SAMPANG, RadarMadura.id – Santri Ponpes Nurul Jadid tidak hanya belajar saat berada di pesantren. Meski sudah boyong dari pesantren, mereka tetap bisa mengaji.
Pesantren memanfaatkan perkembangan teknologi untuk mengadakan kegiatan kajian kitab secara live streaming sejak empat tahun yang lalu.
Ketua Yayasan Ponpes Nurul Jadid KH Ali Wahdi Dakholi mengatakan, pihaknya berupaya untuk mencetak kader yang bisa mengajar kitab maupun sains.
Karena itu, semua santri didorong agar menyelesaikan jenjang pendidikan hingga lulus kuliah. Dengan begitu, ilmu pengetahuan yang dipelajari bermanfaat bagi dirinya sendiri dan pesantren.
”Alumni pesantren banyak yang sukses. Ada yang di kebidanan, kesehatan, dan sebagainya,” katanya.
Alumni pesantren diminta tidak melupakan jati dirinya sebagai santri. Yakni, tetap memegang teguh Al-qoim bi huquqillah wa huquqi ibadih (menegakkan hak-hak Allah dan hak-hak hambanya). ”Hidup di mana saja, jangan lupa untuk beramar makruf nahi mungkar,” pesannya.
Kiai Ali menyampaikan, alumni pesantren banyak yang bekerja sebagai perantau ke Makassar, Malaysia, dan daerah lainnya.
Meski begitu, alumni tetap bisa mengikuti kegiatan pesantren melalui media sosial (medsos).
”Alumni yang merantau ke luar daerah meminta agar pondok melakukan kajian kitab melalui live streaming (siaran langsung). Sekarang sudah berjalan lima tahun,” ujarnya.
Pesantren memanfaatkan perkembangan teknologi sebagai media untuk mempererat hubungan alumni.
Selama Ramadan, kajian tersebut dilaksanakan setiap hari. Jika selain Ramadan, kajian kitab melalui live streaming dilakukan sepekan sekali.
”Harapannya, ilmu santri terus bertambah meski sudah menjadi alumni dan merantau di luar daerah. Santri itu harus Wa qul rabbi zidni ilma serta selalu Ittaqullah haitsuma kunta,” tukasnya. (bai/bil)
Editor : Achmad Andrian F