SAMPANG, RadarMadura.id – Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Haramain Duwa’ Pote, Sampang, tetap eksis. Pesantren yang didirikan tiga tahun sebelum Indonesia merdeka itu tetap kental dikenal dengan pondok salaf.
Kepala MA Al-Haramain Vivin Maimunah Hasan Iraqie mengatakan, Ponpes Al-Haramain Duwa’ Pote juga sudah membuka sekolah formal. Namun, meski sudah terdapat sekolah formal, ponpesnya tetap memegang teguh sistem salaf.
”Walaupun saat ini sudah ada sekolah formalnya, landasan ponpes kami tetap berpegang teguh pada mazhab Syafi’i,” ujarnya.
Metode belajar mengajar santri tetap seperti zaman dulu. Yakni, menggunakan metode sorogan. Beberapa kitab yang diajarkan terhadap santri bermacam-macam (lihat grafis).
”Dari dulu kitab yang diajakan pada santri tidak berubah,” jelas Neng Imun.
Pesantren juga memiliki perpustakaan. Perpustakaan tersebut berisi berbagai bahan bacaan. Antara lain, kitab kuning, buku sejarah, buku keilmuan, buku pengetahuan umum, dan sebagainya.
”Saat jam istirahat, kami buka perpustakaan yang ada di pesantren. Sebab, para santri tidak diperbolehkan memegang handphone. Agar pengetahuannya lebih luas, kami beri waktu santri berkunjung ke perpustakaan,” jelasnya.
Dia menambahkan, pesantren juga mengasah kemampuan santri melalui majalah Hikmah yang dimiliki oleh pesantren. Majalah ini diterbitkan setahun sekali meski sederhana.
”Agar santri belajar literasi, editing, dan sebagainya. Santri bebas mengirim karya tulis berupa opini, biografi, puisi, dan sebagainya. Tujuan utama majalah itu untuk menampung karya santri,” bebernya.
Neng Imun berpesan kepada alumni untuk menekuni profesi ataupun pekerjaan masing-masing agar tidak melupakan identitas dirinya sebagai santri. Ilmu yang sudah didapat di pondok mesti terus diterapkan.
”Jangan lupakan dan tetap berpegang teguh pada ilmu agama,” pesannya. (bai/luq)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti