SAMPANG, RadarMadura.id – Usia Wayassaroh mungkin sudah tidak muda lagi. Namun, semangatnya masih seperti anak muda. Di usia 46 tahun, ibu empat anak ini berhasil memperoleh penghargaan dari Kementerian Kesehatan. Dia dinobatkan sebagai peserta kader terbaik kabupaten/kota dalam kegiatan Jambore Kader Posyandu 2023.
Penghargaan ini diterima Wayassaroh tidak terlepas dari semangat selama menjadi kader posyandu di Desa Temoran, Kecamatan Omben, Sampang. Hampir separo masa hidupnya dihabiskan sebagai kader posyandu. Dia sudah sekitar 21 tahun aktif berkecimpung dalam program dan kegiatan posyandu.
Penghargaan itu diterima setelah melalui proses yang cukup panjang. Dia harus bersaing dengan ribuan kader posyandu mulai tingkat Kabupaten Sampang, Provinsi Jawa Timur, dan tingkat nasional. Selain penilaian administrasi, Wayassaroh juga diwawancarai oleh tim juri.
”Proses seleksinya mulai pertengahan tahun (2023). Jadi, semua kader mengirim data, termasuk saya,” ujar perempuan yang biasa disapa Wayas itu.
Beberapa poin menjadi bahan penilaian tim juri. Di antaranya, masa pengabdian menjadi kader posyandu hingga inovasi program yang dijalankan. Jika melihat masa pengabdian, Wayassaroh sudah aktif menjadi kader posyandu sejak usia 25 tahun.
Perempuan kelahiran 1977 ini memiliki beberapa program inovasi. Inovasi ini menjadi senjata Wayas menarik masyarakat untuk berkunjung ke posyandu. Salah satunya dengan cara memberikan door prize. ”Masyarakat yang datang ke posyandu kami beri hadiah meski hanya sabun mandi,” katanya.
Selain itu, Wayas juga berhasil memproduksi kudapan sendiri untuk pemberian makanan tambahan (PMT). Dia membuat kudapan berbahan daun kelor diolah menjadi kue basah dan kue kering. Makanan ini rutin diberikan saat kegiatan posyandu di wilayah Kecamatan Omben.
Wayas juga mengolah buah sukun menjadi donat. Menurutnya, Kecamatan Omben merupakan daerah penghasil sukun terbanyak di Kota Bahari. Donat sukun dijadikan kudapan PMT balita dan lansia ketika datang ke posyandu. ”Kami sudah bentuk kelompok dan diberdayakan untuk memproduksi kudapan saat posyandu,” ulasnya.
Inovasi yang dilahirkan Wayas lewat olahan buah sukun dan daun kelor itu dari pengalamannya selama puluhan tahun menjadi kader posyandu. Pahit manis menjadi kader sudah pernah dia rasakan. Bahkan, dia pernah dikata-katai oleh warga yang tidak paham manfaat kegiatan posyandu.
Meski begitu, Wayas tetap bergerak mengikuti keyakinan hatinya. Dia berjalan ke kampung-kampung bersama bidan desa dengan membawa timbangan. Satu per satu rumah warga disambangi untuk menyampaikan misi kesehatan untuk keluarga masing-masing.
”Kalau ada warga yang tidak mau ke posyandu itu jadi PR saya untuk menyadarkan tentang pentingnya datang ke posyandu. Ketika sukses, itu menjadi kesan terindah bagi saya,” ungkap perempuan yang juga aktif di Muslimat NU.
Baca Juga: Coban Danyang Pasuruan, Surga Tersembunyi yang Menawarkan Berbagai Aktivitas Menarik
Awal mula ketertarikan Wayas menjadi kader posyandu karena minimnya pengetahuan masyarakat akan manfaat datang ke posyandu. Ditambah ada kejadian bayi meninggal diduga dipicu penyakit meningitis. Wayas tidak ingin kejadian serupa terulang lagi.
Karena tu, dia memilih untuk menjadi kader posyandu agar bisa mengambil bagian dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Upaya yang dilakukan Wayas tidak sia-sia. Sekarang dia membina ratusan posyandu di wilayah Puskesmas Omben.
”Kalau sekarang posyandu sudah dikunjungi masyarakat. Kalau dulu, jangankan datang, mengenal posyandu saja enggan,” paparnya. (*/luq)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti