembaganya ke Dinas Pendidikan (Dispendik) Sampang. Pihaknya berharap pemerintah memberikan perhatian serius terhadap keterbatasan fasilitas yang terjadi di sekolahnya.
”Karena ini berpengaruh terhadap optimalnya KBM di sekolah kami,” bebernya.
Kabid SD Dispendik Sampang Abdul Rahman belum dapat dikofirmasi tentang kerusakan fasilitas pendidikan di SDN Madulang 2. Saat dihubungi melalui sambungan telepon yang biasa digunakan tidak merespons. (bai/jup)
Editor : Hera Marylia Damayanti