SAMPANG, RadarMadura.id – Salah satu korban ambruknya musala Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Buduran, Kabupaten Sidoarjo, berasal dari Sampang. Yaitu, Mochammad Mashudulhaq, santri asal Desa Majangan, Kecamatan Jrengik.
Nyawa santri berusia 14 tahun tersebut tidak tertolong setelah menjadi korban reruntuhan gedung pada Senin (29/9). Peristiwa memilukan itu terjadi sekitar pukul 15.00 saat santri melaksanakan salat berjemaah.
Sehingga, banyak santri yang menjadi korban atas insiden tersebut. ”Adik saya mondok di Pesantren Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, sudah dua tahun,” ujar Achmad Rizal Romdoni, kakak korban.
Keluarga Achmad Rizal Romdoni sempat menjenguk Mochammad Mashudulhaq sebelum tragedi musala ambruk. Kala itu, korban hanya menyampaikan kasihan kepada ibundanya.
Pihak keluarga kaget saat mendengar informasi tentang ambruknya musala Ponpes Al Khoziny. Karena itu, Rizal berserta keluarga langsung bergegas ke Kota Udang untuk mencari tahu tentang keberadaan adiknya.
Namun, ternyata Mochammad Mashudulhaq termasuk sebagai salah satu korban yang tidak selamat. Jenazah adiknya kemudian baru dipulangkan ke tanah kelahirannya Kamis (2/10). ”Jenazah almarhum sampai di rumah Kamis (2/10) pagi hari,” tuturnya. (bai/jup)
Editor : Hera Marylia Damayanti