SAMPANG, RadarMadura.id – Suasana Dusun Poteran, Desa Dharma Camplong, Kecamatan Camplong, Sampang, kemarin terlihat diselimuti mendung. Beberapa petani terlihat sibuk di sawahnya masing-masing untuk memantau daun emas (tembakau) yang ditanamnya. Salah satunya Junaidi.
Saat itu jarum jam menunjukkan pukul 09.00. Junaidi terlihat tengah duduk di tepi sawah, berteduh di bawah pohon pisang. Pohon tersebut menjadi salah satu pagar pembatas antara sawah miliknya dengan ladang petani lainnya.
Kru Jawa Pos Radar Madura (JPRM) menghampiri pria yang tengah mengeringkan keringat tersebut. Ditemani segelas kopi, pria bertopi hitam itu mempersilakan koran ini duduk. Dia pun memulai perbincangan dan kemudian saling memperkenalkan diri.
Pria bersarung motif kotak itu menceritakan, pada musim tanam tembakau tahun ini, dia juga menanami sawahnya dengan daun emas (tembakau). Tahun ini merupakan tahun kedua dirinya menanami sawah dengan tembakau.
”Kalau tahun-tahun sebelumnya, kami menyewakan sawah ke orang lain untuk ditanami tembakau,” ujarnya.
Pria 40 tahun itu menyatakan, musim tanam tembakau tahun ini lebih banyak menguras tenaga dan pikiran. Sebab, dia sudah dua kali menanam bibit. ”Bibit pertama yang kami tanam, saat berusia tujuh hari, tiba-tiba hujan lebat dan menggenangi sawah,” ucapnya.
Hujan lebat di sekitar sawah miliknya tersebut menyebabkan 7.000 bibit tembakau yang baru ditanam sepekan terendam banjir. Kedalaman air banjir yang menggenangi sawahnya sampai betis orang dewasa.
”Kami mulai menanam pada awal Juli. Semua bibit yang terendam banjir mati semua. Banjir merendam sawah saya selama dua hari,” terangnya.
Bapak dari empat anak itu menuturkan, 1.000 bibit tembakau dibeli seharga Rp 30.000. Namun, harganya kemudian naik menjadi Rp 70.000. ”Harganya sudah naik dua kali lipat dari harga sebelumnya,” tuturnya.
Junaidi mengutarakan, air baru surut pada hari ketiga pascabanjir. Dia masih menunggu satu pekan untuk kembali menanam bibit tembakau. ”Tapi masalahnya, untuk membeli bibit kembali saya sudah tidak punya modal,” katanya.
Sebenarnya, kata dia, pihak keluarga menyarankan tidak menanam tembakau lagi. Tapi, Junaidi tidak mau berputus asa dan memilih kembali menanam tembakau. ”Saya sih optimis saja. Siapa tahu nanti harga tembakau makin mahal,” ulasnya.
Sembari menunjukkan tanaman tembakau yang saat ini sudah berusia satu bulan setengah. Junaidi menuturkan, pada masa tanam tahap kedua, modalnya hasil meminjam ke kerabat. ”Sisanya, saya melaut untuk tambahan modal,” ungkapnya.
Ditambahkan, dari hasil melaut itu, cuan yang diperoleh memang tidak seberapa. Sebab, saat ini bukan musim ikan. ”Paling banyak saya mendapatkan penghasilan Rp 100.000. Kalau ikannya sedikit, paling hanya dapat Rp 30 ribu,” bebernya.
Menurutnya, saat ini tembakaunya belum laku. Tembakau tersebut akan dipanen 1,5 bulan lagi. Dia berharap harga tembakau mahal dan sesuai dengan jerih payah para petani.
”Semoga harga tembakau tahun ini bisa mahal. Mudah-mudahan tidak diguyur hujan lagi. Kalau hujan lagi, kami pasti gagal panen. Pedagang tidak akan berminat membeli tembakau kalau sudah terkena hujan,” tandasnya. (bai/yan)
Editor : Hera Marylia Damayanti