SAMPANG, RadarMadura.id + Ketersediaan air menghmabat produktivitas lahan pertanian di Kabupaten Sampang.
Sebab, lahan pertanian di Kota Bahari didominasi lahan tadah hujan.
Hal ini menjadi tantangan bagi Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Disperta KP) Sampang.
Kepala Disperta KP Sampang Suyono mengatakan, luas lahan pertanian di Sampang sekitar 29 ribu hektare.
Sekitar 21 hektare tergolong lahan tadah hujan. Artinya mayoritas lahan bisa produktif jika ketersediaan air mencukupi.
Menurutnya, pemerintah daerah berupaya agar lahan pertanian tetap produktif.
Diantaranya melalui program bantuan alat mesin pertanian (alsintan), inovasi produk pertanian, dan program lainnya.
Meski begitu, keterbatasan sumber air seringkali menghambat produktivitas lahan pertanian.
”Tantangannya, minimnya sumber air saat kemarau. Sebab, lahan pertanian banyak yang bergantung pada air hujan, ungkapnya.
Menurut Suyono, masalah kekurangan air bisa diatasi dengan membangun embung.
Tapi anggaran daerah terbatasan untuk membangun embung, ujarnya.
Aktivis PMII Sampang Suryadi meminta agar persoalan tersebut harus diidentifikasi sejak awal.
OPD teknis harus menginventarisir lahan-lahan tadah hujan yang butuh air saat kemarau.
Dengan begitu, bisa dikalkulasi kebutuhan air saat musim kemarau untuk mendukung produktivitas lahan pertanian.
Dia mendorong agar pembangunan embung segera dilakukan. Jika APBD tidak cukup, maka pemerintah daerah harus mencari sumber anggaran yang lain.
”Sektor pertanian ini termasuk program prioritas nasional.
Persoalan keterbatasan air harus segera diatasi, saran Eks Sekretaris PC PMII itu. (jun/bil)
Editor : Amin Basiri