SAMPANG, RadarMadura.id – PT Geliat Sampang Mandiri (GSM) tidak bisa menghasilkan pendapatan sendiri. Sebab, badan usaha milik daerah (BUMD) yang bergerak di sektor minyak dan gas itu tidak memiliki bisnis. Karena itu, untuk mencari pendapatan asli daerah (PAD) mengandalkan anak perusahaan.
Direktur Utama PT GSM Tamsul mengatakan, pihaknya memiliki tiga anak perusahaan. Yakni, PT Sampang Sarana Shorebase (SSS), PT Sampang Mandiri Amanah (SMA), dan PT Sampang Mandiri Perkasa (SMP). Selama ini, PAD yang dihasilkan bersumber dari anak perusahaan.
Dia menyadari jika perusahaannya sangat bergantung kepada hasil bisnis anak perusahaan. Termasuk biaya operasional perusahaan. ”Kami tidak bisa mengembangkan berbisnis sesuai perintah pemilik saham atau pemerintah daerah,” ujarnya.
Meski begitu, PT GSM tetap punya kewajiban untuk menyumbang PAD. Selama ini, PAD yang disetor ke daerah merupakan hasil dari kegiatan bisnis anak perusahaan.
Tamsul mengungkapkan, pihaknya berusaha untuk melakukan kegiatan bisnis agar tidak bergantung pada anak perusahaan. Rencana ini akan disampaikan kepada pemerintah daerah sebagai pemegang saham pada rapat umum pemegang saham (RUPS) berikutnya.
”Nanti kami akan meminta pertimbangan para pemegang saham PT GSM untuk melakukan kegiatan bisnis,” ungkapnya.
Anggota Komisi II DPRD Sampang Moh. Anwar menyampaikan, selama ini dirinya mencermati pengasilan dari anak perusahaan PT GSM cukup tinggi. Tapi, pendapatan yang disetor ke pemerintah terbatas. Sebab, harus dipotong untuk biaya operasional PT GSM.
Untuk menggerakan PT GSM agar punya kegiatan bisnis merupakan ranah pemerintah daerah. Seharusnya, kecilnya PAD yang disetor dijadikan evaluasi oleh para pemegang saham. ”Kami mendorong agar semua BUMD maksimal bekerja terutama dalam mendukung pendapatan daerah,” tukasnya. (jun/bil)
Editor : Hera Marylia Damayanti